Polusi Udara
Polusi Udara, Nikita Willy Terapi Garam Anaknya, Hermawan Saputra: Waspada Belum Ada Penelitian
Saat ini warga Jakarta sedang dihantui polusi udara, terapi garam pun menjadi solusi. Namun, menurut Hermawan aputra itu harus diwaspadai.
Penulis: Yolanda Putri Dewanti | Editor: Valentino Verry
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Salah satu cara melindungi tubuh, terutama area pernapasan dari jahatnya polusi udara adalah dengan melakukan salt therapy atau terapi garam.
Hal ini bahkan dilakukan oleh artis Nikita Willy untuk anaknya, Issa Xander Djokosoetono atau baby Izz.
Polusi yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia memang sangat berbahaya untuk kesehatan, apalagi untuk bayi.
Baca juga: Balita Lima Tahun Terserang ISPA Akibat Polusi Jakarta, Orangtua Putuskan Tunda Sekolah Satu Minggu
Terapi garam pun bisa jadi salah satu solusi untuk membersihkan sistem pernapasan dari paparan buruk polusi.
Lantas, apa sebenarnya salt therapy atau terapi garam?
Pakar dan Pengamat Kebijakan Kesehatan, dr Hermawan Saputra buka suara terkait hal itu.
Menurutnya, terapi garam pengobatan tradisional yang sudah diimplementasikan sejak dahulu.
"Prinsipnya terapi garam ini memang salah satu semacam pengobatan alternatif atau tradisional karena dari zaman dahulu sudah banyak yang terbukti tentang kearifan lokal untuk penyakit-penyakit, terutama penyakit pernafasan," ucap Hermawan saat dihubungi belum lama ini.
Baca juga: Tekan Polusi Udara, Rekan Indonesia Gandeng Pemerintah Kota Jakarta Selatan Kampanyekan Bersepeda
Meski terbukti dapat mencegah penyakit pernafasan, namun terapi garam tak bisa digunakan secara berlebihan.
"Memang banyak sekali yang melihat bahwa terapi garam ini sangat efektif," ujarnya.
"Namun, kalau kita bicara dari subtansi lain konsumsi garam atau zat yang mengandung garam ini akan berdampak pada masalah-masalah terutama bagi mereka yang memiliki resiko darah tinggi, kemudian hipertensi yang mengarah kepada penyakit seperti jantung dan lainnya," jelasnya.
"Oleh karena itu sebenarnya membutuhkan penelitian lebih lanjut, seperti gangguan darah misalnya anemia dan juga yang menyangkut peredaran darah lain ini harus ada kewaspadaan," imbuhnya.
Hermawan menegaskan, jika terapi garam digunakan dengan baik dan tidak berlebihan, maka akan efektif dapat membantu penyembuhan penyakitan pernafasan.
"Tetapi prinsipnya segala sesuatu yang tidak berlebihan atau misalnya kalau melakukan terapi garam ini dengan menghirup partikal garam di udara kurang dari tiga persen atau juga dengan stimulus, hal-hal ini rasanya aman-aman saja," jelasnya.
Namun, dirinya mengimbau apabila belum ada penelitian terapi garam yang mendalam sebaiknya masyarakat tetap waspada.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/hermawan-saputra.jpg)