Eksklusif Warta Kota

Rektor IPB Arif Satria : Inilah Solusi Saat Minyak Goreng dan Tempe Langka - (1)

Dengan mahalnya harga minyak goreng dan hingga sempat langka, membuat IPB mengembangkan inovasi-inovasi

Ibnu Furqonulhaq
Rektor IPB Prof Dr Arif Satria, SP, M.Si dalam wawancara eksklusif dengan Warta Kota 

Orang sekarang semakin sadar bahwa kemandirian pangan harus terjaga dan karena itu maka inovasi itu suatu keharusan.

Kami akan membuat banyak inovasi-inovasi di lapangan berupa hilirisasi inovasi kampus.

Kalau bibit ada mestinya bisa ditanam, tetapi kenapa kita harus mengekspor kedelai dari Amerika Latin. Ini berarti ini kebijakan dari pemerintah masih di rezim perdagangan bukan produksi.

Rektor IPB Prof Dr Arif Satria bersama dengan Pimpinan Redaksi Warta Kota, Domu D Ambarita
Rektor IPB Prof Dr Arif Satria bersama dengan Pimpinan Redaksi Warta Kota, Domu D Ambarita (Ibnu Furqonulhaq)

Kalau rezim produksi maka akan banyak masyarakat terlibat, mulai dari petani, pemasok pupuk lalu pembeli dan seterusnya. Mata rantai lebih banyak yang terlibat?

Betul. Multiplier effect-nya juga lebih besar kalau kita fokus produksi dalam negeri.

Tetapi tantangannya sekarang adalah bagaimana meningkatkan produksi dengan harga yang bisa lebih murah dari pada impor.

Ini tantangan perguruan tinggi juga. Kami juga harus fair bahwa ini harus dilakukan riset lagi tetapi dengan inovasi kami yang bisa hasilkan 4,6 ton per hektare, sementara rata-rata nasional 1,1 setengah ton per hektare, ini berarti lebih menguntungkan.

Harga pun bisa lebih bersaing dengan harga kedelai impor. Kami sudah uji coba di lebih dari 500 hektare dan bagus hasilnya.

Baca juga: Pemerintah Naikkan Setoran Eksportir, Pasokan dan Harga Minyak Goreng Akan Normal

Bagaimana daya dukung atau minat kerja sama dari Kementerian Pertanian?

Pak menteri (Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo-red) sudah berkali-kali ketemu saya. Alhamdulilah kami punya kerja sama dan punya kolaborasi.

Kami sering promosikan teknik budidaya kedelai dan padi kepada kementerian tetapi memang ada hal-hal teknis yang harus diselesaikan.

Apa itu? Teknisnya adalah bahwa memang untuk produksi benih ya kami harus buat sistem yang benar-benar efisien.

Sekarang IPB sudah produksi benih sendiri misalnya, IPB3S. Tetapi begitu kami jual, harganya tidak semurah harga yang dipatok oleh pemerintah.

Pemerintah mematok untuk pengadaan benih itu harganya X, sementara kami di atas X, jadi harganya tidak masuk.

Saya juga lagi mau negosiasi sama pak menteri, tolong harga HPP (Harga Pembelian Pemerintah-red) naikin sedikit supaya kami juga bisa masuk. (ron/eko-bersambung)

Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved