Penting, Kenali Gejala yang Dirasakan dari Penyakit Gagal Jantung
Angka kematian karena gagal jantung di Indonesia tergolong tinggi, 17,2 persen pasien gagal jantung di Indonesia meninggal saat perawatan di RS.
Penulis: Mochammad Dipa | Editor: Mochamad Dipa Anggara
WARTAKOTALIVE.COM - Penyakit kardiovaskular atau gagal jantung masih menjadi ancaman dan merupakan penyakit yang berperan utama sebagai penyebab kematian nomor satu di seluruh dunia.
Berdasarkan hasil penelitian berjudul Heart failure across Asia: Same healthcare burden but differences in organization of care yang dipublikasikan pada International Journal of Cardiology, jumlah penderita gagal jantung di Indonesia adalah sebesar 5 persen dari total jumlah penduduk.
Angka kematian karena gagal jantung di Indonesia juga tergolong tinggi, 17,2 persen pasien gagal jantung di Indonesia meninggal saat perawatan rumah sakit, 11,3 persen meninggal dalam 1 tahun perawatan, dan 17 persen mengalami rawat inap berulang akibat perburukan gejala dan tanda gagal jantung.
Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Gagal Jantung Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dr. Siti Elkana Nauli mengatakan, bahwa gagal jantung ditandai dengan rawat inap berulang di rumah sakit yang tinggi karena perburukan penyakitnya.
“Jika tidak ditangani dengan baik, angka kematian global akibat penyakit ini diperkirakan dapat meningkat hingga lebih dari 23.3 juta kematian setiap tahun pada tahun 2030,” ungkap Siti dalam webinar edukasi Pentingnya Mengetahui Gagal Jantung Dan Pengobatan Terkini Yang Efektif Dalam Menurunkan Angka Kematian dan Mencegah Perburukan Gagal Jantung, Sabtu (29/1/2022).
Siti kembali menjelaskan, bahwa risiko gagal jantung dapat meningkat pada kondisi pasien yang memiliki penyakit seperti hipertensi, diabetes, riwayat keluarga dengan kardiomiopati, paparan toksin, penyakit jantung katup, gangguan fungsi tiroid, rokok sindrom metabolik.
“Kenyataan yang kita terima di Indonesia adalah pada laki-laki dan perempuan ada sedikit perbedaan dari penyebab gagal jantungnya, dimana pada perempuan, hipertensi dan diabetes merupakan penyebab utama gagal jantung pada perempuan. Sementara untuk laki-laki penyebab gagal jantung itu ada kontribusi dari penyakit jantung koroner, hipertensi dan diabetes,” jelasnya.
Ia mengatakan, gagal jantung terjadi karena kemampuan jantung memompa darah berkurang. Jika irtu terjadi, maka pasien tidak bisa mendapatkan oksigen untuk jaringan dan organ sehingga mengeluhkan mudah lelah.
Lalu, gagal jantung juga terjadi karena kapasitas jantung untuk menerima darah berkurang, akibatnya peningkatan tekanan pada jantung yang mengalami kegagalan tersebut, maka akan menyebabkan penumpukan cairan di berbagai organ seperti paru-paru, hati, perut, ginjal dan bila sudah berat di kaki dan paha.
“Kalau kondisi pasien sudah terjadi penumpukan pada kaki ini menandakan bahwa pasien sudah sangat terlambat meminta pertolongan akibat kondisi dari gagal jantungnya,” ujar Siti.
Siti mengatakan, Jantung memiliki dua fungsi vital yakni dalam pertukaran oksigen dengan karbondioksida yang melibatkan jantung sisi kanan dan paru-paru serta memompa darah ke seluruh tubuh untuk bisa memenuhi kebutuhan masing-masing organ ketika seseorang melakukan aktivitas atau metabolisme saat istirahat.
Oleh karena itu, saat jantung mengalami kegagalan fungsi maka pasien bisa mengeluhkan mudah lelah, sesak napas terutama saat istirahat dan beraktivitas.
Selain itu, pada waktu tidur umumnya pasien membutuhkan bantal lebih dari satu. Sebagian pasien bahkan memilih tidur dengan posisi duduk, merasa tidak selera makan, minum dan makan sedikit sudah kenyang karena ada penumpukan cairan di saluran cerna. Pada kondisi lanjut, sudah timbul bengkak bukan hanya di perut tetapi juga di kedua kaki.
Kemudian, ada juga beberapa tanda yang kadang tak disadari seperti mudah pusing karena gangguan di sirkulasi otak akibat pompa jantung lemah atau tidak sampai darah ke otak dengan baik dan pasien sering terbangun tengah malam karena merasa sesak seperti tenggelam.
“Pada beberapa kondisi, muncul batuk kering yang tidak bisa diobati dengan obat batuk yang selama ini dikonsumsi,” ujarnya.
Menurut Siti, ada dua bentuk pencegahan terhadap gagal jantung, yaitu pencegahan sekunder dimana ketika pasien sudah terkena penyakit jantung jangan sampai terkena gagal jantung dan pencegahan tersier yaitu pasien yang sudah terdiagnosis gagal jantung jangan sampai mengalami perburukan akibat dari gagal jantungnya, sehingga timbul komplikasi penyakit lainnya.
Untuk pengobatan pasien gagal jantung, saat ini di Indonesia berdasarkan pedoman tatalaksana gagal jantung yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Dokter Kardiovaskular Indonesia (PERKI) tahun 2020, terdapat 3 pilar utama pengobatan gagal jantung, yaitu RAS (renin angiotensin aldosteron) blocker, Betablocker, dan MRA (mineraloreceptor antagonist) sebagai lini pertama pengobatan gagal jantung kronik selama tidak ditemukan adanya kontrindikasi.
Tujuan dari pengobatan pada pasien gagal jantung adalah untuk menurunkan angka kematian, menurunkan angka rawat inap berulang di rumah sakit, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
“Kita harapkan dengan meringankan gejala pasien kemudian meningkatkan akapasitas fisik dari pasien tersebut mampu menghidupkan kualitas hidup dan produktifitas pasien untuk bisa kembali ke masyarakat,” tuturnya.
Siti mengungkapkan dari tatalaksana pengobatan gagal jantung tersebut, ada dua obat baru yaitu angiotensin receptor neprilysin inhibitor (ARNI) dan Sodium Glucose Co-Transporter-2 Inhibitors (SGLT2- I) yang direkomendasikan sebagai tambahan terapi pada pasien gagal jantung.
“Ini merupakan obat tambahan yang digunakan sebagai pelengkap dari tiga pilar tatalaksana pengobatan pada pasien gagal jantung. Diharapkan dengan penggunaan obat ini mampu meperbaiki kembali angka mortalitas dan juga pencegahan rawat inap yang berulang,” ungkapnya.
Ia mengatakan, dari dua obat baru tersebut, yang saat ini dipakai oleh PERKI sebagai terapi tambahan pasien gagal jantung adalah SGLT2- I.
“Ternyata dari tambahan golongan obat baru ini maka pencapaian untuk menurunkan angka kematian dan pencegahan terhadap rawat inap berulang akibat perburukan gagal jantung bisa ditekan serendah mungkin, meski tidak bisa diturunkan sebanyak 100 persen, tapi minimal pasien dalam kondisi yang lebih baik dari kondisi sebelumnya,” pungkas Siti. (dip)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/gagal-jantung-perki.jpg)