Jumat, 8 Mei 2026

Banjir Bekasi

Banjir Setinggi 2,5 Meter Rendam Perkampungan di Margahayu Bekasi, 100 KK Terdampak

Yoga menuturkan, BPBD memperkirakan banjir akan berangsur surut apabila tidak ada tambahan kiriman air dari wilayah hulu.

Tayang:
Penulis: Rendy Rutama | Editor: Feryanto Hadi
Warta Kota/Rendy Rutama
BANJIR BEKASI - Banjir setinggi 2,5 meter merendam permukiman warga di Gang Mawar, RT 08 RW 03, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jumat (20/2/2026) sekira pukul 14.00 WIB. (TribunBekasi/RendyRutamaPutra). 

Ringkasan Berita:
  • Banjir setinggi 2,5 meter melanda Gang Mawar, Margahayu.
  • BPBD Kota Bekasi memantau debit air dan memperkirakan banjir surut sore hari jika tidak ada kiriman tambahan.
  • Air mulai masuk ke permukiman sejak siang hari, yakni sekira pukul 11.00 WIB usai kali Bekasi yang berada di sekitar lokasi meluap.

 

Laporan jurnalis TribunBekasi.com, Rendy Rutama Putra


WARTAKOTALIVE.COM, BEKASI TIMUR - Banjir setinggi 2,5 meter merendam permukiman warga di Gang Mawar, RT 08 RW 03, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jumat (20/2/2026) sekira pukul 14.00 WIB.

Tercatat lebih kurang 100 kepala keluarga (KK) terdampak banjir tersebut.

Satu warga, Gandi, mengatakan air mulai masuk ke permukiman sejak siang hari, yakni sekira pukul 11.00 WIB usai kali Bekasi yang berada di sekitar lokasi meluap.

Diketahui, banjir yang terjadi bukan disebabkan hujan lokal, melainkan kiriman air dari Sungai Cileungsi di wilayah Bogor.

“Kalau hujan di sini saja sebenarnya aman. Tapi kalau ada kiriman dari Bogor, walaupun di sini enggak hujan, tetap bisa banjir,” kata Gandi di lokasi, Jumat (20/2/2026).

Menurut Gandi, kejadian ini bukan yang pertama kali terjadi. 

Bahkan selama Februari 2026, banjir sudah terjadi hingga empat kali.

Kondisi tersebut diakauinya membuat warga mulai merasa lelah, meski sudah terbiasa menghadapi banjir.

Baca juga: Banjir Satu Meter Rendam Kebon Pala Jaktim, Warga Pilih Bertahan di Rumah

“Bosen ya bosen, capek ya capek. Tapi mau gimana lagi, sudah tinggal di sini dari tahun 2000,” ujarnya.

Gandi menuturkan, dampak terberat justru dirasakan setelah banjir surut.

Hal itu karena adanya Lumpur tebal yang tertinggal dan kerap menyulitkan warga saat membersihkan rumah.

“Yang berat itu pasca banjir, lumpurnya tebal. Bersih-bersihnya itu yang capek,” tuturnya.

Meski demikian, Gandi menyampaikan kalau warga tidak kesulitan saat proses evakuasi, karena sudah terbiasa menghadapi kondisi tersebut. 

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved