Muhadjir Effendy: Kebenaran di Era Post Truth Saat Ini Tergantung Jumlah Follower dan Like

Dalam era post truth, Muhadjir mengatakan orang yang benar bisa disalahkan, dan yang salah justru dianggap sebagai pahlawan.

Editor: Yaspen Martinus
Tribunnews.com
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan, Indonesia paling terdampak era post truth alias pasca-kebenaran. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan, Indonesia paling terdampak era post truth alias pasca-kebenaran.

"Era post truth itu, menurut saya yang paling menderita negara kita."

"Kita adalah termasuk negara yang paling menderita kena dampak post truth, era pasca kebenaran itu," ujar Muhadjir dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Perpustakaan 2022 di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (29/3/2022).

Baca juga: Kadiv Humas: 98 Persen Belanja Barang-barang Polri Menggunakan Produk Dalam Negeri

Dirinya mengatakan, saat ini kebenaran tidak diukur lagi melalui temuan yang bisa dipertanggungjawabkan secara prosedural dan dipertahankan secara profesional.

Dalam kondisi ini, masyarakat lebih melihat kepada keterkenalan seseorang di media sosial, yakni dengan merujuk kepada jumlah follower atau pengikut.

"Saat ini, kebenaran datang dari seberapa followernya, berapa yang like, dan berapa yang kemudian mengupload ulang."

Baca juga: Ganti Gorden di Rumah Dinas DPR Rp48,7 Miliar, Formappi: Dukung Produk Dalam Negeri Harus Boros?

"Sehingga kebenaran itu berapa jumlah follower, bukan apakah benar atau tidak," tutur Muhadjir.

Dalam era post truth, Muhadjir mengatakan orang yang benar bisa disalahkan, dan yang salah justru dianggap sebagai pahlawan.

Setiap orang, kata Muhadjir, dapat membangun citra dirinya melalui media sosial.

Baca juga: Sekjen PDIP: Setop Wacana Tunda Pemilu 2024 yang Tidak Produktif, Mari Gotong Royong Bantu Rakyat

"Kalau orang yang pandai membangun marketeer, self marketingnya, maka dia akan bisa membangun image tentang dirinya."

"Orang yang salah bisa dibalik dia yang dizalimi."

"Orang yang berbuat zalim bisa saja kemudian dianggap sebagai pahlawan di era post truth ini," ulas Muhadjir.

Dirinya meminta perpustakaan dapat membantu meningkatkan literasi digital, agar masyarakat tidak terjerumus informasi yang salah. (Fahdi Fahlevi)

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved