Lipsus Warta Kota
Pedagang Bunga Rawa Belong Sejak 1997, Pilih Bertahan Meski Harga Anjlok
Selama 28 tahun berjualan bunga, Budi selalu menjajakan bunga segar yang baru dipetik dari perkebunan.
Penulis: Nuri Yatul Hikmah | Editor: Dian Anditya Mutiara
WARTAKOTALIVE.COM, PALMERAH — Tangan terampil Budi (43) kala memasukkan puluhan tangkai mawar ke dalam bungkusan kertas, seolah memperlihatkan kiprahnya yang sudah lama berjualan bunga di Pasar Rawa Belong, Jakarta Barat.
Dengan cekatan pula, budi memangkas ujung batang bunga dan memasukkannya ke dalam bak berisi air, agar bunga-bunga jualannya tahan lama.
Selama 28 tahun berjualan bunga, Budi selalu menjajakan bunga segar yang baru dipetik dari perkebunan.
Sehingga, menjaga agar bunga tidak layu sebelum sampai ke tangan pembeli adalah tantangan yang harus dihadapi Budi setiap harinya.
Sebab apabila layu, bunga-bunga tersebut harus dibuang Budi maka secara otomatis akan menelan kerugian.
Baca juga: Pasar Citayam Kini Makin Modern dan Megah, Ini Kata Pedagang
"Saya dari 1997. Dulu (jualan) masih di seberang sana (Jalan Sulaiman), baru dipindah ke sini," ujarnya saat ditemui Warta Kota, Kamis (7/8/2025).
Menurutnya, pada tahun tersebut, baru ada segelintir pedagang yang berjualan bunga termasuk Budi.
"Dulu paling cuma 5-10 orang aja, termasuk saya. Sekarang sudah enggak terhitung," katanya.
Jenis bunga yang dijajakan Budi pun bervariasi, mulai dari mawar, pikok, aster, lily, dan masih banyak lagi.
Tak ada alasan khusus bagi Budi menjadi penjual bunga.
Baca juga: Dikenal sebagai Kampung Betawi, Begini Sejarah Hadirnya Rawa Belong
Ia hanya mengikuti naluri hatinya dan bertahan hingga saat ini demi menghidupi istri dan anaknya.
Namun demikian, Budi tak menampik jika bisnisnya tak selamanya berjalan mulus.
Pada pandemi Covid-19 misalnya, ia terpaksa absen berjualan selama empat bulan lamanya.
Tak ayal, hal itu membuat penghasilannya merosot hingga 50 persen.
"Ada naik turun. Waktu covid saya libur dulu sekitar 4 bulan di rumah. Udah pasti merosot (penghasilan) ada 50 persen," kata Budi.
| Harga Plastik di Jakarta Naik hingga 50 Persen, Pedagang Terdampak Konflik Timur Tengah |
|
|---|
| Harga Plastik Naik, Guru Besar UI Sebut Dipicu Konflik Global dan Minyak Mahal |
|
|---|
| Dampak Harga Plastik, Warung Mulai Naikkan Harga dan Kurangi Porsi |
|
|---|
| TPS Liar Menjamur di Depok dan Tangsel, Warga Terganggu Bau Sampah |
|
|---|
| Nikah di KUA, Jangan Rusak Kebahagiaanmu Hanya untuk Penuhi Ego Orang Lain |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Pasar-Rawa-Belong14577.jpg)