Piramida Setinggi 25 Meter ini Sampah Milik Pemprov DKI, Mau Diapain Ya?
Selayaknya negara Mesir, di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat juga terdapat piramida.
Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor: Dian Anditya Mutiara
WARTA KOTA, BEKASI -- Selayaknya negara Mesir, di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat juga terdapat piramida.
Namun piramida ini bukan berbentuk batu yang disusun menjulang tinggi, hingga dijadikan makam raja dan sarana ibadah ketika zaman kuno.
Tapi, piramida setinggi 25 meter di sini adalah gundukan sampah milik Pemprov DKI Jakarta.
Meski terdapat ribuan tanaman, aroma sampah masih menyengat di lahan seluas 110,8 hektar ini. Sejak pengelolaan TPST diambil dari PT Godang Tua Jaya (GTJ) pada Juli 2016 lalu, DKI Jakarta langsung berbenah.
DKI langsung mengalokasikan anggaran untuk membeli puluhan alat berat, salah satunya ekskavator.
Keberadaan alat ini sangat penting untuk menata sampah menjadi piramida. Namun dari 60 ekskavator yang ada, mayoritas dalam keadaan rusak.
Hal ini yang membuat operator ekskavator kesulitan untuk membentuk gunungan sampah menjadi piramida.
"Alatnya banyak yang rusak, jadi kami kesulitan untuk menata sampah," kata Acep salah satu operator alat berat saat ditemui Warta Kota pada Rabu (15/11).
Saat ditemui, Acep sedang menata tanah merah yang baru saja didrop di dekat zona III TPST Bantargebang.
Tanah itu akan ditumpuk di gundukan sampah untuk menghindari longsor akibat musim hujan.
"Kalau tidak diberi tanah, gundukan sampah ini rawan longsor. Kemarin (Selasa, 14/11) saja longsor akibat hujan. Ini sedang kita tata kembali," ujar Acep.
Menurut Acep, untuk menata satu titik sampah menjadi piramida setidaknya membutuhkan delapan ekskavator.
Seluruh alat berat itu ditaruh dari tumpukan sampah yang paling bawah, hingga naik ke tumpukan atas.
Sampah-sampah akan diangkut secara estafet sehingga sampah yang baru saja dibuang akan berada di atas. "Kalau hanya dua begini, kita kesulitan bikin trap (jalur) ekskavator untuk ke atas," jelasnya.
Acep mengungkapkan, mayoritas ekskavator di sana dioperasikan hampir 24 jam setiap hari. Akibatnya beberapa komponen di bagian mesin menjadi lebih cepat aus atau usang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20171116-gundukan-sampah-di-bantargebang_20171116_075136.jpg)