Rabu, 20 Mei 2026

Opini

Mewujudkan Zero New Stunting Kota Depok

Ternyata Covid-19 berdampak juga terhadap peningkatan risiko stunting di Kota Depok. Depok memiliki angka stunting terendah se Jawa Barat.

Tayang:
Editor: Dodi Hasanuddin
Warta Kota
Mewujudkan Zero New Stunting Kota Depok. 

WARTAKOTALIVE.COM, DEPOK - Mewujudkan Zero New Stunting Kota Depok. Covid-19 menyebabkan stunting di Kota Depok tahun 2020 meningkat. Apa masalah dan solusinya ?

Tahun 2020 memang tahun duka bagi dunia. Covid-19 yang berasal dari negara Cina merebak ke seluruh dunia. Depok digegerkan oleh berita seantero nusantara, masih ingat? Kepala Negara RI Jokowi, pada tanggal 2 Maret 2020 mengumumkan 2 warga Depok dikabarkan positif terkena covid-19.

Mereka tertular dari warga Jepang dari interaksi pekerjaan di Jakarta. Begitu cepat penyebaran penyakit pandemi ini. Semua orang dibuat kalang-kabut mengatasi penyakit ini, termasuk pemerintah pusat dan daerah.

Hampir 2 tahun Covid-19 kita rasakan dampaknya. Semua orang didunia terimbas akibatnya. Bidang kesehatan, ekonomi dan pendidikan yang paling banyak pengaruhnya.

Pemerintah Kota Depok sama seperti pemda lainnya di Indonesia mengalami kebijakan keuangan yang selama ini belum pernah terjadi, yaitu yang disebut sebagai recofusing.

Apalagi Depok berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, sangat cepat penyebarannya. Data pertanggal 29 Maret 2022 sebanyak 162.705 orang tertular Covid-19. Mereka yang dinyatakan sembuh sebanyak 157.725 orang, meninggal sebanyak 2.220 orang.

Dampak pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, bidang pendidikan miasalnya kita dipaksa untuk PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), para pekerja harus WFH (Work From Home).

Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Depok sampai turun minus 1,92. Apalagi jika bicara masalah kesehatan. Rumah sakit penuh, oksigen habis, obat-obatan menipis.

Ternyata Covid-19 berdampak juga terhadap peningkatan risiko stunting di Kota Depok. Grafik dibawah ini memperlihatkan hal tersebut.

Gambar 1. Prevalensi Balita Stunting Kota Depok 2016 – 2021
Gambar 1. Prevalensi Balita Stunting Kota Depok 2016 – 2021 

Angka stunting prevalensi balita Kota Depok 2016 – 2021 sumber dari Dinas Kesehatan Kota Depok.

Data ini berbasis menggunakan jumlah sasaran balita riil yang terdata dari posyandu. Berbeda dengan data yang diambil dari Kemenkes dengan menggunakan data sasaran jumlah balita proyeksi.

Walaupun demikian Kota Depok memiliki angka stunting terendah se Jawa Barat, yaitu 12,3 lebih rendah rata-rata stunting Jawa Barat 24,5 dan Indonesia 24,4. Tertinggi angka stunting di Kabupaten Garut 35,2.

Stunting pada balita ditandai tubuh yang pendek karena kekurangan gizi yang akut. Balita yang menderita stunting sangan mudah terkena penyakit dan kecerdasan otak dibawah normal dan rendahnya produktivitas.

(Kemenkes). Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 2 tidak boleh ada kelaparan dan kekurangan nutrisi sampai tahun 2030. Dunia diharapkan sudah dapat memiliki ketahanan pangan yang cukup.

Angka stunting tahun 2025 harus bisa berkurang sebesar 40% maka stunting menjadi target program untuk prioritas yang harus dilaksanakan oleh semua negara, terutama negara berkembang.

Covid-19 sangat mempengaruhi terhadap penangan stunting di Kota Depok. Hal ini menjadi tujuan penulisan saya kali ini.

Terlihat di gambar 1 pada tahun 2020 meningkat angka stunting menjadi 5,31 dimana sejak tahun 2016 Kota Depok selalu bisa menurunkan angka stanting dengan cukup baik.

Terakhir ditahun 2019 sudah di angka 4,55. Signifikansi pandemi Covid-19 sangat mempengaruhi hal tersebut.

I.   Faktor-faktor yang mempengaruhi dimasa pandemi Covid-19 terhadap penambahan balita stunting di Depok.

1. Covid-19 menyebabkan posyandu tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasanya karen banyak para tenaganya terkena Covid dan termasuk para tenaga kesehatannya.

Dapat dipastikan pelayanan kesehatan apapun tidak bisa dilakukan, semua terfokus menangani pandemi ini, yaitu pelayanan pasien gejala Covid-19 termasuk pelayanan untuk balita stunting.

Kebijakan pelarangan dalam masa pandemi seperti dilarang berkumpul, social distancing. Kegiatan mengevaluasi balita dimasa pertumbuhan tidak dapat dilakukan, seperti menimbang bayi untuk mengetahui berat badan bayi, mengukur tumbuh panjang bayi dan lain-lain tidak bisa dilakukan.

Perekaman dan pencatatan umur bayi 0 -59 bulan menjadi bagian penting. Sementara covid-19 berlangsung 2 tahun. Pertumbuhan balita pada usia tersebut dari hasil penelitian adalah sangat pesat masa pertumbuhannya.

Dampak yang dapat terlihat dari berkurangnya suplai makanan bergizi/bernutrisi untuk asupan balita akibat dari Pembatasan Sosial Bberskala besar. (Widiastuti & Winarso, 2021).

2.  Angka Kemiskinin meningkat, banyak dari masyarakat terkena PHK. Para pedagang gulung tikar karena tidak ada orang keluar rumah.

Masyarakat prasejahtera bertambah berakibat kemungkinan besar bertambahnya kasus stunting di masyarakat. Kesulitan hidup tak mampu untuk membeli makanan pokok apalagi bergizi memperparah kondisi terhadap tumbuh kembang balita yang ada didalam keluarga miskin.

Para ibu yang sedang hamil juga akan kekurangan makanan bergizi yang menyebabkan bayi yang lahir mengalam stunting. Para ahli 32% tahun 2020 meningkat angka stunting ini dari 27% tahun 2019.

Inilah betapa Covid-19 sangat mengganggu gizi ibu hamil dan balita stunting. Covid-19 mempengaruhi faktor ekonomi mengakibatkan pendapatan menurun membuat daya beli masyarakat menurun.

Kebutuhan untuk masalaha pokok pemenuhan konsumsi pangan bergizi tak dapat dipenuhi. Gizi anak tidak tercukupi karena kebutuhan gizi tidak terpenuhi akibat warga cenderung berhemat dalam mengeluarkan untuk sehari-hari kebutuhan mereka. (Efrizal, 2020).

Faktor utama terjadinya stunting adalah kurangnya konsumsi makan bergizi pada balita.  (Widiastuti & Winarso, 2021).

Pertumbuhan anak harusnya terpenuhinya makanan yang mengandung protein, vitamin, mineral yang berkecukupan. Hal menjadi tidak terpenuhi akibat warga tak punya pendapatan atau penghasilan yang rendah. (Kusuma, 2018).

3. Masih banyak warga tidak memiliki pemahaman tentang bahaya stunting. Istilah stunting saja masih banyak juga yang belum mengetahui. Balita kekurangan gizi, tumbuh tidak normal masih dianggap biasa.

Sosialiasi dan strategi untuk memberikan pemahaman ini harus bisa terus dilakukan dari tingkat pusat sampai kedaerah dan desa-desa agar pengetahuan bagaimana pencegahan stunting dapat segera terlaksana dengan baik.

Strategi dalam mensosialisasikan menjadi kendala bagi pemerintah daerah dalam mengurangi penanganan stunting ini. Kebijakan-kebijakan terkait daya dukung anggaran maupun peraturan-peraturan serta program juga belum banyak mengarah kepada upaya pencegahan pencegahan dan penanganan kasus stunting masih rendah.

Apalagi jika kita lihat di desa-desa masih memandang bayi yang menderita gizi rendah hal yang biasa.  Begitu juga keikutan peran serta orang tua yang tanggap dalam menangani kasus terjangkitnya balita terkena Covid-19 maupun non covid-19.  (Alpin et al., 2021).

Sebagian masyarakat juga masih menganggap bahwa Covid-19 itu tidak ada. Peraturan yang dibuat oleh pemerintah agar menggunakan masker, dilarang berinterkasi dalam keramaian sangat diabaikan.

Para orang tua dengan sengaja membawa balita dalam berinteraksi dengan siapapun secara bebas dengan mengabaikan dan menerapkan protokol. Hal ini menjadi meningkatnya seorang anak akan berisiko tertular covid-19 (Perwiraningrum et al., 2020).

4. Covid-19 menyebabkan suplai oksigen kedalam tubuh akan berkurang. Setiap orang penderita penyakit Covid-19 pasti akan menurun saturasi oksigen didalam tubuhnya.

Oksigen sangat dibutuhkan dalam pembakaran makanan dalam tubuh. Jika kadar oksigen berkurang dapat dipastikan seseorang ibu hamil akan terganggu terhadap kecukupaan makanan ke janin didalam rahimnya. Bayi yang lahir akan kemungkinan menderita stunting.

II.       Mengatasi Stunting di Tengah Pandemi Covid-19

Gambar 2. Program Pemda dalam Menurunkan Stunting
Gambar 2. Program Pemda dalam Menurunkan Stunting 

Selama pandemi berlangsung sudah menjadi tugas Pemerintah Pusat dan Daerah dalam menanggulanginya. Pembangunan terganggu akibat anggaran berbagai kegiatan dialihkan untuk penanganan pandemi ini.

Covid-19 adalah peristiwa tanggap darurat atau kebencanaan non alam, sehingga dana-dana cadangan dalam APBN maupun APBD dapat digunakan.

Bahkan anggaran lain juga di recofusing dalam rangka penyelamatan nyawa manusia yang terjangkit Covid -19.

Setahun pandemi ini berjangkit di Kota Depok terlihat adanya dampak meningkatnya angka stunting (2020). Fokus dalam penangan satu kasus menyebabkan bertambahnya kasus stunting.

5 pilar strategi pencapaian percepatan penurunan stunting di Kota Depok mengajak 5 unsur yang sesuai Peraturan Pressiden 72 tahun 202.

Inovasi Kota Depok dalam percepatan penurunan stunting yang meliputi upaya sesuai Pilar 1 sampai Pilar 5 terangkum dalam inovasi dan atas dasar identifikasi masalah.

Yaitu masih rendahnya pengetahuan tentang pentingnya status gizi yang baik, pola pengasuhan yang kurang tepat, ketersediaan pangan di rumah tangga terbatas. Pemda Depok membuat 2 program:

1.  Hebring Juara Depok, yaitu sebuah singkatan yang memiliki arti “hayuk berantas stunting mewujudkan anak sehat jiwa dan raga Kota Depok”.

Kegiatan-kegaitan yang digagas dengan kolaborasi dan partisipasi bersama dalam konsep Pentahelix, yaitu kegiatan yang melibat Pemerintah, Akademisi, Media, Pembisnis dan Masyarakat (warga, komunitas). Adapun kegiatan yang dilakukan:

Info Podkes: informasi, edukasi dan promosi kesehatan. Pemantauan tumbuh kembang rutin untuk deteksi dini, serta sistem rujukan berjenjang. Seperti yang kita ketahui bersama posyandu selama pandemi C-19 tidak beroperasi. Tetapi pemantauan harusnya tetap dilakukan.

Perkembangan teknologi 4.0 dan era globalisai membuat media sosial berkembang pesat. Ini peluang bagi para pelaku usaha dan pemerintah untuk bisa berkampanye melalui media sosial, baik telepon online, SMS atau WhatsApp grup, dan media sosial lainnya.

Pesan-pesan kepada warga yang sedang hamil atau memiliki balita untuk memberikan edukasi bagaimana memberikan gizi yang baik untuk buah hati. Kegiatan ini dapat melibatkan semua sektor dan mitra pembangunan.

- STAR : Stunting Warrior. Intervensi stunting bukan hanya pada balitanya dan ibu hamil, tetapi juga dari para calon ibu. Pemda Depok melalui dinas Permberdayaan  dan Perlindungan Perempuan dan Keluarga Berenca merekrut remaja dan membuat pelatihan dan sosialisasi pencegahan stunting.

Remaja Putri disiapkan untuk menjadi calon ibu yang faham dan ikut berperan dalam memerangi stunting.

- Congklak Gasing: Cooking class makanan untuk cegah stunting. Masih banyak para ibu yang belum mengetahui jenis makanan yang sehat dan juga cara memasak yang benar agar gizi, vitamin yang terkandung didalamnya bisa hilang. Begitu juga dengan cara penyajian yang membuat buah hati mau untuk memakan yang disajikan oleh sang ibu.

2. D’Stunting Menara: Depok Sukses Bebas Stunting mewujudkan Kota Ramah Anak.

Ocan Bananas: Ojek Cantik Pembawa Makanan Anak Stunting. Pemberian gizi yang baik. Berkurangnya daya beli masyarakat membuat kecukupan gizi balita dan ibu hamil tidak tercukupi.

Pemda Depok menghadirkan kegiatan ini dengan memberikan layanan prioritas kepada warga yang memiliki balita dan ibu hamil bagi warga yang tidak mampu.

Pandemi membuat warga tidak boleh keluar rumah maka peran petugas yang didukung oleh pemerintah melalui PKK mengunjungi rumah untuk memberikan tambahan makanan bergizi dalam mensukseskan program pengurangan penderita stunting.

Bantuan yang diberikan berasal dari anggaran pemerintah, sumbangan masyarakat, pelaku bisnis. Makanan yang diberikan berupa pemberian susu formula dan suplemen gizi.

Gambar 3. Program Ocan Bananas salah satu Mengurangi Stunting di Kota Depok.
Gambar 3. Program Ocan Bananas salah satu Mengurangi Stunting di Kota Depok. (Istimewa)

- Cawan Kasih: Capai Keluarga Rawan dengan Cinta Kasih. Data keluarga rawan stunting dijadikan sasaran untuk melakukan kegiatan ini.

Kegiatan mengajarkan bagaimana meningkatkan kesadaran kepada orang tua atau pengasuh balita bahkan wanita usia subur mengenai pentingnya melaporkan dan menggunakan macam-macam jasa layanan untuk memperbaiki gizi keluarga.

Pelayanan yang telah disesuaikan protokol kesehatan dan waktu yang tepat ketika balita mengalami gizi buruk serta bagaimana prosedur penanganannya. Program ini memberikan dorongan bagaimana kita menjalani hidup sehat dan menguatkan daya kekebalan tubuh.

Selain memakan makan yang bergizi, halal juga dengan pola olahraga teratur dan istirahat yang cukup. Seseorang atau keluarga dapat konsultasi dan konseling menggunakan layanin ini dalam berbagai hal terkait kesehatan ibu hamil dan balita.

- Layang Gantung: Pelatihan dan Pelayanan Kemandirian Ekonomi Keluarga untuk Cegah Stunting. Pemerintah Kota Depok memiliki program 1000 perempuan pengusaha terutama untuk Peka (perempuan kepala keluarga).

Adanya para perempuan yang ditinggalkan oleh suami baik karena wafat atau cerai membuat seorang perempuan harus berusaha  menjadi kepala keluarga, menghidupkan anak-anaknya.

Hasil program-program yang dilaksanakan Pemda Depok bisa dilihat tingkat keberhasilannya angka stunting pada tahun 2021 menurun menjadi 3,5 dari 5,31 (2020). Program dan kerja keras membuahkan hasil yang tidak pernah bohong.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved