Pendidikan
Sambut Bonus Demografi, Sangat Penting Memperluas Akses Pandidikan Berkualitas
Persiapan pengembangan SDM di bidang pendidikan bonus demografi 2030-2045 bukan hanya tanggung jawab pemerintah.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA--Pemerintah serius dalam menyambut bonus demografi tahun 2030 hingga tahun 2045 ketika jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibanding usia tidak produktif.
Syarat mutlak yang harus dipenuhi adalah menyiapkan SDM, salah satunya melalui pendidikan.
Sejauh ini pemerintah Indonesia telah berusaha keras untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa kita, dan memperluas akses pada pendidikan, termasuk pendidikan tinggi.
Ini bisa dilihat dari keberhasilan pemerintah dalam perluasan akses pendidikan itu, di antaranya melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP), pendidikan inklusif bagi mereka yang berkebutuhan khusus, program digitalisasi sekolah dan perluasan akses pendidikan.
Meski demikian, upaya pemerintah memperluas akses pendidikan harus didukung oleh lembaga pendidikan tinggi non-pemerintah.
"Akses memperluas pendidikan menjadi sangat penting, khususnya ketika melihat kenyataan semakin bertambahnya jumlah siswa di Indonesia dan bonus demografi yang kelak akan menyediakan lebih banyak anak muda produktif," kata dosen LSPR Institute of Communication & Business Dr Syafiq Assegaf.
Baca juga: Asah Talenta Mahasiswa Melalui Pertunjukan Seni, LSPR Hadirkan Theatre Festival dan PAC
Sebagai lembaga pendidikan tinggi, LSPR terus membantu usaha pemerintah dalam pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan.
Syafiq menjelaskan angka partisipasi kasar (APK) khususnya APK perguruan tinggi (PT) masyarakat Indonesia pada tahun 2022 berada di angka 31,16 persen, masih kurang ideal.
Menyadari pentingnya pendidikan bermutu dan upaya mewujudkan peningkatan angka partisipasi belajar di perguruan tinggi, dalam beberapa tahun terakhir LSPR telah melaksanakan program blended learning selain menyelenggarakan jurusan komunikasi kesehatan di tingkat pascasarjana (S2).
Pada awal 2024 mendatang segera dibuka program pendidikan tingkat doktoral (S3) komunikasi.
Dengan memanfaatkan teknologi informasi dan digitalisasi pendidikan, mahasiswa dapat mengakses materi belajar kapan saja dan di mana saja, sehingga memiliki fleksibilitas waktu dan ruang sesuai dengan kebutuhannya.
Menurutnya program blended learning kini memang menjadi tren di berbagai negara di dunia.
Baca juga: Rayakan FSC Forest Week, Tetra Pak dan Ircomm Gandeng LSPR Institute untuk Edukasi FSC dan SDG’s
Jumlah peserta didik program blended learningmencapai 1.280 orang yang tersebar di berbagai daerah Indonesia, termasuk di luar negeri di antaranya Jerman, Dubai, Qatar, Jepang, Malaysia dan Timor Leste.
"Upaya peningkatan mutu LSPR telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Di antaranya kami berhasil memperoleh predikat 'Akreditasi Unggul' dari Badan Akreditasi Nasional - Perguruan Tinggi (BAN-PT), dan kembali meraih akreditasi dari British Accreditation Council (BAC)," tutur Syafiq.
"Kami juga memberikan kesempatan yang luas bagi mahasiswa melakukan riset, baik secara mandiri maupun bersama dosen. Ini membawa manfaat besar bagi mahasiswa untuk menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman sebelum menyelesaikan studi," imbuhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/dr-hc-prita-kemal-gani-selaku-ceo-institut-komunikasi-dan-bisnis-lspr-jakarta.jpg)