Virus Corona

Vaksin Booster Jadi Syarat Mudik Lebaran, Epidemiolog Nilai Tak Adil

Namun jika diterapkan ke seluruh lapisan masyarakat, Dicky menyebutkan hal itu cukup sulit.

Editor: Yaspen Martinus
Dokumentasi Pribadi Dicky Budiman
Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman menilai vaksin booster sebagai syarat mudik Lebaran, tidak adil. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman menilai vaksin booster sebagai syarat mudik Lebaran, tidak adil.

"Upaya percepatan, akselerasi booster kalau diwajibkan semua jelas tidak akan ada tercapai."

"Karena kita masih di bawah 10 persen," ujar Dicky kepada Tribunnews, Sabtu (25/3/2022).

Baca juga: Desak Yaqut Cholil Qoumas Diproses Hukum, Novel Bamukmin: Lebih Parah dari Sukmawati

Vaksin booster bisa didapatkan orang lanjut usia atau memiliki komorbid, serta status vaksin Covid-19 dosis kedua sudah di atas 3-4 bulan.

Namun jika diterapkan ke seluruh lapisan masyarakat, Dicky menyebutkan hal itu cukup sulit.

"Dan itu saya melihat jadi tidak adil, karena adanya upaya pelonggaran di aspek lain. Harus ada opsi," tutur Dicky.

Baca juga: Pemerintah Bolehkan Mudik Lebaran, Dokter Paru: Jangan Pakai Masker Kain Atau Bedah, Baiknya N95

Opsi lain yang bisa dilakukan adalah melakukan tes antigen untuk yang belum sempat melakukan booster padahal sudah waktunya.

Beberapa kendala masih ditemukan dalam pemberian booster, di antaranya seperti sudah mendaftar tapi belum terpanggil dan masih banyak hal lain.

"Jangan menjadi beban ke publik. Upayanya betul, tapi masih ada opsi lain."

Baca juga: Wamenag Berharap Pemerintah Arab Saudi Segera Umumkan Kepastian Keberangkatan Jemaah Haji

"Satu, tentu melakukan tes antigen, tapi jangan PCR."

"PeduliLindungi minimal dua dosis vaksin. Ini penting, itu yang harus dipastikan," papar Dicky.

Menurut Dicky, pemerintah harus konsisten dalam menanggapi masalah, agar kepercayaan masyarakat dapat terbangun dan sama-sama menyadari situasi belum pulih.

"Masalahnya sudah dibangun optimisme, bisa mudik, melakukan pelonggaran, tapi optimisme ini tidak disertai informasi bahwa situasi relatif genting, sehingga ada upaya memitigasinya," ulas Dicky. (Aisyah Nursyamsi)

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved