JELAJAH MUSEUM
Kala Dua Kerajaan Besar Berkuasa di Jakarta
Dalam catatan sejarah, Jakarta sebagai kota terbesar di Indonesia, pernah menjadi wilayah kekuasaan dua kerajaan besar, yakni Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda.
Tamansari, Wartakotalive.com
Berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta, dijamin tidak akan pernah rugi. Di tempat ini, kita bisa banyak tahu mengenai sejarah kota Jakarta, dari masa prasejarah hingga masa sekarang. Jika berada di salah satu ruangan dalam museum itu, yakni ruang koleksi masa klasik, Anda akan menemukan informasi bahwa Jakarta dulunya merupakan wilayah kekuasaan kerajaan.
Dalam catatan sejarah, Jakarta sebagai kota terbesar di Indonesia, pernah menjadi wilayah kekuasaan dua kerajaan besar, yakni Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda. Karena itu, jejak perjalanan Jakarta tak bisa terlepas dari kedua kerajaan itu.
Jejak pertama masa sejarah berasal dari abad 5 Masehi. Berdasarkan penjelasan sejarah, pada masa itu, di Jakarta sudah terdapat bentuk masyarakat yang teratur dengan bentuk pemerintahannya bercorak kerajaan Hindu. Kerajaan pertama ini bernama Tarumanegara. Rajanya: Purnawarman.
Prasasti yang mendukung keberadaan Tarumanegara telah ditemukan di kawasan Bogor, Jakarta dan Pandeglang. Nyaris semua prasasti ditulis menggunakan huruf Pallawa dalam bentuk puisi berirama Anustubh (sajak) dan berbahasa sansekerta. Prasasti tersebut kini bisa disaksikan di ruang pamer koleksi masa klasik di Museum Sejarah Jakarta.
Tak hanya itu. Selain prasasti, bukti kehadiran Kerajaan Tarumanegara juga banyak diperoleh dari sumber berita asing yang pernah berkunjung ke kerajaan ini. Berita pertama berasal dari Fahsien, ulama beragama Buddha yang terdampar di Tarumanegara pada tahun 414 Masehi. Saat itu, ia hendak pulang ke Cina dari perlawatannya tempat suci agama Buddha di India.
Berita lain berasal dari Dinasti Soui yang menyebutkan pada 528 Masehi, 535 Masehi, 666 Masehi, ada utusan Tolomo datang ke negeri Cina. Menurut Ir. JL Moens, yang dimaksud dengan Tolomo ialah Taruma.
Akhir kekuasaan Kerajaan Tarumanegara diperkirakan pada abad ke-7, karena sejak saat itu tidak ada berita-berita yang bisa dihubungkan dengannya. Sekitar 900 tahun kemudian atau awal abad 16 Masehi, kawasan yang kini bernama Jakarta kembali muncul dalam literatur sejarah.
Pengelana asal Portugis, Tome Pires yang datang ke kawasan ini sekitar tahun 1512-1515, menyebutkan bahwa Calapa (Sunda Kelapa) merupakan pelabuhan yang ramai dan merupakan salah satu dari enam pelabuhan besar Kerajaan Qumda (Sunda). Lima pelabuhan lainnya adalah Bantam (Banten), Pomdam (Pontang), Chequede (Cigede), Tamgaram (Tangerang) dan Chimano (Cimanuk).
Pires juga melaporkan bahwa ibukota Kerajaan Sunda yang disebut "Dayo" (dayeuh) dapat ditempuh dalam dua hari perjalanan dari Calapa. Lokasi dayeuh yang dimaksud diyakini berada di wilayah Bogor. Apabila mengacu kepada prasasti Batutulis (1133 M), maka diprediksi Kerajaan Sunda sudah ada sejak abad 12.
Selain berupa prasasti dan catatan dari para nara sumber asing, pengaruh budaya India di Jakarta juga tampak pada bidang seni pahat, dengan bukti ditemukannya beberapa buah patung Wisnu Cibuaya 1 dan 2, patung Wisnu yang ditemukan di daerah Cikini, patung Ganesha di Mampang Prapatan, Durga Kali ditemukan di Tanjung Priok dan Rajarsi yang juga ditemukan di wilayah Jakarta.
FERYANTO HADI/REN