Berita Jakarta

Menengok Pameran 'Habis Gelap Terbitlah Terang' Karya Sasya Tranggono, Ada Pesan untuk Perempuan

Momen peringatan Hari Kartini, menjadi penanda dibukanya pameran tunggal 'Habis Gelap Terbitlah Terang' karya Sasya Tranggono di Menara Kompas.

Penulis: Nuri Yatul Hikmah | Editor: Junianto Hamonangan
Warta Kota/Nuri Yatul Hikmah
HARI KARTINI - Momen peringatan Hari Kartini, menjadi penanda dibukanya pameran tunggal bertajuk 'Habis Gelap Terbitlah Terang' karya Sasya Tranggono, di lantai 8 Menara Kompas Gramedia, Palmerah, Jakarta Barat, Senin (21/4/2025).  

WARTAKOTALIVE.COM, PALMERAH — Momen peringatan Hari Kartini, menjadi penanda dibukanya pameran tunggal bertajuk 'Habis Gelap Terbitlah Terang' karya Sasya Tranggono, di lantai 8 Menara Kompas Gramedia, Palmerah, Jakarta Barat, Senin (21/4/2025). 

Pameran bernuansa feminim dengan goresan merah muda, biru, ungu, dan warna-warna cantik lainnya, mengundang antusias yang luar biasa.

Selain dihadiri oleh perempuan hebat dari berbagai bidang dan negara, pameran ini juga secara langsung dibuka oleh Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), Veronica Tan. 

Berdasarkan pantauan Warta Kota di lokasi, nampak pameran ini memperlihatkan karya tangan yang ciamik dengan perpaduan antara lukisan, manik-manik, kain, dan lain sebagainya yang ditata sedemikian rupa. 

Dijelaskan oleh Ilham Faiq selaku Kurator pameran Habis Gelap Terbitlah Terang, karya Sasya Tranggono ini membahasakan energi pembebasan terhadap perempuan di tengah budaya patriarki.

Di dalamnya, ada eksplorasi simbolisme pemberdayaan perempuan melalui tiga zona simbolik, yaitu Bunga, Kupu-kupu, dan Wayang. 

"Lukisan-lukisan ini bukan sekadar estetika visual terapi sarat makna filosofis yang menggambarkan transformasi kehidupan perempuan," kata Ilham saat ditemui di lokasi, Senin.

Pada zona pertama, Sasya Tranggono menghadirkan ruang pameran dengan menyimbolkan bunga sebagai feminitas, kehidupan, dan harapan.

Baca juga: Gabung Yuk, Lebaran Betawi 2025 Siap Digelar di Monas 25–27 April, Terbuka untuk Semua Etnis

Menurut Ilham, dengan pendekatan ecofeminism, bunga-bunga yang digambarkan Sasya bukan hanya representasi keindahan, namun juga sebagai bentuk resistensi perempuan terhadap dominasi budaya patriarki yang kerap mengasosiasikan perempuan dengan kelemahan atau kepasifan.

"Bunga dalam karya Sasya adalah subjek aktif yang berkembang secara dinamis dan menggambarkan siklus kehidupan perempuan dari masa muda hingga dewasa," ungkap Ilham.

"Bunga juga bisa dilihat sebagai simbol kesadaran perempuan atas kekuatan internalnya yang tersembunyi, mekar dalam keindahan dan keteguhan menentang stereotipe sosial yang mengekang," imbuhnya.

Ilham bercerita, simbol bunga dalam karya Sasya mencerminkan metamorfosis pribadi yang sangat intim. 

Di mana, Saya mengangkat pengalaman pribadinya selama tinggal di Belanda, termasuk perubahan media lukisan dari cat minyak ke cat air. 

Pergeseran media lukis tersebut secara simbolik mencerminkan peralihan paradigma kehidupan perempuan Sasya, dari keterbatasan yang ditentukan oleh faktor eksternal menuju pembebasan diri yang penuh kesadaran akan lingkungannya.

Kedua, terdapat zona "Kupu-kupu" yang mengartikulasikan proses transformasi atau metamorfosis yang dialami perempuan sepanjang kehidupannya.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved