Berita Jakarta

Jakarta Pusat Cuman Hasilkan 884 ton Sampah perhari, Diklaim Paling Sedikit di DKI Jakarta

Jakarta Pusat diklaim jadi wilayah yang paling sedikit menghasilkan sampah yakni 884 ton perhari. Sementara DKI Jakarta menyumbang 7.500 ton perhari.

Penulis: Nuri Yatul Hikmah | Editor: Junianto Hamonangan
Warta Kota/Nuri Yatul Hikmah
Pelaksana Tugas (Plt) Suku Dinas Lingkungan Hidup (LH) Jakarta Pusat, Edy Mulyanto mengklaim Jakarta Pusat sebagai wilayah yang paling sedikit menghasilkan sampah yakni 884 ton perhari. 

WARTAKOTALIVE.COM, GAMBIR - Sambut Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2023, Pelaksana Tugas (Plt) Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Pusat, Edy Mulyanto beberkan jumlah sampah yang diproduksi DKI Jakarta mencapai 7.500 ton per-harinya. 

Dari jumlah tersebut, 884 ton di antaranya berasal dari wilayah Jakarta Pusat.

"Jakarta punya 2.743 RW yang memang paling banyak sampahnya. Di Indonesia paling banyak sampahnya ya di Jakarta," ujar Edy saat ditemui di TPS 3R Ketapang, Jalan Zainul Arifin, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, Senin (20/2/2023).

"Kami di Jakarta bisa sampai 7.500 ton dan kalau saya atas nama Sudin Pusat, paling sedikit yah produksinya, kami 884 ton perhari, sisanya banyak dari wilayah kota," imbuh dia.

Baca juga: Thariq Halilintar Tetap Berteman Baik dengan Fujian Meski Sudah Putus Cinta dan Tidak Lagi Pacaran

Oleh karena itu, kata Edy, sesuai Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah dalam lingkup RW, pihaknya mengimbau agar masyarakat dapat mengelola sampah dengan baik, sehingga bisa bernilai manfaat.

"Kami mengingatkan untuk masyarakat DKI Jakarta terutama di Jakarta Pusat, ada kan kami bidang pengelolaan sampah RW, mereka harus memberi edukasi, mensosialsisasikan, menyampaikan kepada masyarakat, sampah kalau tidak dikelola dengan baik, tidak akan menghasilkan manfaat," ujar Edy. 

Oleh karenanya, pihaknya berupaya membuat satu skema pembuangan sampah yang terorganisir dengan baik dari hulu ke hilir di Jakarta Pusat, tepatnya di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) 3R Ketapang, Gambir.

Di tempat tersebut, ada empat jenis pengelolaan yang dilakukan sebelum dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang, Bekasi.

Baca juga: Masyarakat Senang Kawasan Kota Tua Sudah Bersih dari PKL, Anak-anak Bisa Bebas Berlarian

Di antaranya, pemilahan sampah yang mudah diurai (organik), sampah yang bisa didaur ulang (anorganik), sampah 3B (Bahan Berbahaya dan Beracun), dan sampah residu.

"Tiga sampah yang saya sebutkan di awal, itu tiga-tiganya di sini (TPS 3R Ketapang) sudah di kelola," ujar Edy.

"Jadi di sini bukan tempat pembuangan sampah lagi, kesannya adalah tempat pemrosesan pembuangan sampah," lanjutnya.

Menurut Edy, sampah-sampah tersebut dapat bernilai rupiah. Misalnya, sampah organik yang mentah diurai jadi kompos, sementara sampah organik matang diberikan untuk makanan BSF Magoot.

"Habis semua di sutu, hampir 55 persen sampah organik adalah sampah yang dihasilkan masyarakat," ujar dia.

Kedua, sampah anorganik dipilah menggunakan mesin Conveyor untuk dibawa ke bank sampah. Menurutnya, jika sudah dipilah, nilai sampah anorganik itu bisa dua kali lipat harganya. 

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved