Mata Lokal Menjangkau Indonesia
Gerbang Darling dan Pertanian Urban di Kolong Tol Becakayu
Kehadiran "Gerbang Darling" di kolong tol Becakayu tak cuma menyegarkan tampilan di lingkungan sekitar namun hasil panennya bermanfaat untuk warga.
Penulis: Rendy Rutama | Editor: Eko Priyono
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Kamis (2/3/2023) siang, Ketua RW 13 Kelurahan Cipinang Melayu Jakarta Timur Khotibul Umam tampak bermandi keringat. Ia memakai topi fedora, kaus polo hitam dibalut rompi hijau, dan memegang bakul. Umam turut membantu warganya memanen beragam sayur mayur di kolong jalan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu atau Becakayu.
Aktivitas ini digeluti Umam dan warganya dua tahun terakhir. Ia dan beberapa warga berinisiatif mengubah lahan kosong di bawah ruas tol Becakayu, menjadi "tanah hidup".
Tahun 2020 lalu, lahan seluas 500 meter persegi ini cuma gundukan tanah. Yang dihasilkan bila musim kemarau tiba hanya embusan debu.
Hal inilah yang melandasi Umam dan warganya mengajukan izin ke pihak terkait. Mereka ingin mengubah lahan tandus yang berlokasi di jalan Inspeksi Kalimalang Pangkalan Jati, RW 13 Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur.
Gayung bersambut. Perum Jasa Tirta (PJT) selaku pemilik lahan, memberi lampu hijau. Pertanian urban atau urban farming, praktik bercocok tanam secara mandiri di wilayah perkotaan, dipilih.
Tempat yang sudah diubah tersebut dinamai Gerbang Darling, Gerakan Bangsa Sadar Lingkungan.
Beragam sayuran seperti sawi, kangkung, kembang kol, bayam merah, bayam hijau, cabai dan buah-buahan di antaranya nanas serta melon ditanam warga RW 13.
Tanaman toga seperti jahe dan kencur pun dibudidayakan. Dalam prosesnya warga RW 13 dibantu petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Cipinang Melayu.
"Niat awalnya karena pengin kampung kami lebih produktif lagi. Jadi kami memanfaatkan lahan kosong seizin pihak PJT," ujar Umam ditemui Warta Kota di lokasi.
Hasil panen
Meski dibantu petugas PPSU, lanjut Umam, warganya yang bertanggung jawab penuh atas pembibitan, perawatan, hingga panen. Bahan baku dibiayai secara urunan.
Sumber Daya Manusia (SDM) yang mengurus "Gerbang Darling" juga bergantian, mana warga yang sedang tak sibuk saja. Lahan ini biasanya "dipadati" warga dan petugas PPSI pada dua jam yakni pukul 08.00 WIB dan 16.00 WIB.
Mereka biasanya akan berada di lahan tersebut selama dua jam bahkan lebih. Sejauh ini warga sudah beberapa kali menikmati hasil panen Gerbang Darling.
Selain diperjualbelikan ke sesama warga, sebagian hasil panen disedekahkan. Caranya hasil panen dipul di satu tempat. Warga yang membutuhkan bisa mengambil secukupnya.
"Namun mengingat keterbatasan SDM, hasil panen dari aktivitas tersebut sementara untuk warga sekitar dulu. Tapi ke depan, khususnya di tahun 2023 ini, kami ingin melebarkan sayap. Kemasannya dibikin lebih menarik, distribusi penjualannya mesti diperluas," ujar Umam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Urban-Farming-di-kolong-tol.jpg)