Bisnis
Polusi Udara Mengkhawatirkan, Bank DBS Indonesia dan Nafas Pasang 50 Sensor Kualitas Udara
Bank DBS Indonesia berkolaborasi dengan startup Nafas memasang 50 sensor kualitas udara yang dapat menghasilkan data secara real-time dan akurat.
Penulis: Mochammad Dipa | Editor: Mochamad Dipa Anggara
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Polusi udara masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diatasi di Indonesia.
Kualitas udara di kota besar seperti Jakarta, cukup mengkhawatirkan.
Berdasarkan data startup penyedia alat ukur kualitas udara, yakni Nafas menyebutkan, bahwa kualitas udara di DKI Jakarta pada Januari-Juni 2024 menunjukkan rata-rata konsentrasi partikulat atau PM2,5 sebesar 34 mikrogram per meter kubik.
Data ini diambil berdasarkan lebih dari 100 sensor kualitas udara yang dipasang oleh Nafas di seluruh wilayah Jabodetabek.
Co-Founder & CEO Nafas Indonesia, Nathan Roestandy mengatakan bahwa salah satu cara menangani isu kualitas udara adalah dengan menyediakan data yang lebih komprehensif dan real time dengan adanya lebih banyak alat sensor di berbagai titik.
“Polusi udara memang bukanlah permasalahan baru yang dihadapi ibu kota, dan untuk menyikapinya, dibutuhkan kontribusi seluruh pihak,” ujar Nathan dalam media briefing bersama Bank DBS Indonesia dan Nafas di DBS Tower, Kuningan, Jakarta, Selasa (20/8/2024).
Menurut Nathan, data yang dihasilkan dari sensor kualitas udaratersebut sangat berguna untuk nantinya para pemangku kepentingan dapat mengambil kebijakan yang tepat.
"Dengan adanya alat pengukur udara, kami optimis dapat memberikan gambaran data yang lebih lengkap terhadap kondisi udara diberbagai lokasi agar pemerintah atau instansi terkait dapat membuat kebijakan atau strategi yang lebih baik untuk mengatasi permasalahan ini," ungkapnya.
Adapun sensor kualitas udara luar ruangan yang dipasang oleh Nafas bekerja dengan cara menangkap partikel-partikel kecil, gas, temperatur, hingga kelembapan.
Kemudian sampel tersebut dapat diambil hingga 20 kali setiap menit untuk kemudian diolah dan dikalibrasi. Setelah itu, data ditampilkan di aplikasi Nafas dan diperbaharui setiap 10-20 menit.
Kolaborasi dengan DBS pasang 50 sensor kualitas udara
Oleh karena itu, sejak Nafas diluncurkan pada 2020, pihaknya terus berupaya meningkatkan kesadaran tentang bahaya polusi udara dan pentingnya alat sensor kualitas udara.
Melihat begitu pentingnya pemasangan alat sensor kualitas udara tersebut, Bank DBS Indonesia pun menjalin kolaborasi dengan Nafas untuk memasang 50 sensor kualitas udara yang dapat menghasilkan data secara real-time, terlokalisasi, dan akurat.
Pemasangan dilakukan di beberapa lokasi, termasuk di tempat Bank DBS Indonesia beroperasi.
Pada akhir September 2024, pihaknya menargetkan pemasangan lebih dari 250 alat sensor di seluruh 17 kota di Indonesia.
| 1.500 Merek Global Siap Ramaikan Pameran Industri Tekstil dan Garmen Indo Intertex & Inatex 2026 |
|
|---|
| Sertifikasi PLBS Jadi Strategi Perusahaan Perkuat Bisnis Syariah yang Transparan dan Berkelanjutan |
|
|---|
| Jelang Lebaran, GoPay Hadirkan Tarik Tunai Saldo Tanpa Kartu di ATM BRI dan bank bjb |
|
|---|
| Momentum Ramadan Dongkrak Penjualan Kulkas Sharp hingga 50 Persen |
|
|---|
| inDrive Klaim Perkuat Kesejahteraan Mitra Pengemudi dengan Penerapan Komisi 10–11 Persen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Media-briefing-bersama-Bank-DBS-Indonesia-dan-Nafas.jpg)