Rabu, 8 April 2026

Kolom Trias Kuncahyono

Sahabatku, Jangan Ikut-ikut Tidak Waras

Sahabatku, apakah sekarang ini yang dinamakan Zaman Kalabendu? Yakni zaman seperti yang dahulu dimaksudkan oleh Pujangga Rakyat Ronggowarsito.

Istimewa
Ilustrasi 

WARTAKOTALIVE.COM - Sahabatku, apakah sekarang ini yang dinamakan Zaman Kalabendu? Yakni  zaman seperti yang  dahulu dimaksudkan oleh Pujangga Rakyat—begitu Bung Karno menyebut Kanjeng Ngabehi Ronggowarsito, yang hidup di abad kesembilan belas? 

Di zaman itu, roh-roh jahat gentayangan merasuki siapa saja, tanpa kecuali.

Bisa rakyat biasa dan juga bisa para pejabat tinggi negara; bisa wong cilik yang tidak dianggap dan bisa juga elite masyarakat yang terhormat dan merasa dirinya terhormat; bisa pengangguran dan juga bisa elite partai politik; bisa umat biasa saja dan bisa juga tokoh agama yang sehari-hari mengkhotbahkan nilai-nilai moral dan etika; bisa orang sipil dan juga aparat keamanan.

Siapa saja bisa dirasuki dan dikuasai roh jahat.

Karena itu tidak aneh, sahabatku, di zaman seperti itu, orang yang semula kelihatan baik, tiba-tiba karena kesambet, ketempelan, kesurupan roh jahat bisa menjadi jahat pula.

Bahkan, di zaman seperti itu, orang-orang yang memang sebelumnya baik, bisa menjadi jahat karena kutukan roh jahat.

Orang yang dahulu saleh atau sekurang-kurangnya kelihatan saleh, dalam zaman seperti itu, akan berobah total tidak lagi saleh atau hanya kelihatan saleh secara badaniah saja.

Dalam Serat Sabdatama, Ronggowarsito secara sepintas menyebut Zaman Kalabendu (dalam bentuk tembang Gambuh). Apa yang menandai munculnya Zaman Kalabendu?

Demikian Ronggowarsito menulis: Ilang budayanipun/ Tanpa bayu weyane ngalumpuk/  Sakciptane wardaya ambebayani/ Ubayane nora payu/ Kari ketaman pakewoh/ Lenyap kebudayaannya. 

Hilanglah kemuliaan akhlaknya/ Tiada lagi kebaikan, selalu buruk sangka/ Apa yang dipikir serba membahayakan/ Sumpah dan janjinya tiada yang percaya/  Akhirnya menanggung malu sendiri/ Lenyaplah keluhuran budinya.

Lenyapnya keluhuran budi itu bisa terjadi karena antara lain hilangnya etika sosial dalam pergaulan hidup bersama.

Dalam dunia pewayangan ada tokoh yang  sifat maupun perbuatannya tidak bisa dicontoh. Yakni Sengkuni, yang menjadi patih Kerajaan Astinapura.

Sengkuni gaya Yogya
Sengkuni gaya Yogya (Istimewa)

Sengkuni yang dalam ejaan Sansekerta disebut Shakuni (śakuni) adalah seorang tokoh antagonis dalam wiracarita Mahabharata.

Ia merupakan paman para Korawa dari pihak ibu, Gendari.

Sengkuni terkenal sebagai tokoh licik yang selalu menghasut para Kurawa agar memusuhi Pandawa.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved