Pendidikan

Pemetaan Pendidikan Demi Pembenahan Kualitas Pendidikan di Indonesia

Besar dan masifnya sistem pendidikan Indonesia, Indonesia perlu instrumen yang dapat memetakan tantangan, kendala, dan mutu seluruh satuan pendidikan.

dok. Kemendikbudristek
Seorang guru sedang melakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah. 

WARTAKOTALIVE.COM - Ada beragam upaya dan pendekatan yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran anak.

Guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Kuta, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Febri Nirmala, misalnya, menjadikan ruang kelas sebagai rumah kedua demi mendorong kemampuan belajar para siswanya.

Febri ingin menghadirkan rasa nyaman, aman, dan menyenangkan, sehingga sekolah terasa bagai rumah kedua bagi anak-anak.

Febri menjelaskan, bahwa sekolah sebagai rumah kedua merupakan upaya untuk membantu anak-anak yang tidak tinggal dengan orang tua atau kurang mendapat perhatian dari keluarga.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menghambat perkembangan proses belajar siswa di sekolah.

"Kasih sayang bagi anak-anak memang sangat penting. Kurangnya kasih sayang bagi anak tak jarang membuat anak enggan masuk sekolah, suka murung dalam kelas, dan jarang bicara dengan temannya. Akhirnya, saya sebagai guru harus bisa menggantikan sosok keluarga atau menjadikan ruang kelas sebagai rumah ternyamannya,” tutur Febri.

Febri melakukan pendekatan satu-persatu kepada anak-anak, sebuah upaya yang memerlukan kesabaran dan perjuangan panjang.

Dari pendekatan tersebut, Febri dapat menggali masalah yang anak-anak hadapi dan bagaimana karakter mereka.

"Alhamdulillah ada perubahan. Anaknya jadi rajin. Saya merasa mereka seperti anak sendiri. Saat mereka masuk SMP, saya merasa bagaimana (kehilangan-red.), tapi alhamdulillah anak-anak tetap tanya kabar," kisah Febri.

Di daerah lain, Guru SDN Lawinu Tanarara, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Siti Saudah, memiliki upaya dan pendekatan yang tak kalah gigih.

Demi memajukan pendidikan Indonesia, ia rela meninggalkan karirnya di Pati, Jawa Tengah, lalu mengabdi untuk anak-anak di timur Indonesia.

Guru lulusan Universitas Negeri Semarang (UNNES) ini tergerak hatinya dan mengikuti program pengabdian di daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T) yang ditawarkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada 2015.

“Di kota pasti banyak yang mau mengisi posisi saya, tapi kalau saya tidak mau datang ke sana (daerah pedalaman), ya pasti tidak ada yang mau,” ungkap Siti.

Sekolah tempat Siti mengajar belum memiliki fasilitas yang memadai dan lokasinya pun berada di atas bukit.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved