Kamis, 16 April 2026

CARA Budidaya Anthurim dan Philodendron ala Plantparadise.id, dari Pelosok Ciledug Merambah Dunia

Budidaya tanaman hias seperti anthurim dan philodendron menjadi peluang bisnis yang menggiurkan di tengah himpitan krisis akibat pandemi Covid-19.

Warta Kota/Max Agung Pribadi
Budidaya anhutrium dan philodendron sebagaimana dilakukan Michael Saputra dan Jeri Vanzico di Ciledug, Tangerang diyakini menjadi peluang bisnis yang menggiurkan di tengah krisis akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Budidaya tanaman hias seperti anthurim dan philodendron diyakini menjadi salah satu jalan untuk bertahan di tengah krisis akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.

Setidaknya hal ini menjadi keyakinan dua pria yang menekuni budi daya kedua tanaman ini, Michael Saputra (30) alias Pampam dan Jeri Vanzico (33) yang akrab disapa Ivan.

Keduanya mengembangkan usaha tanaman hias di rumah Ivan di kawasan Ciledug, tepatnya Perumahan Japos sejak tiga tahun terakhir.

Ketekunan keduanya terlihat dari banyaknya tanaman yang dihasilkan dan aktivitas penjualan dengan transaksi yang menggiurkan.

Tak hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal, tanaman yang mereka kembangkan sudah beredar di seluruh dunia dan dipasarkan lewat akun instagram @plantparadise.id.

Anthurium dan philodendron yang mereka kembangkan berdua di pelosok Ciledug kini sudah merambah sejumlah negara di benua Eropa seperti Finlandia, Denmark, Jerman, Spanyol, Perancis, dan Italia.

Sementara di Asia mereka pernah mengekspornya ke Jepang, China, Korea Selatan, dan sejumlah negara Asia Tenggara.   

Saat ditemui di rumahnya, Kamis (13/1/2022), Ivan baru saja menyelesaikan packing dua tanaman philodendron yang akan dikirim ke Korea Selatan. 

Ivan juga memasarkan koleksinya lewat media sosial, terutama instagram dengan akun @nepidnursery.

Tanaman sudah terbungkus rapi dalam kotak kardus, lengkap dengan sertifikat karantina tanaman.

“Untuk pengiriman ke luar negeri memang ada SOP yang harus diikuti dari balai karantina tanaman. Tanaman itu harus masuk karantina dua minggu dan diperiksa di laboratorium untuk memastikan ada tidaknya hama, bakteri, virus, dan lain-lain. Setelah aman, baru kita packing dan kirim. Untuk proses pengurusan karantina itu kita kerjasama dengan pihak ketiga, jadi lebih mudah pengurusannya,” tutur Pampam.

Menurut Pampam, mengembangkan philodendron dan anthurium memang memerlukan ketekunan.

Ia memulainya sekitar tiga tahun lalu.

Kini sepotong tanaman philodendron atau anthurium koleksi mereka laku dijual Rp 75 juta sampai Rp 90 jutaan. 

Ivan mengatakan, harga tanaman ditentukan dari banyaknya daun dan kelangkaan.

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved