Sabtu, 11 April 2026

Advertorial

Dorong Ekonomi Sirkular Minimalisir Perubahan Iklim, Implementasi Harus Didukung Semua Stakeholder

Konsep ekonomi sirkular menjadi tren baru di masyarakat. Konsep ini menjadi salah satu yang didorong untuk meminimalisir dampak perubahan iklim.

Penulis: Mochammad Dipa | Editor: Mochamad Dipa Anggara
dok. freepik.com
Ilustrasi konsep ekonomi sirkular. Konsep ekonomi sirkular menjadi salah satu yang didorong untuk meminimalisir dampak perubahan iklim. 

WARTAKOTALIVE.COM - Konsep ekonomi sirkular menjadi tren baru di masyarakat. Konsep ini menjadi salah satu yang didorong untuk meminimalisir dampak perubahan iklim. Ekonomi sirkular juga dinilai mampu menjaga sumber daya alam dalam jangka waktu panjang.

Dari sisi pelaku usaha, pilihan kepada bisnis yang berkelanjutan dan ramah lingkungan (green investment) makin dilirik karena memiliki nilai lebih. Berkat kesadaran yang makin baik, konsumen juga bergerak lebih memilih produk ramah lingkungan.

Sementara dalam konteks perubahan pola bisnis konvensional menjadi berkelanjutan, sektor jasa keuangan seperti lembaga perbankan turut berperan penting. Adapun peran perbankan dalam hal tersebut berupa pembiayaan hijau bagi pelaku ekonomi sirkular.

Salah satu bank yang fokus memberikan perhatian lebih pada pembiayaan hijau adalah PT Bank HSBC Indonesia.

HSBC Indonesia beberapa waktu lalu, resmi mengumumkan telah memberikan pendanaan hijau sebesar Rp 27 miliar kepada PT Eco Paper Indonesia (ECO).

ECO merupakan anak perusahaan PT Alkindo Naratama Tbk. (ALDO), sebuah perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang pengolahan dan produksi limbah kertas daur ulang menjadi berbagai grade kertas coklat untuk digunakan kembali oleh industri konversi kertas.

Fasilitas pembiayaan untuk ECO merupakan komitmen perusahaan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan di Tanah Air.

Direktur Commercial Banking HSBC Indonesia, Eri Budiono mengatakan, di samping memberikan fasilitas pinjaman hijau, perusahaan juga mendorong para nasabahnya untuk memperhatikan pendekatan lingkungan, sosial dan tata kelola Environmental, Social, and Governance (ESG)  dalam berbisnis. Ini demi terciptanya ekonomi bebas karbon di Indonesia.

"Perusahaan terus berupaya menciptakan ekonomi bebas karbon melalui praktik keuangan yang berkelanjutan. Kami berharap PT Ecopaper Indonesia menjadi inspirasi bagi nasabah-nasabah yang lain atau perusahaan-perusahaan yang lain untuk mengintegrasikan aspek ESG dan dukung net sink sehingga bisa terus mengadopsi sustainable finance," ungkap Eri.

Perlu diketahui, ECO memproduksi kertas daur ulang menggunakan limbah kertas, termasuk yang dikumpulkan dari tempat pembuangan akhir (TPA) atau jalanan oleh para pekerja TPA.

Fasilitas pinjaman ramah lingkungan dari HSBC Indonesia akan digunakan untuk meningkatkan modal kerja ECO dan melipatgandakan kapasitas produksinya menjadi sekitar 22.500 ton kertas daur ulang per bulan.

Produktivitas yang meningkat ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian para pekerja TPA sebagai salah satu pemasok kertas bekas.

"Green Loan ini akan menjadi satu milestone untuk kita melangkah lebih lanjut bagaimana perusahaan grup bisnis yang sudah berjalan 30 tahun ini memproses green product secara green process termasuk adanya clean energy dan sekarang dilengkapi dengan green financing. Jadi green economy-nya betul-betul jalan," ungkap President Director PT Alkindo Naratama Tbk. (ALDO) and President Commisioner of PT Eco Paper Indonesia (ECO), Herwanto Sutanto.

ECO merupakan perusahaan pertama di Indonesia yang menerima fasilitas green loan dari HSBC Indonesia. Herwanto mengaku terhormat menjadi perusahaan pertama yang menerima fasilitas green loan dari HSBC.

Pasalnya, fasilitas ini sejalan dengan model bisnis perseroan yang mengutamakan ESG yang saat ini sedang dijalankan oleh PT Eco Paper Indonesia.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved