Jumat, 10 April 2026

JELAJAH MUSEUM

Mendapat Undangan Perjanjian Damai, Diponegoro Malah Diringkus

Kisah para pahlawan dalam melawan Kolonial Belanda, selalu menjadi semangat buat kita, menjadi renungan betapa mahalnya harga diri bangsa.

|
KISAH para pahlawan dalam melawan Kolonial Belanda, selalu menjadi semangat buat kita, menjadi renungan betapa mahalnya harga diri bangsa. Salah satunya adalah perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda, di Yogyakarta.
 
Kejadian ini, diawali karena semakin mendalamnya campur tangan Belanda di dalam masalah-masalah kerajaan, sehingga menciptakan perpecahan di kalangan Kerajaan Yogyakarta. Selain itu, berkembangnya penyewaan tanah oleh swasta mengakibatkan tanah pertanian yang dapat digarap oleh rakyat menjadi bertambah sempit. Suasana penindasan dan pemerasan terhadap rakyat ikut mewarnai kehidupan waktu itu.
 
Pangeran Diponegoro adalah putra salah seorang istri Sultan Hamegkubuwono III, lahir Yogyakarta pada 11 November 1785. Ia kemudian tumbuh dewasa dalam suasana yang penuh kericuhan di kerajaan. Keadaan tersebut membentuk jiwa Pangeran Diponegoro menjadi seorang yang anti colonial. Sikap antipasti terhadap Belanda ini mendapat dukungan dari sebagian besar bangsawan yang merasa tidak puas dengan kericuhan di dalam kerajaan.
 
Pertentangan terbuka akhirnya meletus ketika Belanda memaksakan kehendaknya membuat jalan melalui tanah milik Pangeran Diponegoro di Tegalrejo pada tahun 1825. Bersama pengikutnya,  ia meninggalkan Tegalrejo dan menjadikan Selarong sebagai markas perjuangan melawan Belanda. 
 
Penggunaan strategi perang gerilya yang dilakukan Pangeran Diponegoro beserta pasukannya terbukti cukup berhasil karena pasukan Diponegoro mempu mendesak Belanda hingga ke daerah Pacitan. Berkat strategi yang tepat dan didukung oleh semangat juang yang tinggi serta kekuatan pasukan yang besar, akhirnya pihak Belanda mengalami kekalahan yang cukup besar.
 
Belanda yang mulai kewalahan menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro  berpikir dengan segala cara. Mereka akhirnya menerapkan strategi benteng stelsel, yaitu dengan mendirikan beberapa benteng di daerah yang sudah berhasil dikuasai dan menghubungkan tiap benteng dengan jalan sehingga akan memudahkan komunikasi.
 
Penggunaan strategi benteng stelsel oleh Belanda, nampaknya mampu mempersulit pergerakan pasukan Diponegoro sehingga setiap pasukan hanya bisa bertahan di daerah masing-masing. Banyak pasukan Pangeran Diponegoro yang tertangkap, terbunuh, maupun menyerahkan diri karena terus terdesak. Meskipun terus terdesak, Pangeran Diponegoro bersama para pendukung fanatiknya terus melakukan perlawanan.
 
Meskipun terus terdesak, Pangeran Diponegoro bersama para pendukung fanatiknya terus melakukan perlawanan meski pemerintah Belanda menjanjikan uang sebesar 20.000 ringgit bagi siapa saja yang berhasil menangkapnya hidup atau mati. Jendral De Kock sebagai panglima tertinggi pasukan Belanda terus berupaya membujuk Pangeran Diponegoro agar mau berunding dengan Belanda. 
 
Akhirnya Pangeran Diponegoro menerima tawaran tersebut dan perundingan dilaksanakan di Magelang, tanggal 28 Maret 1830. Namun ketika proses perundingan sedang berlangsung, secara licik Belanda menangkap Pangeran Diponegoro. Ia lalu  dibuang ke Manado yang kemudian dipindahkan ke Makasar hingga akhir hayatnya.
 
Untuk mengenang kegigihan perjuangan Pangeran Diponegoro, Museum Keprajuritan Indonesia yang terletak di komplek Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur telah mengabadikannya dengan sebuah patung yang terletak di area halaman tengah museum. Patung Pangeran Diponegoro tersebut berjejer dengan beberapa patung pahlawan lain seperti Tuanku Imam Bonjol, Sultan mahmud Badaruddin, Nyi Ageng Serang dan lain-lain. 
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved