Jumat, 17 April 2026

Wawancara Eksklusif

Gubernur Banten Andra Soni Pernah Jadi Kurir Dokumen dan Kuli Bangunan

Andra Soni menjalani hidup yang sederhana sebelum kesehariannya berubah drastis lantaran menjabat Gubernur Banten.

Penulis: Ikhwana Mutuah Mico | Editor: Eko Priyono
TribunTangerang/Ikhwana Mutuah Mico
KARIER GUBERNUR - Gubernur Banten terpilih Andra Soni saat ditemui TribunTangerang.com di kediamannya kawasan Ciledug, Tangerang Selatan, Jumat (17/1/2025). Andra Soni dilantik, Senin (20/1/2025), sebagai Gubernur Banten periode 2025-2030. 

Laporan Wartawan TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico

WARTAKOTALIVE.COM, PALMERAH - Andra Soni ditetapkan sebagai Gubernur Banten terpilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Banten dalam rapat paripurna yang berlangsung, Rabu 15 Januari 2025.

Dua hari berselang, Jumat (17/1/2025), tim TribunTangerang.com (Warta Kota Network) berkesempatan mewawancarai Andra Soni secara eksklusif di kediamannya kawasan Ciledug, Tangerang Selatan, Banten.

Pada kesempatan tersebut, Andra Soni menceritakan perjalanan hidupnya. Ia mengaku pernah bekerja sebagai tukang bangunan untuk membiayai kuliah di Politeknik Swadharma.

Selain itu ia pernah menekuni profesi sebagai messenger atau kurir dan kemudian beralih menjadi sales tanpa gaji. Seperti apa kisah lengkapnya? Berikut hasil wawancaranya:

Bagaimana kehidupan Andra Soni dan pekerjaan orangtua sebelum menjadi Gubernur Banten terpilih?

Saya punya 4 kakak terus saya punya 1 adik. Saya lebih banyak sama bapak karena jarak saya sama adik terlalu jauh. Ibu saya yang mengurus adik, sementara bapak sering membawa saya ketika ada pekerjaan. Bapak sebenarnya seorang petani yang menggarap lahan milik orang lain. Hingga akhirnya, ketika saya berusia sekitar 5-6 tahun, bapak memutuskan pergi ke Malaysia. Di Malaysia bapak saya kerja di perkebunan kelapa sawit. Kami di sana enggak punya dokumen, enggak punya paspor, pokoknya masuknya secara ilegal. Tapi saya boleh sekolah di sana, di dalam perkebunan kelapa sawit, bukan di kota, di kebun kelapa sawit.

Kebun itu milik siapa?

Itu milik Tabung Haji. Tabung Haji adalah perusahaan di Malaysia yang mengelola dana haji, orangtua saya kerja di situ. Setahun kemudian, ibu saya, adik saya, dan beberapa kakak saya ikut tinggal di sana bersama bapak. Saya tinggal di sana sampai kelas 5 SD. Sementara itu, yang lain tidak ada yang sekolah, kecuali adik dan saya yang bersekolah di sekolah Kebangsaan. Sekolah Kebangsaan, bukan SD (Sekolah Dasar) tapi Sekolah Kebangsaan. Sekolah Kebangsaan Larang Kota Bahagia. Namanya Larang Kota Bahagia. 

Sampai kelas 5? 

Sampai kelas 5 SD karena diinformasikan saya tidak bisa lanjut ke SMP (Sekolah Menengah Pertama) karena harus di tempat lain agak menuju kota, beda kecamatan.

Perkembunan sawit juga? 

Iya, perkebunan sawit dan itu harus boarding, makanya saya tidak bisa karena orangtua saya tidak ada dokumen. Kalau orangtua saya punya dokumen, baru boleh. Walaupun warga negara Indonesia.

Karena enggak bisa masuk SMP terus bagaimana?

Naik kelas lima, saya dibawa kakak ke Jakarta. Ibu pengin saya sekolah karena kan kakak-kakak saya tidak ada yang lulus SMA. 

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved