Pemerkosaan

Polres Metro Jakarta Utara Lepas Empat Bocah yang Memperkosa Temannya

Polres Metro Jakarta Utara melepas empat bocah yang diduga memperkosa temannya karena urusan cinta.

Penulis: M. Rifqi Ibnumasy | Editor: Valentino Verry
warta kota/m rifqi ibnu masy
Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Wibowo jelaskan alasan tidak melakukan penahanan tersangka kasus kekerasan seksual di Cilincing, Jakarta Utara. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Polres Metro Jakarta Utara tidak dapat menahan Anak Berhadapan Hukum (ABH) jika berusia di bawah 14 tahun pada kasus kekerasan seksual di Cilincing, Jakarta Utara.

Pernyataan tersebut disampaikan Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Wibowo, mengenai proses hukum kasus kekerasan seksual di Taman Kota Rawa Malang, Semper Timur, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (1/9/2022) lalu.

Wibowo menegaskan, ABH berusia belum genap 14 tahun tidak dapat dipenjara sesuai dengan pasal 32 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

"Jadi yang perlu saya tegaskan di sini bahwa kami tetap memproses lanjut kasus ini,” kata Wibowo, Minggu (18/9/2022).

“Namun, terkait penahanan terhadap anak ini diatur dalam pasal 32 UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak adalah minimal 14 tahun," imbuhnya.

Seperti diketahui, pada 6 September 2022 Polres Metro Jakarta Utara telah mengamankan keempat orang ABH yang diduga melakukan kekerasan seksual kepada remaja perempuan berusia 13 tahun di Cilincing tersebut.

Polisi juga sudah memeriksa keterangan dari keempat ABH yang masih berumur di rentang usia 12 hingga 14 tahun, dan mengungkap motif pemerkosaan yaitu karena korban menolak pernyataan cinta salah seorang diantara mereka.

Baca juga: Majelis Hakim Pengadilan Karawang Diskon Vonis Terdakwa Pemerkosa Balita, Sayang Keluarga Menerima

"Memang begitu, korban ini sedang pulang sekolah ketemu empat orang ini karena salah satu ABH pernah ditolak cintanya oleh si korban. Kemudian dijawab korban tidak mau," ungkapnya. 

Setelah ditangkap, kata Wibowo, keempat ABH tidak dipulangkan namun dititipkan ke Shelter Anak Berhadapan Hukum di Cipayung, Jakarta Timur, karena tidak bisa dilakukan penahanan sesuai Pasal 32 UU SPPA.

Lebih lanjut, Wibowo mengatakan mungkin kesalahpahaman muncul ketika polisi menerapkan untuk satu orang ABH yang berlaku pasal khusus, yakni pasal 32 bagi Anak Berhadapan Hukum karena masih berusia di bawah 12 tahun.

Baca juga: Akhirnya, Predator Seksual Herry Wirawan Divonis Mati, Ini Kronologis Hukum Pemerkosa 13 Santriwati

Di mana penyidik kemudian Badan Pemasyarakatan, kemudian Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, ada lagi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak, mesti berkumpul menjadi satu untuk menentukan sikap apakah anak itu diserahkan kembali kepada orang tua atau mengikuti pendidikan pembinaan selama enam bulan.

“Sedang kami agendakan untuk menindaklanjuti laporan pencabulan dan persetubuhan untuk satu anak yang di bawah 12 tahun,” ujarnya.

“Kami juga mengundang pengacara tersangka, termasuk juga dengan korban yang kami undang,” imbuhnya.

“Tapi kegiatan ini urung atau tidak jadi kami melaksanakan karena tidak dihadiri oleh pihak keluarga korban," lanjutnya.

"Mungkin masyarakat belum tahu bagaimana proses hukum terhadap sistem peradilan anak, mekanismenya sedemikian panjang," pungkas Wibowo.

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved