Senin, 1 Juni 2026

Berita Nasional

Legislator PDIP Sebut Rumitnya Regulasi sebagai Penghambat Industri Tekstil! Nasional

Rantai perizinan yang panjang dan tidak efisien menjadi momok menakutkan bagi investasi

Tayang:
Editor: Feryanto Hadi
Dok. DPR RI
Wakil Ketua Komisi VII DPR dari Fraksi PDIP, Evita Nursanty mengkritik rumitnya birokrasi yang hambat industri tekstil 

 

Ringkasan Berita:
  • Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty menyoroti rumitnya birokrasi yang menghambat industri tekstil nasional.
  • Ia menyebut perizinan berbelit membuat investasi berisiko berpindah ke negara lain.
  • Industri juga dibebani mahalnya tarif listrik dan harga gas yang dinilai tidak merata.
  • Evita menilai regulasi pusat dan daerah yang tidak sinkron menambah ketidakpastian bagi pelaku usaha

 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA- Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Fraksi PDIP, Evita Nursanty menyatakan daya saing industri  tekstil nasional saat ini tidak hanya terhambat oleh ketersediaan tenaga kerja terampil, tapi juga oleh iklim usaha yang penuh hambatan, mulai dari birokrasi yang berbelit hingga ketimpangan harga energi.

“Dari industri sendiri kita mendengar banyak harapan, tetapi tantangannya masih sama. Ke mana pun kami pergi, kalau berkaitan dengan industri, keluhannya itu-itu saja, perizinan kita ruwet,” kata Evita dalam keteranganya, Kamis (28/5/2026)

Ia menilai, rantai perizinan yang panjang dan tidak efisien menjadi momok menakutkan bagi investasi.

Meskipun pemerintah telah menyediakan sistem perizinan terintegrasi secara daring, realitas di lapangan menunjukkan pelaku usaha tetap harus melewati jalur birokrasi yang berlapis-lapis.

“Kalau prosesnya rumit dan memakan waktu panjang, investor kita akan lari. Ini menjadi tantangan besar bagi kita semua untuk segera membenahinya,” ungkapnya.

Baca juga: Pimpinan Komisi VIII DPR Abidin Fikri Minta Tindak Tegas Dugaan Pungli saat Pelaksanaan Ibadah Haji

Selain masalah birokrasi, Evita menilai sektor energi juga menjadi beban berat yang menggerus daya saing tekstil nasional, mulai dari tingginya tarif listrik dan harga gas, serta ketimpangan harga yang aneh di lapangan.

Ia menyebut, berdasarkan laporan pelaku usaha, terdapat perbedaan harga gas yang mencolok antara perusahaan yang beroperasi di dalam kawasan industri dengan yang berada di luar kawasan.

“Masalahnya berputar di situ saja: listrik mahal, harga gas tinggi, dan suplai belum merata. Anehnya, perusahaan yang berada di dalam kawasan industri justru harus membayar gas lebih mahal daripada yang di luar kawasan,” ungkapnya lagi.

Ia pun menyatakan, hambatan industri tekstil kian diperparah oleh ego sektoral dan tidak sinkronnya regulasi antara pemerintah pusat dan daerah. Perbedaan aturan ini kerap memicu ketidakpastian hukum bagi para pelaku usaha.

“Di pusat peraturannya A, tetapi begitu di daerah peraturannya jadi B. Teman-teman di industri tentu bingung. Seharusnya segera dilakukan sinkronisasi dan harmonisasi aturan,” pungkas Evita.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved