Berita Jakarta
Perubahan Cuaca Extrem Bisa Picu Gangguan Kesehatan Kronis, Begini Pencegahanya
Saat ini cuaca ekstrem sedang melanda Jabodetabek, panas terik memicu suhu udara mencapai 39 derajat celcius. Penyakit pun mengintai.
Penulis: Nuri Yatul Hikmah | Editor: Valentino Verry
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Fenomena perubahan iklim yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, rupanya bisa berdampak pada terganggunya kesehatan, baik akut maupun kronis.
Diungkap oleh praktisi kesehatan, Dokter Ngabila Salama, perubahan iklim ekstrem bisa memicu polusi udara.
Dengan begityu, permasalahan kesehatan akut seperti ISPA, Pneumonia, hingga alergi kulit, dimungkinkan terjadi dan menjadi bom waktu.
Baca juga: Peringatan Dini Cuaca Ekstrem 13–15 Maret 2025, BPBD Imbau Warga Jakarta Waspada Potensi Banjir
"Kronisnya, bisa menyebabkan malnutrisi, masalah tumbuh kembang, kardiovaskuler (hipertensi, penyakit jantung), kanker, asma, PPOK (paru obstruktif kronis)," mata Ngabila saat dikonfirmasi, Selasa (6/5/2025).
Masalah lain yang mungkin timbul juga terkait air bersih.
Kesulitan air bersih, bisa memicu berbagai penyakit seperti thypoid, diare, leptospirosis, dan penyakit kulit.
Sementara cuaca panas ekstrem, bisa mengakibatkan heat stroke.
Baca juga: Warga Diminta Waspada, BPBD Jakarta Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem hingga Akhir Pekan Ini
"Jika cuaca lembab, bisa menyebabkan malaria, cikungunya, DBD, penyakit potensial KLB lainnya terutama yang dibawa vektor hewan (nyamuk dan lain-lain)," ungkap Ngabila.
Untuk mengatasi ini, ada beberapa rekomendasi yang bisa dilakukukan oleh sejumlah pihak, termasuk pemerintah.
Pertama, kata Ngabila, perlu dilakukan riset atau studi kausatif dan molekular terhadap dampak kronis kesehatan seperti kanker, kardiovaskular, mental emosional, kognitif, tumbuh kembang, dan lain-lain.
"Kedua, terus perbaiki data sampai level mikro untuk rekomendasi kebijakan," kata Ngabila.
"Tiga, kolaborasi masif lintas sektor dan pentahelix seperti best practice website DBDklim sejak 2016 BMKG dengan Dinkes Provinsi DKI Jakarta untuk menentukan prediksi jumlah kasus DBD di kabupaten/kota per minggu berdasarkan Relative Humidity atau kelembaban," lanjurnya
Menurut dia, kolabarasi semacam itu sudah direplikasi di Provinsi Bali.
"Kedepannya semoga bisa sampai level kecamatan dan juga bisa untuk prediksi kasus ISPA atau Pneumonia berbasis data polusi udara misalnya PM 2.5," jelasnya.
Terakhir, Ngabila memandang perlu ada sosialisasi ke masyarakat dan ajakan partisipasi aktif menjaga lingkungan dan membatasi emisi, baik rumah tangga, industri, transportasi, dan lain-lain.
Baca berita WartaKotalive.com lainnya di Google News
Ikuti saluran WartaKotaLive.Com di WhatsApp: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaYZ6CQFsn0dfcPLvk09
| Penataan Jalan HR Rasuna Said Capai 55 Persen, Ditarget Rampung Juni 2026 |
|
|---|
| Sambut Kedatangan Pramono, Kolong Flyover Pasar Rebo Ditata Ulang |
|
|---|
| Lapangan Multifungsi akan Hadir, Harapan Baru Atasi Tawuran di Manggarai Jaksel |
|
|---|
| Penertiban di Instalasi Pengolahan Air Pejompongan, PAM Jaya Amankan Aset dan Layanan Air |
|
|---|
| Satu dari Tiga Tersangka Kasus ART Lompat dari Lantai 4 di Benhil Seorang Pengacara |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20180910-ilustrasi-cerah-terik_20180910_070206.jpg)