Kamis, 16 April 2026

Bisnis

Polusi Udara Mengkhawatirkan, Bank DBS Indonesia dan Nafas Pasang 50 Sensor Kualitas Udara

Bank DBS Indonesia berkolaborasi dengan startup Nafas memasang 50 sensor kualitas udara yang dapat menghasilkan data secara real-time dan akurat.

Penulis: Mochammad Dipa | Editor: Mochamad Dipa Anggara
Wartakotalive.com/Mochammad Dipa
(Kiri-kanan): Co-founder & CEO NAFAS Indonesia Nathan Roestandy, Consumer Banking Director PT Bank DBS Indonesia Melfrida Gultom, dan VP of Impact Beyond Banking PT Bank DBS Indonesia Riany Agustina berbincang-bincang dalam acara media briefing bersama Bank DBS Indonesia dan Nafas di DBS Tower, Kuningan, Jakarta, Selasa (20/8/2024). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Polusi udara masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diatasi di Indonesia. 

Kualitas udara di kota besar seperti Jakarta, cukup mengkhawatirkan.

Berdasarkan data startup penyedia alat ukur kualitas udara, yakni Nafas menyebutkan, bahwa kualitas udara di DKI Jakarta pada Januari-Juni 2024 menunjukkan rata-rata konsentrasi partikulat atau PM2,5 sebesar 34 mikrogram per meter kubik.

Data ini diambil berdasarkan lebih dari 100 sensor kualitas udara yang dipasang oleh Nafas di seluruh wilayah Jabodetabek.

Co-Founder & CEO Nafas Indonesia, Nathan Roestandy mengatakan bahwa salah satu cara menangani isu kualitas udara adalah dengan menyediakan data yang lebih komprehensif dan real time dengan adanya lebih banyak alat sensor di berbagai titik.

“Polusi udara memang bukanlah permasalahan baru yang dihadapi ibu kota, dan untuk menyikapinya, dibutuhkan kontribusi seluruh pihak,” ujar Nathan dalam media briefing bersama Bank DBS Indonesia dan Nafas di DBS Tower, Kuningan, Jakarta, Selasa (20/8/2024).

CEO Nafas Indonesia, Nathan Roestandy memegang sensor kualitas udara
Co-Founder & CEO Nafas Indonesia, Nathan Roestandy memegang sensor kualitas udara yang berguna untuk menghasilkan data secara realtime terkait kualitas udara.

Menurut Nathan, data yang dihasilkan dari sensor kualitas udaratersebut sangat berguna untuk nantinya para pemangku kepentingan dapat mengambil kebijakan yang tepat. 

"Dengan adanya alat pengukur udara, kami optimis dapat memberikan gambaran data yang lebih lengkap terhadap kondisi udara diberbagai lokasi agar pemerintah atau instansi terkait dapat membuat kebijakan atau strategi yang lebih baik untuk mengatasi permasalahan ini," ungkapnya.

Adapun sensor kualitas udara luar ruangan yang dipasang oleh Nafas bekerja dengan cara menangkap partikel-partikel kecil, gas, temperatur, hingga kelembapan. 

Kemudian sampel tersebut dapat diambil hingga 20 kali setiap menit untuk kemudian diolah dan dikalibrasi. Setelah itu, data ditampilkan di aplikasi Nafas dan diperbaharui setiap 10-20 menit.

Kolaborasi dengan DBS pasang 50 sensor kualitas udara

Oleh karena itu, sejak Nafas diluncurkan pada 2020, pihaknya terus berupaya meningkatkan kesadaran tentang bahaya polusi udara dan pentingnya alat sensor kualitas udara. 

Melihat begitu pentingnya pemasangan alat sensor kualitas udara tersebut, Bank DBS Indonesia pun menjalin kolaborasi dengan Nafas untuk memasang 50 sensor kualitas udara yang dapat menghasilkan data secara real-time, terlokalisasi, dan akurat.

Pemasangan dilakukan di beberapa lokasi, termasuk di tempat Bank DBS Indonesia beroperasi.

Pada akhir September 2024, pihaknya menargetkan pemasangan lebih dari 250 alat sensor di seluruh 17 kota di Indonesia.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved