Berita Daerah
Tusuk Sate Maranggi: Kisah Hidup dan Harapan Warga Cilamaya Wetan Karawang
Sinergi PUPUK dan JSP: Penyerahan Mesin Pembersih Bambu untuk Pemberdayaan Warga Cilamaya
Penulis: Muhammad Azzam | Editor: Dwi Rizki
WARTAKOTALIVE.COM, KARAWANG - Siapa yang tidak mengenal Sate Maranggi, terutama milik Hj Yetty di Purwakarta, Jawa Barat?
Setiap kali pengunjung menikmati sate di tempat ini, mereka akan terpesona oleh ramainya pembeli dan delapan panggangan sate yang panjang, dipenuhi dengan sate siap dibakar.
Menurut Ahmad, salah satu karyawan, Sate Maranggi Hj Yetty bisa menghabiskan satu ton daging sapi dan kambing dalam sehari.
Jumlah ini meningkat drastis saat musim libur, mencapai 2 ton, atau lebih dari 50.000 tusuk sate pada hari-hari tertentu.
Dengan harga Rp 5.000 per tusuk, Sate Maranggi menjadi salah satu kuliner yang sangat diminati.
Sate maranggi tidak hanya terkenal di Purwakarta, tetapi juga banyak dijumpai di Kabupaten Karawang, terutama di wilayah Cilamaya Wetan.
Di sana, penjual sate menjajakan dagangannya di restoran, kios sederhana, hingga menggunakan gerobak panggul yang berkeliling.
Namun, di balik kesuksesan tersebut, ada tantangan yang dihadapi para pengrajin tusuk sate.
Dalam acara penyerahan mesin pembersih bambu di Kantor Desa Cilamaya pada Kamis (19/9/2024), diinisiasi oleh Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) dan PT Jawa Satu Power (JSP), harapan muncul bagi para pengrajin tusuk sate di wilayah ini.
Kegiatan ini merupakan inisiatif dari Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) bersama PT Jawa Satu Power (JSP) melalui program inovatif bernama Livelihood Restoration Project (LERES).
PUPUK dan PT JSP, yang merupakan joint venture antara PT Pertamina Power Indonesia (PPI), hadir untuk mendukung pengrajin tusuk sate tradisional di wilayah Kecamatan Cilamaya Wetan.
Ternyata, satu kampung di daerah tersebut memiliki banyak pengrajin tusuk sate yang biasa memasok produk mereka untuk penjual sate maranggi.
Kepala Desa Cilamaya, Ali Hamidi, menyebutkan bahwa di desanya terdapat dua dusun, yakni Dusun Tanggul Pertamina dan Karanganyar, yang menjadi pusat pengrajin tusuk sate.
Aktivitas ini sudah ada sejak tahun 1970 dan dilakukan secara turun-temurun.
Namun, pendapatan mereka seringkali tidak menentu.
| Kolaborasi HIPMI dan OJK Sumsel, Gubernur Lepas Ekspor Perdana Produk Turunan Kelapa Rp1,6 Miliar |
|
|---|
| Pemprov Sultra Tegaskan Penataan Kawasan Eks MTQ Kendari Agar Ruang UMKM Terjaga dengan Baik |
|
|---|
| Nihi Rote dan Rote Hospitality Academy Resmi Dibuka, Dorong Kesejahteraan Warga Lokal |
|
|---|
| Liburan Murah ke Purwakarta, Naik KRL dan KA Lokal Cuma Rp8.000 |
|
|---|
| Seleksi Langsung 27 Pejabat Baru, Gubernur Sultra Tegaskan Komitmen Sistem Meritokrasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Warga-Cilamaya-Wetan-Kabupaten-Karawang-membuat-tusuk-sate.jpg)