Imlek
Petilasan Ulama Jadi Bukti Harmoni Islam-Tionghoa di Kelenteng Tek Seng Bio Cikarang
Empat petilasan tokoh muslim berdampingan di altar kelenteng, simbol kerukunan lintas iman di Cikarang.
Penulis: Muhammad Azzam | Editor: Dwi Rizki
Ringkasan Berita:
- Di Kelenteng Tek Seng Bio, Cikarang Utara, terdapat empat petilasan tokoh muslim dalam satu altar, lengkap dengan tasbih hingga peci.
- Keberadaannya menjadi simbol kedekatan umat Islam dan Tionghoa sejak dulu.
- Umat Konghucu dan Islam sama-sama berdoa di sana, bahkan membaca Al-Fatihah.
- Kelenteng yang berdiri sejak 1825 ini terbuka bagi semua umat sebagai wujud kerukunan dan toleransi.
WARTAKOTALIVE.COM, BEKASI - Terdapat empat petilasan tokoh muslim di Kelenteng Tek Seng Bio di Jalan KH. Fudholi, Desa Karangasih, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Keberadaannya memiliki sejarah dan makna bagi umat Tionghoa Kabupaten Bekasi.
Pantauan Tribun Bekasi (Warta Kota Network), empat petilasan tokoh muslim itu yakni Mbah Raden Surya Kencana, Tay Lau Soe Aki Jenggot, Dji Lau Soe Imam Soedjono dan Mbah Sabin.
Empat petilasan tokoh muslim itu berada dalam satu altar dengan di dalamnya terdapat bantal, tasbih, songkok atau peci maupun kris khas jawa dan benda pusaka lainnya.
Di depan petilasan itu terdapat sesajen buah- buahan, dodol maupun dupa.
Bioking Kelenteng Tek Seng Bio, Suhenri mengatakan, keberadaan empat petilasan itu memilik sejarah dimana keemlat tokoh muslim itu sangat dekat dengan umat Tionghoa, khususnya umat Tionghoa Cikarang.
Baca juga: Ribuan Warga Kalibata City Minta Mediasi Pemerintah, Kenaikan IPL 2026 Tuai Protes
"Dari cerita lelehur tokoh muslim itu pernah datang dan bertemu dengan tokoh umat di sini," kata Suhenri saat diwawancarai
Pada sejarahnya juga, bukan hanya umat Konghucu yang melindungi kelestarian kelenteng namun juga umat Islam berperan besar dalam menjaga kerukunan dan keguyuban antar umat.
"Jadi di sini, banyak yang datang ibadah bukan dari kami aja, dari umat islam juga banyak yang datang. Mereka biasa berdoa di petilasan itu," katanya.
Tak hanya umat Islam, umat Konghucu juga membaca surat Al Fatihah di depan petilasan tersebut, termasuk diri.
Ia kerap membaca surat Al Fatihah saat di depan petilasan tokoh muslim tersebut.
"Walaupun bukan muslim tapi ketika tadi di petilasan buka baca Al-Fatihah. Kami doakan dia, semoga dia berbahagia kan ya. Kita kan gak tau yang namanya mahluk yang udah meninggal," kata dia.
Untuk itu, Kelenteng Tek Seng Bio Cikarang terbuka untuk semua umat beribadah. Dan banyak dari umat islam keturunan Tionghoa yang masih datang dan turut beribadah di kelenteng.
Bahkan, walaupun bukan keturunan Tionghoa ada banyak pula umat islam yang ritual beribadah di empat petilasan tokoh muslim tersebut.
"Bebas di sini, mau ibadah secara muslim atau apa. Mau baca Al Fatiha, ayat kursi gitu apa. Asal jangan rusah atau menganggu," beber dia.
| Tiga Gubernur Lintas Generasi Kompak Pakai Ceongsam di Glodok |
|
|---|
| Kirab Cap Go Meh Bekasi Gaungkan Doa Perdamaian, Berharap Konflik AS-Iran Berakhir |
|
|---|
| Cap Go Meh 2026 di Glodok Hari Ini, Cek Jadwal dan Rekayasa Lalu Lintasnya |
|
|---|
| Rayakan Imlek, LRT Jabodebek Bagi-bagi Souvenir dan Angpau di Stasiun |
|
|---|
| 15 Tahun Mengabdi di Vihara, Zaini Tetap Jalani Puasa Ramadan Meski Jadi Koki |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Harmoni-Islam-Tionghoa-di-Kelenteng-Tek-Seng-Bio.jpg)