Sejarah Jakarta
Sejarah Jakarta: Museum Benyamin Sueb Bekas Kediaman Meester Cornelis Senen
Siapa yang tidak kenal dengan Benyamin Sueb. Sebagai budayawan Betawi, namanya diabadikan dalam Museum Benyamin Sueb.
Penulis: Desy Selviany | Editor: Desy Selviany
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Siapa yang tidak kenal dengan Benyamin Sueb. Sebagai budayawan Betawi, namanya bahkan diabadikan dalam Museum Benyamin Sueb.
Museum Benyamin Sueb terletak di Jalan Jatinegara Timur No.76, RT.4/RW.3, Rawa Bunga, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.
Bangunan Museum Benyamin Sueb ternyata menyimpan banyak sejarah Jakarta. Bahkan, dibukanya lahan di atas bangunan Museum Benyamin Sueb sudah berdiri hampir 400 tahun lamanya.
Dalam sejarah Museum Benyamin Sueb, gedung ini berdiri di atas lahan milik Meester Cornelis Senen yang mengembangkan daerah tersebut pada mulanya di sekitar tahun 1621.
Makanya, daerah tersebut dikenal dengan daerah Meester Cornelis yakni nama lawas Jatinegara.
Awalnya, bangunannya belum semegah ini. Hanya semacam kediaman Cornelis Senen yang memiliki halaman begitu luas.
Sepeninggal Cornelis Senen pada tahun 1661, riwayat penggunaan bangunan bekas kediaman Cornelis Senen tidak begitu jelas.
Diperkirakan tetap menjadi kediaman penguasa setempat juga.
Kemudian sejak Herman Willem Daendels diangkat menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda dari 1808 hingga 1811, kediaman bekas milik Cornelis Senen ini dibangun atas perintahnya, menjadi sebuah gedung yang megah seperti sekarang ini.
Daendels mengubah rumah landhuizen milik Cornelis Senen ini dengan suatu gaya Empire Style yang berbau Perancis.
Gaya tersebut kemudian terkenal dengan sebutan Indische Empire Style, yaitu suatu gaya arsitektur Empire Style yang disesuaikan dengan iklim, teknologi dan bahan bangunan setempat.
Bentuk bangunan ini adalah persegi panjang dengan satu lantai. Bagian bangunan terbagi tiga menjadi bangunan utama, bangunan sisi kiri dan bangunan sisi kanan.
Bagian depan ada peninggian lantai dengan satu anak tangga. Bagian fasad terdiri dari 8 kolom dengan bidang berbentuk segitiga. Bagian dalam gedung diberi motif seperti rumah tradisional Betawi.
Jumlah pintu masuknya ada 5 dan terbuat dari kayu. Ruangan bagian depan memiliki satu jendela dengan kusen kayu dan lapis kaca.
Cat jendela berwarna putih. Sedangkan bagian lantai terbuat dari marmer abu-abu dengan motif garis yang tidak beraturan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/taman-benyamin-sueb-sepi-pengunjung2.jpg)