Rabu, 10 Juni 2026

Lifestyle

Usaha agar Keroncong Diterima Anak Muda dan Diakui UNESCO

Keroncong masih dianggap musik  untuk kalangan 'tua'. Tidak banyak anak muda yang menyukai keroncong.

Tayang:
Penulis: LilisSetyaningsih | Editor: LilisSetyaningsih
Warta Kota/Lilis Setyaningsih
Berawal dari kepedulian dan semangat yang sama, yakni menjadikan keroncong diterima oleh semua lapisan masyarakat sekaligus menjadi warisan budaya yang tercatat di UNESCO, Yayasan MUSIKESATU hadir pada April 2022.  

WARTAKOTALIVE.COM, DEPOK -- Keroncong masih dianggap musik  untuk kalangan 'tua'. Tidak banyak anak muda yang menyukai keroncong.

Anak muda sekarang  dianggap lebih menyukai Kpop, musik asal Korea.

Menyadari hal itu, berawal dari kepedulian dan semangat yang sama, agar menjadikan keroncong diterima oleh semua lapisan masyarakat sekaligus menjadi warisan budaya yang tercatat di UNESCO, Yayasan Musikesatu (Musik Keroncong Bersatu) akhirnya hadir pada April 2022. 

Sejumlah nama-nama  terlibat aktif dalam komunitas Musikesatu.

Baca juga: PT KAI Hibur Pemudik yang Menunggu Kereta Api Lewat Alunan Musik Keroncong di Stasiun Pasar Senen

Sebut saja, Husein Latief selaku Ketua Dewan Pembina Musikesatu; Suprapto Santoso, Dedeh Nurhayati, dan Ninok Leksono selaku Anggota Dewan Pembina Musikesatu ; Tuti Maryati selaku Ketua Yayasan;  Armyn Rustam, Sekretaris Yayasan; dan Mamiek Prasitoresmi selaku Bendahara. 

"Kita inginnya KPop itu K nya keroncong," ujar Husein, pada acara Halal Bihalal Musikesatu yang digelar di Depok, Minggu (5/6/2022).

 “Lahirnya Musikesatu ini karena  kami memiliki kepedulian dan semangat yang sama, yakni memajukan kondisi musik keroncong di Indonesia  secara profesional, hingga dikenal luas di mancanegara melalui kegiatan pemberdayaan berbasis komunitas," imbuhnya.

"Selain itu, kami juga memiliki semangat untuk menjadikan musik keroncong tercatat di UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia," lanjut Husein lagi.

Baca juga: Indra Utami Tamsir Kenalkan Album Sutra Dewangga, Usaha Tanpa Lelah Menghidupkan Musik Keroncong

Sebagai musik yang identik dengan orangtua, diakui Tuti, Musikesatu memiliki tantangan serta tugas berat untuk tetap menjaga eksistensinya di industri musik.

Membawa keroncong tercatat di UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia, serta diterima oleh semua lapisan masyarakat, baik masyarakat Indonesia maupun global. Terutama anak muda.

Oleh karena itu, sejumlah program sudah dirancang dan dipersiapkan untuk mencapai target tersebut.

Pertama adalah program K-Nusantara (Keroncong Nusantara).

Baca juga: Indra Utami Tamsir Berjuang Sendiri Lestarikan Keroncong Langgam Jawa

Program tersebut rencananya akan ditawarkan ke sejumlah stasiun televisi swasta, untuk menjadi salah satu program yang akan ditayangkan di stasiun TV.

“Sebab, saat ini, program musik keroncong hanya tayang di TVRI,” ucap Tuti.

Kedua adalah program The Kado (Keroncong Amazing Indonesia).

Melalui program ini, Musikesatu ingin membawa orkes keroncong tampil dan pentas di mancanegara, antara lain pada pagelaran budaya di gedung kesenian masing-masing negara, festival musik Internasional, serta perayaan 17 Agustus di KBRI.

Baca juga: Opa Opa Rilis Mini Album Keroncong Pop Rock Hitam Putih

The Kado juga dapat digunakan untuk pentas seni di dalam negeri, baik tingkat provinsi maupun nasional.

Ketiga adalah program yang menyasar generasi muda atau millennials, yakni KISS (Keroncong Inspirasi Sahabat Sekolah).

“KISS adalah program Keroncong Goes to School, dimana kami akan mensosialisasikan keroncong ke sekolah-sekolah dan kampus. Melalui program ini, kami ingin mengedukasi generasi muda tentang semua jenis musik keroncong,” paparnya.

Keempat adalah program Keroncong Academy.

Baca juga: Semakin Merasa Jatuh Cinta, Joanna Sarah Ingin Kenalkan Musik Keroncong ke Generasi Milenial

Program ini dihadirkan dalam bentuk pelatihan offline maupun webinar (online) secara gratis melalui platform Zoom atau GoogleMeet.

Harapannya, melalui program Keroncong Academy, dapat tercipta transfer knowledge dan pengalaman atau berbagi kisah inspiratif dari generasi senior ke junior. 

Kelima adalah program Musikesatu Peduli. Program ini merupakan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai bentuk aksi saling peduli terhadap sesama.

Diakui Dunia

Diva keroncong, Tuti Tri Sedya mengatakan, pihaknya percaya diri keroncong bisa dimasukan sebagai warisan bukan benda dari Indonesia. 

Butuh proses untuk mendapat pengakuan tersebut. Namun harus diperjuangkan terus.

"Mendapatkan pengakuan itu prosesnya panjang. Dibutuhkan juga peran pemerintah dan uang, tapi kita terus gerak goes to UNESCO," papar Tri Sedya.

Ia mengatakan, keroncong memiliki pakem tersendiri yang menjadi ciri khas keroncong Indonesia. 

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved