Rabu, 22 April 2026

Kini Dikenal Kampung Maling, Ini Makna Nama Sukolilo yang Penuh Doa

Nama Sukolilo sebuah desa di Pati, Jawa Tengah kini dikenal publik sebagai kampung maling atau desa penadah.

Editor: Desy Selviany
TRIBUN JATENG/MAZKA HAUZAN NAUFAL
Kolase foto bos rental asal Jakarta dan 3 rekannya babak belur dihajar massa saat beraksi di Desa Sumbersoko, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Kamis (6/6/2024). 

WARTAKOTALIVE.COM - Nama Sukolilo sebuah desa di Pati, Jawa Tengah kini dikenal publik sebagai kampung maling atau desa penadah.

Bukan tanpa sebab, julukan kampung maling atau desa penadah itu diberikan warganet setelah geram dengan aksi pengeroyokan hingga tewas kepada seorang bos rental mobil.

Di mana bos rental mobil dari Jakarta hendak mengambil kendaraannya secara paksa lantaran digelapkan oleh penyewa ke Desa Sumbersoko.

Karena geram, netizen kemudian mengubah nama Kecamatan Sukolilo sebagai Kampung Maling dan Desa Penadah.

Padahal arti nama Sukolilo ternyata sangat mendalam. Dikutip dari Tribunnews.com melalui IAIN Kudus Repository disebutkan bahwa nama Sukolilo berasal dari dua kosakata Suko berarti senang dan Lilo yang berarti ikhlas.

Dengan harapan masyarakat Sukolilo memiliki budi pekerti senang, ikhlas, saling menolong dan senang memberi. Mengenai sejarah nama Sukolilo sendiri belum diketahui secara pasti.

Sementara dalam sebuah blog https://sukolilodesa.wordpress.com/ menceritakan sejarah nama Sukolilo yang tak lepas dari legenda pada zaman kerajaan Mataram Islam.

Dalam blog tersebut menceritakan bahwa nama Sukolilo dihubungkan dengan legenda pertemuan Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan yang diperkirakan hidup pada abad ke XV-XVI.

Ketika itu Ki Ageng Pemanahan mencari kakak seperguruannya Ki Ageng Giring di wilayah Sumbersoko. Saat sampai di rumahnya, ternyata Ki Ageng Giring tidak berada di rumah, ia sedang berada di sawah.

Kemudian Ki Ageng Pemanahan dijamu oleh Nyai Ageng Giring. Kemudian istri Ki Ageng Giring itu menyuguhkan degan atau air kelapa muda kepada sang tamu.

Saat pulang, Ki Ageng Giring langsung mencari air degan yang akan diminumnya. Ki Ageng Giring marah kepada Nyai Ageng karena airnya telah disuguhkan pada adik seperguruannya itu.

Namun kemarahan tersebut dapat ditahan menyadari yang meminumnya adalah adik seperguruannya. Lalu Ki Ageng Giring pun mengatakan bahwa air kelapa muda tersebut memiliki petuah.

Baca juga: Warganet Tandai Lokasi Sukolilo di Google Maps dengan Unsur Kriminal, Pemkab Pati Ngadu ke Google

Petuah tersebut adalah bahwa siapapun yang meminum air kelapa tersebut niscaya akan menurunkan raja-raja di tanah Jawa.

Ternyata air kelapa yang diminum oleh Ki Ageng Pemanahan memiliki petuah, niscaya siapapun yang meminum air kelapa tersebut akan melahirkan raja-raja di tanah Jawa. Yang artinya bahwa keturunan Ki Ageng Pemanahan yang bakalan jadi raja, bukan keturunan Ki Ageng Giring.
Ki Ageng Giring pun meminta kepada Ki Ageng Pemanahan untuk menjadikan agar kelak merelakan keturunannya (Ki Ageng Giring) menjadi raja pada keturunan ketiga.

Namun permintaannya tersebut ditolakoleh adik seperguruan Ki Ageng Giring, tawar-menawar berlangsung lama, hingga menghasilkan kesepakatan kelak pada keturunan ketujuh menjadi raja di tanah Jawa.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved