Rabu, 29 April 2026

Berita Video

VIDEO Sejarah Masjid Jami Matraman, Bekas Markas Pasukan Mataram

Masjid Jami Matraman merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini pertama kali berdiripada tahun 1837 Masehi

Tayang:

WARTAKOTALIVE.COM MENTENG — Masjid Jami Matraman merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini pertama kali berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka, yaitu pada tahun 1837 Masehi. Masjid ini menyimpan jejak sejarah yang panjang. 

Masjid Jami Matraman terletak di Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Kala itu, fungsinya tidak hanya sebagai tempat ibadah, melainkan juga markas pasukan Mataram Islam berbentuk gubuk atau musala untuk memantau pergerakan pasukan Belanda. 

Ditemui Wartakotalive.com Minggu (2/3/2025), Pengurus Remaja Masjid Jami Matraman Abizar Muslim Faqih mengatakan cerita diawali pada saat itu kerajaan Mataram dipimpin oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, yang akrab dipanggil Syekh Kuro.

“Dahulu ketika penjajahan Belanda atau VOC ada Kerajaan Mataram dipimpin oleh Sultan Agung (Hanyokrokusumo). Beliau mengutus muridnya untuk singgah di Batavia untuk melawan penjajah,” jelas Abizar saat ditemui di Masjid Jami Matraman, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (2/3/2025).

“Dulu dibentuknya seperti musala atau langgar untuk para prajurit Sultan Agung ibadah dan juga bukan hanya ibadah tapi juga tempat menyusun strategi,” imbuhnya.

Baca juga: Tak Hanya Atur Lalin, Polantas Polda Metro Jaya Berbagi Takjil Selama Ramadan, Ini Lokasinya

Abizar juga mengatakan, karena posisinya Masjid Jami Matraman strategis yang berada di dekat sungai Ciliwung. Jadi, ketika akan ada musuh yang datang langsung dihajar.

Singkat cerita, bertahun-tahun berlalu, kemudian Masjid Jami Matraman direnovasi hingga menjadi tempat ibadah yang luas dari sebelumnya. Pengaruhnya pasukan Mataram ke Batavia membuat Masjid ini akhirnya dikenal sebagai Masjid Matraman. 

Pria yang mengenakan baju koko hijau dan peci putih ini menjelaskan, penamaan Matraman pun terdapat dua versi. Keduanya karena pelafalan yang keliru yang kerap sulit diucapkan baik dari penduduk lokal maupun orang Belanda yang dulu pernah bermukim di Batavia. 

"Bule-bule yang dulu di sini kan kangen kemari, mereka ingin ke sini masjid yang pinggir kali, jadi rata-rata mereka ngomongya 'Matraman' artinya orang-orang Mataram. Ada orang Betawi tidak bisa ngomong Mataram jadi Matraman," ucap dia.

Abizar mengatakan, ornamen-ornamen yang masih dipertahankan hingga sekarang ini adalah jendela kuning. Jendela tersebut bergaya Hindia Belanda.

Baca juga: Selama Ramadan 2025, ASN Pemkot Bekasi Pulang Lebih Cepat Biar Lebih Khusyuk

“Sebenarnya masjid pada umumnya saja, namun di sini yang masih dipertahankan ya jendelanya,” ucap dia.

Wartakotalive.com berkesempatan mengunjungi masjid yang bisa menampung sekitar 1.000 jamaah itu, terlihat tak ada yang spesial di bagian depannya. Hanya terpampang tulisan "Masjid Jami' Matraman" beserta tulisan berbahasa Arab di atasnya.

Sebuah menara yang menjulang di bagian depan masjid ini pun tak memberikan kesan adanya keistimewaan. Pasalnya, banyak juga masjid-masjid lain yang memiliki menara tinggi.

Namun, masjid tersebut tengah proses renovasi. Ketika memasuki halaman depan masjid terdapat besi, pasir, batu kerikil dan sebagainya. Bahan-bahan tersebut akan digunakan untuk renovasi.

Adapun renovasi telah dilakukan pada Desember 2024 dan ditargetkan akan selesai 5 tahun mendatang.

Masuk ke bagian dalam masjid, kesan 'biasa' pun masih terasa. Semua perlengkapan masjid tak berbeda jauh dengan masjid umum biasanya.

Sajadah panjang hijau, mimbar kayu dengan kaligrafi hingga jam digital pengingat sholat terpampang. Tak ada gambar bersejarah terpajang, tak ada teks yang menjelaskan asal muasal masjid ini, semua tampak 'polos'.(m27)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved