Sambut Tahun Politik, ASN dan SDM Kemenkominfo Diingatkan Kembali soal Netralitas

Diharapkan para ASN mampu mengelola rasa untuk menjadi perekat dan pemersatu bangsa pada kehidupan digital.

Editor: Ichwan Chasani
Istimewa
Para narasumber kegiatan Literasi Digital Sektor Pemerintahan untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) dan SDM Kemenkominfo yang digelar secara Hybrid di Hotel Santika ICE BSD, Tangerang Selatan pada Senin - Rabu, 3-5 April 2023. 

WARTAKOTALIVE.COM — Para Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Sumber Daya Manusia (SDM) Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kemenkominfo) diingatkan kembali mengenai pentingnya netralitas ASN dalam menyambut tahun politik.

Direktur Pemberdayaan Informatika, Boni Pudjianto mengungkapkan hal itu dalam kegiatan Literasi Digital Sektor Pemerintahan untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) dan SDM Kemenkominfo pada 3-5 April 2023 yang digelar secara Hybrid di Hotel Santika ICE BSD, Tangerang Selatan.

Kegiatan ini diikuti JPT Madya (Pimpinan Unit Kerja dan Staf Ahli) dan JPT Pratama Kemenkominfo yang mencapai 68 peserta.

Boni Pudjianto menjelaskan bahwa sikap netralitas ASN menjadi hal yang penting untuk diingatkan berulang kali kepada para ASN dan SDM di lingkungan Kemenkominfo.

“ASN dan SDM di lingkungan Kemenkominfo diharapkan dapat benar-benar mengedepankan sikap netralitas dan menjadi teladan, di mana tidak menunjukkan partisipasinya dalam kampanye politik dalam bertugas, agar menunjukkan sikap profesionalitas,” ungkap Boni Pudjianto dalam pernyataan resminya.

Baca juga: Seorang Anggota TNI Gugur Saat Terjun Payung Saat Persiapan HUT di Lanud Halim Perdanakusuma

Baca juga: Intip Rumah Mewah Slamet Tohari alias Mbah Slamet, Dukun Pengganda Uang yang Viral di Media Sosial

“Perlu diingat juga bahwa ASN dan SDM di lingkungan Kemenkominfo berada di bawah pengawasan negara, di mana jika pegawai melanggar peraturan negara tentu akan dihadapkan pada konsekuensi yang berlaku sesuai hukum. Oleh karena itu, diharapkan bapak dan ibu dapat fokus mendukung transformasi digital dengan cara memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat,” tutur Boni.

Melalui kegiatan ini, Boni mengharapkan para ASN mampu mengelola rasa untuk menjadi perekat dan pemersatu bangsa pada kehidupan digital.

Sementara Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Semuel A. Pangerapan menyampaikan bahwa ASN saat ini sedang dipantau oleh masyarakat.

“Oleh karena itu, kita perlu menyikapi hal tersebut, terutama dalam hal jejak digital. Apa yang dilakukan di ruang digital benar-benar harus kita pikirkan, terutama sebelum mengunggah sesuatu ke media sosial,” ujarnya.

Semuel juga menyampaikan perihal teknologi AI, terutama mengenai risikonya seperti fake news yang benar-benar susah diidentifikasi.

Baca juga: Bukan ASN Apalagi Lawan Bisnis, Ini Identitas Peneror Bambang-Pemuda yang Perbaiki Jalan Pekanbaru

Baca juga: Rayakan Milad Pertama, Prudential Syariah Layani 530.000 Peserta dan Bayar Klaim Rp 1,7 Triliun

“Kemenkominfo sudah menghadirkan daftar isu-isu yang ramai dibicarakan publik, ASN Kemenkominfo perlu membaca ini terutama agar memahami percakapan publik agar tidak salah dalam merespons isu yang ada,” tutur Semuel.

Semuel juga berharap para ASN agar bekerja secara profesional dan jangan memihak terutama saat membuat postingan di ruang digital.

“Semua usaha ini dilakukan agar kita bisa menciptakan ruang digital yang aman dan nyaman. Semoga ASN yang hadir dapat saling memberi masukan membangun agar kualitas aparatur pemerintah terus meningkat dan bisa melayani masyarakat secara maksimal,” jelas Semuel.

Sedangkan Sekretaris Jenderal Kemenkominfo, Mira Tayyiba menyampaikan bahwa hal negatif yang ada di ruang digital harus dihadapi dengan baik.

“Sebagai pelayan publik kita harus merespons ruang digital secara proaktif. Bukan hanya dengan bisa mengoperasikan komputer, namun kita harus mempunyai kecakapan digital sesuai dengan perkembangan teknologi terbaru,” ujarnya.

Baca juga: Kemacetan Jakarta, Kapolda Metro Baru Irjen Karyoto Janji Atasi: Kuningan ke Mampang Hanya 5 Menit

Baca juga: Daftar Korban Dukun Pengganda Uang Slamet Tohari alias Mbah Slamet, Baru Enam Jasad Teridentifikasi

“ASN harus menyadari posisi sebagai pelayan publik yang profesionalitasnya diukur dari layanan dan kepuasan publik di ruang fisik dan ruang digital. Saat ini United Nation Government Survey melihat 0,76 persen lebih besar daripada rata-rata government di asia tenggara. Sudah tidak ada alasan lagi bagi ASN untuk tidak memahami literasi digital,” tegas Mira.

Mira juga menekankan bahwa ASN juga harus cerdas secara emosional dan kognitif serta sensor sensitivitas dalam hal melakukan filter hal apa yang pantas dan tidak diunggah di media sosial.

“Saya juga mengingatkan ASN kemenkominfo untuk menjaga netralitas, bukan hanya dalam kehidupan sehari-hari tapi juga di ruang digital. Upaya peningkatan literasi digital selanjutnya adalah esensial dengan tujuan menciptakan ruang digital yang kondusif dan positif, oleh karena itu perlu adanya kerjasama antar komponen bangsa. Kemenkominfo sebagai regulator, komunikator, akselerator terus mengupayakan literasi digital untuk meningkatkan kompetensi ASN,” jelas Mira.

Netralitas ASN dan Kultur Digital ASN

Perwakilan dari Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia, Puadi sempat menyampaikan sesi materi mengenai Netralitas ASN.

Dalam penjelasannya, Puadi menekankan bahwa terdapat tiga penyebab yang membuat netralitas ASN tidak dapat tercapai.

Baca juga: Bos FIFA Infantino Ikut Mengutuk Chant Rasialis dari Pendukung Juventus Terhadap Romelu Lukaku

Baca juga: Cerita Rani Dwi Ulandari, Mengaku Syok Orang Tuanya Jadi Korban Dukun Pengganda Uang di Banjarnegara

“Adanya kepentingan politik seperti irisan kekerabatan atau kesukuan yang menjadi politik identitas. Lalu digunakannya pemilu sebagai cara untuk meminta promosi jabatan. Kemudian yang terakhir adalah adanya tekanan-tekanan dari tokoh yang kuat atau bisa disebut ASN yang masuk dalam ekosistem yang tidak baik. Di luar tiga penyebab ini, upaya penegakan hukum pun belum maksimal sehingga tidak ada upaya yang membuat jera para pelaku,” tegas Puadi.

Sementara Komisioner Pokja Pengawasan Bidang Penerapan Nilai Dasar, Kode Etik, dan Kode Perilaku ASN, dan Netralitas ASN, Arie Budhiman menjelaskan bahwa terdapat disrupsi yang dihadapi ASN.

“Kemarin kita mengalami Covid-19 yang membuat cara kerja ASN berubah menjadi semakin terdigitalisasi. Nah, tantangan baru yang kita hadapi selanjutnya adalah Pemilu tahun 2024, apakah kita bisa memanfaatkan momentum ini untuk membuat kinerja kita semakin baik atau justru sebaliknya. Itulah yang harus dipersiapkan oleh para ASN,” jelas Arie Budhiman.

Guru Besar dan Peneliti Bidang Rekayasa Perangkat Lunak Fasilkom Universitas Indonesia, Eko Kuswardono Budiarjo menjelaskan bahwa dalam kecakapan digital terdapat formula 4+1 yakni menyeleksi, memahami, menganalisis, dan memverifikasi, agar kita dapat berpartisipasi.

“Formula ini juga sebagai tolak ukur sudah sejauh mana ASN mendalami kecakapan digital. Kecakapan digital ini juga berguna bagi organisasi yakni kecakapan dalam memilih perangkat keras dan lunak yang cocok untuk tupoksi atau tugas kita,” ungkapnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved