Minggu, 12 April 2026

Kabar Artis

Luncurkan Serial Diary Putih Abu-Abu, Trinity Optima Production Mantap Terjun ke Bisnis Konten OTT

Melalui anak usahanya Trinity Pictures, perusahaan kembali mengumumkan peluncuran serial terbaru “Diary Putih Abu-Abu”.

Editor: Mohamad Yusuf
Istimewa
Melalui anak usahanya Trinity Pictures, perusahaan kembali mengumumkan peluncuran serial terbaru “Diary Putih Abu-Abu”. CEO Trinity Optima Production Yonathan Nugroho menyatakan, pihaknya sangat optimis serial ini mendapat sambutan baik dari penonton. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Perusahaan label rekaman dan manajemen artis Trinity Optima Production (TOP) kian konsisten membangun ekosistem entertainment yang lengkap di penghujung tahun 2022 ini.

Melalui anak usahanya Trinity Pictures, perusahaan kembali mengumumkan peluncuran serial terbaru “Diary Putih Abu-Abu”. CEO Trinity Optima Production Yonathan Nugroho menyatakan, pihaknya sangat optimis serial ini mendapat sambutan baik dari penonton.

“Ketika mengetahui bahwa ini adalah debut akting perdana bagi semua anggota grup vokal Putih Abu-Abu, kami langsung sepakat untuk mendukung proses produksinya. Sebab, sudah menjadi komitmen kami sebagai perusahaan untuk aktif mendorong talent mengeksplorasi bakat di luar musik,” kata Yonathan dalam siaran tertulisnya, Kamis (20/10/2022).

Baca juga: Group Musik Putih Abu-Abu Rilis Single Religi saat Ramadan, dengan Judul Lebaran

Baca juga: Putih Abu Abu Nyanyikan Ulang Lagu Bimbang, Populer Jadi Soundtrack Film Ada Apa dengan Cinta?

Yonathan menilai, grup vokal Putih Abu-Abu memiliki basis fans yang sangat baik dan solid, didukung oleh profesionalisme dan talenta masing-masing anggotanya.

Grup yang beranggotakan 6 anggota perempuan yang terdiri dari Cheryll FS (Cheryll), Tiara Kamilah (Taya), Karina Amelia Putri (Karin), Alma Thania (Alma), Reikhansa (Rei), dan Neneng Intan (Intan), ini memiliki akun YouTube dengan subscribers sebanyak 7 juta dan views lebih dari 1.75 miliar views.  

“Hal ini menjadi kunci agar debut di luar core musik bisa sukses. Jadi tidak asal lagi tren lalu terjun ke lini lain. Semua harus ada persiapan dan analisa pasar dan perilaku audiensnya,” tambahnya.

Keputusan TOP untuk serius menjajaki bisnis konten di OTT berangkat dari analisa mendalam. Data dari Clarity Research Indonesia mencatat, pelanggan konten berlangganan atau subscription video on demand (SVOD) di Indonesia naik dari sekitar 200.000 di tahun 2016 menjadi 11,5 juta pengguna pada 2021. Bagi TOP, ini adalah sinyal baik terhadap masa depan konten digital.

Ditambah lagi, keberadaan iklan semakin bergeser dari TV atau media broadcast konvensional lainnya ke konten-konten yang diproduksi untuk OTT.

“Hal ini membuat kami yakin bahwa konten di OTT bisa menghasilkan revenue stream baru dengan tambahan iklan yang masuk. Bedanya, standar penayangan iklan lebih dikurasi dan tidak mempengaruhi jalan cerita maupun script. Konsumsi iklan dan permintaan format konten yang fresh adalah nilai tambah bagi OTT di mata kami, “ papar Yonathan.

Berdasarkan riset The Trade Desk dan Kantar berjudul Future of TV Indonesia 2022, Indonesia dipandang sebagai pasar yang paling toleran terhadap iklan di Asia Tenggara.

Sebanyak 50 juta penonton di Indonesia bergantung pada OTT berbasis iklan, dimana 42 persen bersedia untuk menonton empat iklan atau lebih setiap jamnya demi mendapatkan konten gratis.

Riset ini juga memaparkan, tingkat kepekaan pada merek atau brand recall dari sebuah iklan di platform OTT meningkat secara signifikan.

Sebanyak 35 persen penonton OTT mampu mengingat merek yang diiklankan, dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu hanya sebesar 23 persen.

Baca juga: Putih Abu Abu Dikenal Banyak Orang Karena Seragam SMA, Benarkah Nama Personilnya Dilupakan?

Baca juga: Sebelum Menjadi Grup Vokal, Ternyata Putih Abu abu Berawal dari Sebuah Kelompok Lawak di Sekolah

Di sisi lain, melejitnya penggunaan platform OTT melalui peningkatan jumlah penonton VOD di Indonesia, nyatanya memiliki tantangan tersendiri bagi kreator.

Menurut Asia Video Industry Association (AVIA), ongkos produksi original content semakin mahal. Selain itu, pencarian talenta andal juga tidak mudah.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved