Promo

Berburu Pakaian dan Tas Bermerek di Pasar Baru Harga Mulai Rp 5.000 hingga 2 Juta

Tren thrifting atau belanja pakaian bekas untuk berburu barang branded dengan harga miring, lokasinya di Pasar Baru

Wartakotalive/Nuri Yatul Hikmah
Toko yang menjual pakaian bekas bermerek ada di Pasar Baru, Jakarta Pusat 

WARTAKOTALIVE.COM, SAWAH BESAR — Tren thrifting atau belanja pakaian bekas untuk berburu barang branded dengan harga miring, kini digandrungi banyak orang, terutama kawula muda. 

Kawasan Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, menjadi salah satu tempat yang menyediakan barang-barang tersebut. 

Pantauan Wartakotalive.com di lokasi sekira pukul 13.00 WIB, lantai tiga dan empat pasar tersebut ramai dikunjungi pembeli yang berburu pernak-pernik fashion impor murah. 

Pasalnya, para pedagang di tempat itu kerap banting harga yang tak main-main, yakni mulai Rp 5.000 hingga Rp 25.000 untuk segala jenis kaus.

Sementara untuk celana bahan dan jeans, rata-rata pedagang menjualnya dengan harga Rp 35.000. 

Toko tas bekas bermerek dijual di Pasar Baru, Jakarta Pusat
Toko tas bekas bermerek dijual di Pasar Baru, Jakarta Pusat (Wartakotalive/Nuri Yatul Hikmah)

Begitu pula dengan baju-baju wanita, baik blouse, dress, atasan formal, hingga tunik-tunik.

Sementara untuk blazer, jas, ataupun jaket-jaket tebal dan Hawai, dibanderol mulai harga Rp 50.000.

Selain baju dan celana, di area thrifting baju tersebut juga menjual berbagai barang fashion branded untuk tas, sepatu, topi, dan baju.

Sejumlah merek yang nampak dipajang yakni Balenciaga, Louis Vuitton, Nike, Zara, Adidas, dan masih banyak lagi.

Baca juga: Ibu-ibu di Maros Sulsel Ikuti Pelatihan Kreasi Barang Bekas Jadi Kerajinan Tangan Bernilai Ekonomis

Untuk barang-barang tersebut, rata-rata dibanderol mulai harga Rp 200.000 hingga Rp 2 juta. Tergantung merek, kualitas, serta harga sebenarnya di pasaran.

Kendati begitu, tiap pedagang memiliki standar harga masing-masing. Sehingga harga tersebut tak bisa dipukul rata. 

Salah satu pedagang sepatu dan baju bekas, Rommy (27) mengatakan, barang-barang tersebut merupakan impor yang didapat dari pengepul.

Biasanya didatangkan dari berbagai negara, seperti Korea dan Jepang.

"Ini berasal dari impor Korea, Jepang. Saya dapat dari pengepulnya," ujar Rommy saat ditemui di rukonya, RNR Jaya, lantai 4 Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Sabtu (25/2/2023).

Baca juga: Punya Keahlian Menjahit? Ini Info Lowongan Kerja Penjahit Gaun Pesta untuk Butik di Tebet Jakarta

Menurutnya, barang-barang yang dijual di Pasar Baru itu beberapa sudah disortir, beberapa lainnya tidak. 

"Kalau saya kebetulan barang sortiran, kebanyakan dikirim semua," jelas Rommy. 

Pedagang tas-tas branded, kaus, dan serba-serbi celana itu mengaku, harga yang dipasarkan olehnya bervariasi, mulai dari belasan ribu hingga jutaan rupiah.

"Saya ini juan fashion aja, barang-barang branded. Kayak tas LV, Dior, ori ini. Kalau ori saya bilang ori, enggak ya saya bilang enggak," kata dia.

"Tapi kalau kaus, cepe (Rp 100.000) enam shay," imbuhnya. 

Pria yang sudah berjualan sejak 2018 itu mengaku tak merasa tersaingi meski banyak pedagang yang juga berjualan barang serupa.

Menurutnya, perihal rezeki sudah ada yang mengaturnya.

"Engga ngerasa kesaingi, namanya juga pasar. Tukang sayur juga sebelah-sebelahan, malah makin banyak, makin asik," jelas dia. 

Rommy berujar, barang-barang thrifting di Pasar Baru itu sengaja dibanderol dengan harga murah, agar mengundang minat pembeli.

"Karena kalau kemahalan bingung juga, udah seken mahal lagi," ujarnya sembari bergurau.

Diungkap Rommy, thrifting Pasar Baru tersebut hanya buka mulai pukul 10.00 WIB hingga 18.00 WIB. 

Sementara itu, salah satu pengunjung thrifting Pasar Baru, Ratu (23) mengaku sengaja datang lantaran penasaran sekaligus menemani temannya yang sangat antusias memburu pakaian impor bekas. 

"Tertarik aja sih, kalau emang ada yang bagus manarik, cuma ya agak milih-milih karena kan pakaian bekas," ujar Ratu saat ditemui.

Ratu mengaku, ia sempat tergiur dengan harga murah yang ditawarkan para penjual thrifting, terlebih jika harga tersebut dikenakan untuk barang-barang branded.

"Tergiur harga iya, apalagi yang bermerek, terus harganya jatuh banget kan jadi lumayan banget ke kami," kata dia.

Kendati begitu, Ratu mengaku enggan membeli baju-baju tersebut lantaran takut tak higenis.

Menurutnya, baju-baju bekas tersebut tak terjamin kebersihannya.

Selain itu, tak ada yang bisa menjamin asal muasal barang tersebut.

"Takut, karena kami enggak tahu, itu bekas apa, terus kondisi bajunya seudah dipakai apakah bersih atau enggak. Lebih ke kebersihannya aja sih, jadi saya enggak beli, takut," tandasnya. (m40)

 

Baca berita Wartakotalive.com lainnya di Google News

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved