Selasa, 14 April 2026

Polisi Tembak Polisi

Pengamat Melihat Keluarga Ferdy Sambo Stres Hadapi Tekanan Besar di Kasus Polisi Tembak Polisi

Saat ini Irjen Ferdy Sambo dan keluarga sedang stres hadapi tekanan besar pada kasus polisi tembak polisi.

Penulis: Miftahul Munir | Editor: Valentino Verry
Istimewa
Irjen Pol Ferdy Sambo dan istri, Putri Candrawathi alami tekanan atas kasus polisi tembak polisi di rumah dinas. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung, Vici Sofianna Putera meminta kepada publik tidak termakan dengan opini yang beredar terkait kematian Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J).

Sebab, opini yang berkembang di sosial media dianggap lebih logis dibandingkan penyampaian resmi dari aparat kepolisian.

Terlebih, isu yang berkembang di media masa adalah tentang motif perselingkuhan dibalik kematian Brigadir Yosua.

Ada juga yang beredar di media masa motif Birgadir Yosua adalah orang yang memegang rahasia penting Irjen Ferdi Sambo sehingga perlu disingkirkan.

"Hold your opinion, ini bisa persekusi! Jangan terjebak perangkap ilusi kebenaran, kenapa persekusi? Karena narasi-narasi alternatif yang muncul di luar versi kepolisian juga belum berdasarkan fakta ilmiah, ini baru opini tanpa data," ucapnya, Selasa (26/7/2022). 

Pengacara keluarga Birgadir Yosua juga menyatakan kejanggalan mengenai luka di tubuh kliennya masih bersifat dugaan, artinya dugaan itu bisa jadi benar, bisa juga salah. 

Baca juga: Kasus Polisi Tembak Polisi Ditangani Polda Metro Jaya, Kabid Humas Endra Zulpan Irit Bicara

Kendati begitu, psikologi masyarakat yang membaca narasi ini akan terdorong berspekulasi karena bernuansa konspiratif lebih membuat orang tertarik dengan berita yang beredar.

"Individu tertarik pada narasi konspirasi karena kebutuhan akan pengetahuan dan kepastian dari suatu informasi, terlebih ketika peristiwa besar terjadi, individu tentu ingin tahu mengapa hal tersebut itu terjadi," tuturnya.

"Mereka ingin penjelasan dan mereka ingin tahu yang sebenarnya, tetapi mereka juga ingin merasa yakin akan 'kebenaran' itu," sambungnya.

Baca juga: Komnas HAM Cari Info Detil Penembakan Brigadir J Lewat Ajudan Ferdy Sambo

Dari pemberitaan di media masa juga memengaruhi isu yang beredar di media masa atas kasus penembakan Brigadir Yosua.

Dengan begitu, penggiringan opini atas dugaan tanpa data yang valid akan terus bertransformasi dan pada akhirnya memghakimi Irjen Ferdy Sambo bersama keluarga.

"Namanya penghakiman pasti ada judgement, di sini menurut saya adalah letak permasalahannya, saya akan mencoba membedah fenomena ini dari perspektif psikologi sosial, paradigma kognitif yang dapat mendorong collective action adalah beliefs in fake news dan conspiratorial thinking," jelasnya.

Putri Candrawati Istri Kadiv Propam Irjen Polri Ferdy Sambo, alami dugaan pelecehan seksual.
Putri Candrawati Istri Kadiv Propam Irjen Polri Ferdy Sambo, alami dugaan pelecehan seksual. (wartakotalive.com)

Vici lantas mengutip perkatan Rocky Gerung di media massa di mana publik harus memisahkan faktual dengan sensasional.

Tapi tantangannya adalah individu dalam memisahkan kedua hal tersebut dibutuhkan kemampuan berpikir jernih dan kritis.

Sayangnya individu sebagai manusia cenderung berpikir menggunakan cara yang heuristic atau simplistic.

"Sehingga wajar jika narasi konspirasi yang berkembang bisa ditelan mentah-mentah dan dianggap sebuah kebenaran bagi mereka," ujar Vici.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved