Berita Nasional

Viral Siswa Lawan Guru, Psikolog Yasinta Indrianti Ungkap Kiat Agar Anak Tak Melawan Orangtua

Viral Siswa Lawan Guru, Psikolog Yasinta Indrianti Sebut Kompetisi Sehat Mampu Redam Potensi Lawan Orangtua

Editor: Dwi Rizki
Istimewa
Salah satu peserta menari tari pendet dalam Yupi Good Talent di Jakarta pada beberapa waktu lalu 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Dalam era di mana keterbukaan dan pemberdayaan individu semakin ditekankan, fenomena siswa melawan guru di sekolah menjadi perhatian yang mendesak.

Tidak lagi hanya sebagai otoritas tunggal dalam ruang kelas, guru kini harus menghadapi tantangan baru dari siswa yang lebih berani dalam mengekspresikan pendapat mereka.
 
Masalahnya adalah ketika hal tersebut memicu kebencian siswa terhadap gurunya dan menimbulkan dampak negatif misalnya siswa menjadi pemarah, mogok sekolah, nilai akademiknya turun, atau sulit diatur oleh gurunya.

Fenomena seperti ini memberikan sedikit gambaran bahwa sebagian kecil pendidikan di Indonesia sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Peristiwa siswa melawan guru baik secara langsung maupun melalui jalur hukum semakin sering terdengar.
 
Seorang psikolog dari Profil Talenta Indonesia, Yasinta Indrianti mengungkapkan, perilaku melawan guru ini juga didukung dengan karakteristik remaja yang sedang berada dalam masa pencarian jati diri.

Dia bilang, ingin rasa berkompetisi menunjukkan eksistensi tetapi terkadang tidak bisa menyalurkannya dengan tepat.
 
“Untuk mencegah siswa melawan guru di sekolah, penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, aman, dan mendukung,” ucap Yasinta dari keterangan tertulis pada Selasa (14/5/2024).

Yasina menjelaskan beberapa langkah yang dapat diambil mislanya memperkuat hubungan positif.

Guru perlu membangun hubungan yang positif dengan siswa dengan menunjukkan penghargaan, empati, dan perhatian terhadap kebutuhan mereka.

Kemudian menjalin komunikasi terbuka.

Dia memandang, penting untuk membuka saluran komunikasi yang terbuka antara guru dan siswa. Siswa harus merasa nyaman untuk menyampaikan masalah atau kekhawatiran mereka.

Selanjutnya melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan.

Memberikan siswa kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi mereka, dapat memberikan mereka rasa memiliki terhadap lingkungan sekolah.

Terakhir, melakukan pelatihan ketrampilan sosial.

Memberikan pelatihan keterampilan sosial kepada siswa dapat membantu mereka belajar cara berkomunikasi dengan baik, menyelesaikan konflik secara konstruktif, dan bekerja sama dalam tim.
 
“Saat ini, sudah seharusnya siswa diberikan aktivitas positif dengan dukungan guru, misalnya saja membuat kompetisi agar siswa dapat bersaing secara sehat,” paparnya.

Ada beberapa kompetisi positif agar siswa dapat menyalurkan ide dan bakatnya dengan mengikuti beragam kegiatan.

Salah satunya ajang Yupi Good Talent yang diadakan oleh Yupi Gummy setiap tahunnya.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved