Pemilu 2024

Ratusan Emak-emak di Jakarta Ajak Warga Tolak Partai Politik yang Tonjolkan Identitas

Ratusan wanita menggelar deklarasi Emak-Emak Lawan Hoaks dan Ujaran Kebencian di area Jembatan Pinisi Sudirman agar melawan partai politik identitas.

Istimewa
Ratusan wanita menggelar deklarasi Emak-Emak Lawan Hoaks dan Ujaran Kebencian di sekitaran area Jembatan Pinisi Sudirman, pada Minggu (2/10/2022) agar melawan partai politik identitas. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Ratusan wanita menggelar deklarasi Emak-Emak Lawan Hoaks dan Ujaran Kebencian di sekitaran area Jembatan Pinisi Sudirman, pada Minggu (2/10/2022) agar melawan partai politik identitas.

Sebanyak 200 emak-emak yang berasal dari 20 Kelurahan di Jakarta itu menggelar aksi tersebut karena keresahan atas terulangnya kembali masa-masa polarisasi antar masyarakat.

Mereka dengan semangat mengikuti arahan orator sambil meneriakan yel-yel "Tolak Politisi Ujaran Kebencian". Mereka juga membagikan selebaran lawan hoaks dan meminta tanda tangan dukungan masyarakat di seputar area kegiatan.

Ratusan warga yang hadir ikut menandatangani sebagai dukungan. Mereka pun juga mengimbau kepada masyarakat untuk terus melawan hoaks dengan cara berpikir kritis, logis, dan melakukan cek fakta sebelum menyebarluaskan pesan.

Ketua DPW Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia (SPRI) DKI Jakarta Puspa Yunita mengatakan ini kegiatan merupakan bentuk ekspresi marah dan muak atas tingkah laku para elit politik.

Hal ini diakibatkan maraknya politik identitas yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir dan kerap kali menggunakan narasi kebohongan dan ujaran kebencian demi meraih dukungan.

Baca juga: Ratusan Orang Berkumpul di Stadion GBK, Gelar Tabur Bunga, Nyalakan 1.000 Lilin, hingga Doa Bersama

“Kami mengajak seluruh masyarakat Jakarta untuk menolak mendukung para elit politik dan peserta Pemilu 2024 yang akan menggunakan narasi sektarian, primodalisme, politik identitas, hoaks dan ujaran kebencian,” ujarnya.

Kristalisasi pendukung cebong dan kampret usai Pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pilpres 2019 jadi hal nyata. Terlebih narasi yang digunakan antar dua kubu mengandung hoaks dan ujaran kebencian.

Menurut Puspa, mereka adalah sampah yang harus dibuang jauh dari bumi Indonesia. Jangan sampai doktrin-doktrin sesat dan dungu yang mereka ucapkan meracuni pemikiran anak-anak kita sebagai calon penerus masa depan bangsa.

Baca juga: Jakmania Minta Tragedi Kanjuruhan Diusut Tuntas: Ini Duka Indonesia, Kami Ingin Jawaban!

Sementara itu salah peserta deklarasi, Irma mengatakan meski dunia politik tersebut kejam dan kotor namun jangan sampai dikotori lagi dengan narasi-narasi berbau hal-hal negatif.

Wanita asal Batuampar, Jakarta Timur tersebut beralasan ruang pertarungan politik harus berisi gagasan, program, visi dan misi, dan nilai-nilai demokrasi yang lahir setelah runtuhnya rezim Orde Baru.

“Cara-cara kuno dan barbar tersebut harus kita lenyapkan. Bangsa ini lahir karena kita bersatu bukan tercerai berai, bangsa ini kuat karena perbedaan yang telah menyatukan,” tegasnya.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved