Selasa, 14 April 2026

Pasar Tertua

Mengenal Pasar Gede Hardjonagoro Solo yang Berusia Hampir Seabad

Pasar Gede Hardjonagoro sudah melewati tiga masa pemerintahan yaitu masa kerajaan, masa postkolonial, dan masa kemerdekaan.

Warta Kota/ Leonardus Wical Zelena Arga
Pasar Gede Hardjonagoro, Kecamatan Jebres, Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (16/5/2022). 

WARTAKOTALIVE.COM, SOLO -- Pasar Gede Hardjonagoro merupakan pasar tertua di Solo, Jawa Tengah.

Hal tersebut disampaikan pegawai pengelola pasar, Mulyono saat ditemui Wartakotalive.com, Senin (16/5/2022).

"Kalau Pasar Gede itu dibangun sekitar tahun 1927, tapi diresmikannya tiga tahun setelahnya atau 1930. Dulu pasar ini dibangun waktu zaman Paku Buwono X, melalui bantuan arstikel dari Eropa, Ir Herman Thomas Kartsen," ujar Mulyono di Pasar Gede Hardjonagoro, Kecamatan Jebres, Kota Solo, Jawa Tengah.

Pasar Gede Hardjonagoro, Kecamatan Jebres, Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (16/5/2022).
Pasar Gede Hardjonagoro, Kecamatan Jebres, Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (16/5/2022). (Warta Kota/ Leonardus Wical Zelena Arga)

Baca juga: Satu Bangunan Kios di Pasar Ciputat Masih Utuh Saat Kebakaran Ini Kisahnya

Pasar Gede Hardjonagoro sudah melewati tiga masa pemerintahan yaitu masa kerajaan, masa postkolonial, dan masa kemerdekaan.

Mulyono mengatakan, beberapa bangunan yang berada di kawasan Pasar Gede Hardjonagoro sudah masuk dalam bagian dari cagar budaya Indonesia.

Baca juga: Perupa Bogor Kembali Gelar Pameran di BBJ setelah Dua Tahun Diterpa Pandemi Virus Corona

Berdasarkan pantauan Wartakotalive.com, Senin (16/5/2022), bangunan pasar khas zaman dulu merupakan perpaduan dari arsitektur Jawa dan Belanda.

Tangan dingin arsitek Thomas Kartsen membuat tampilan depan Pasar Gede Hardjonagoro ini tak bakal bosan untuk dilihat pengunjung.

"Arsiteknya membuat interior bangunan dengan struktur benteng lebar dan panjang. Salah satu contoh ada pada tampilan sembilan jendela yang ada di muka pasar. Atap yang dibuat cukup tinggi membuat kesan tidak sumpek untuk para pengunjung," ujar Mulyono.

Baca juga: Klenteng Hok Lay Kiong Berusia 18 Abad, Begini Kondisinya Menjelang Imlek

Mulyono mengatakan, Karsten membuat bangunan Pasar Gede Hardjonagoro ini menjadi dua lantai.

Ruang pengelola pasar ditempatkan di lantai atas, tepat di balik sembilan jendela besar itu.

Mulyono beralasan, penempatan ruang pengelola pasar di atas supaya dapat dengan leluasa mengontrol keadaan di berbagai arah.

Baca juga: Ratusan Tahun Terpendam, Batu Penggiling Tebu dari Abad ke-17 Ditemukan di Pasar Rebo

Penamaan Pasar Gede kata Mulyono, karena bangunannya yang menyerupai benteng dengan pintu masuk seperti istana yang beratap besar dan megah.

"Lalu kalau Hardjonagoro itu diambil dari nama seorang keturunan Tionghoa yang mendapat gelar KRT Hardjonagoro dari Keraton Surakarta. Jadi memang secara fisik, banyak sekali ditemukan beragam unsur budaya Jawa, Belanda, dan Tiongkok dalam bangunan pasar yang usianya hampir mencapai satu abad ini," ujar Mulyono.

Pasar Gede Hardjonagoro juga dikenal sebagai simbol harmoni sosial budaya yang berkembang di sana.

Baca juga: Satu Abad Soeharto, Titiek Sebut Bapak Bersedih Lihat Kondisi Saat Ini, Singgung Utang Indonesia

Mulyono mengatakan, tak jauh dari lokasi pasar terdapat klenteng tertua di Solo bernama Klenteng Tien Kok Sie.

Hal tersebut yang menjadikan Pasar Gede Solo suatu simbol kebersamaan dan toleransi karena ragam sosial budaya di sana.

"Malah biasanya kalau setiap perayaan Imlek, kawasan Pasar Gede Solo disulap jadi tempat yang menarik sehingga menjadi magnet bagi wisatawan dari luar Solo," ujar Mulyono. (m36)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved