Sabtu, 11 April 2026

Virus Corona

Indonesia Punya Modal Imunitas, Epidemiolog: Tapi Virus Penyebab Covid-19 Tidak Melemah

Bahkan, jika melihat dari tren saat ini, Dicky menyebut Omicron subvarian BA.2 bisa ditempatkan sebagai virus yang paling diwaspadai.

Istimewa
Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman mengingatkan, Covid-19 masih bisa berdampak serius, meski cakupan vaksinasi global dan nasional terus meluas. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman mengingatkan, Covid-19 masih bisa berdampak serius, meski cakupan vaksinasi global dan nasional terus meluas.

"Memang sudah ada modal imunitas dan tampak dari hasil serologi survei."

"Tapi perlu diingat, musuh tidak melemah. Virus penyebab Covid-19 tidak melemah," tegasnya kepada Tribunnews, Sabtu (26/3/2022).

Baca juga: Pemecatan Terawan Berawal dari Terapi Cuci Otak Sejak 2013, Dianggap Langgar Kode Etik oleh IDI

Bahkan, jika melihat dari tren saat ini, Dicky menyebut Omicron subvarian BA.2 bisa ditempatkan sebagai virus yang paling diwaspadai.

Karena, subvarian ini infeksius dan paling cepat menular, hampir serupa campak.

"Di muka bumi saat ini, sub varian BA.2 menujukkan situasi tidak main-main."

Baca juga: Bersyukur Hukumannya Diperberat, Angelina Sondakh: Sekarang Saya Tidak Butuh Barang Bermerek

"Dan ingat, kita merespons pandemi ini sebetulnya yang kuat dan relatif maksimal baru satu tahun, yaitu sejak 2021," tutur Dicky.

Pada tahun sebelumnya, Indonesia, kata Dicky, cukup berat menghadapi Covid-19.

Baru di tahun 2021 Indonesia memiliki vaksin Covid-19 sebagai strategi.

Baca juga: Sambut Baik Tawaran Mediasi Menteri Kesehatan, PB IDI: Apakah Terawan Berkeinginan?

Selain itu, banyak negara sudah mengenal protokol kesehatan dan kombinasi pembatasan kegiatan. Namun, itu baru satu tahun, dan Dicky menegaskan masalah belum selesai.

"Dan ini harus kita sikapi dengan penuh kehati-hatian."

"Jangan sampai jerih payah 2021 jadi mundur, bahkan banyak negara melonggar."

Baca juga: Bukan Nasdem, PKB Jadi Perahu Politik Baru M Taufik Setelah Hengkang dari Gerindra

"Apa yang terjadi di Eropa dan Cina, sebagian sudah ada yang lockdown. Itu menunjukkan belum benar-benar lepas," bebernya.

Ia pun menyarankan negara jangan terlalu melonggarkan aturan atau mengegas, karena berbahaya.

Pemerintah harus tetap memainkan gas dan rem, tapi memang tidak seketat seperti sebelumnya.

Baca juga: Tak Ungkap Dalang Megakorupsi Hambalang, Angelina Sondakh: Saya Takut, Keanu Harus Selamat

"Tapi kalau benar-benar dilepas ini berbahaya."

"Jadi sekali lagi dengan adanya pelonggaran, silakan."

"Tidak ada karantina, tes, itu bisa. Tapi 5M jangan lepas. Masker lepas, pembatasan kapasitas lepas, ini berbahaya," paparnya. (Aisyah Nursyamsi)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved