Pendidikan Harus Inklusif, Maknai Kembali Arti Prestasi dengan Pola Pikir Pro-Growth
Sambut semester baru, Ruangguru melakukan riset terhadap 360 lebih responden dari seluruh Indonesia guna memahami makna pendidikan.
Penulis: Mochammad Dipa | Editor: Mochamad Dipa Anggara
WARTAKOTALIVE.COM - Sambut semester baru, Ruangguru melakukan riset terhadap 360 lebih responden dari seluruh Indonesia guna memahami aspirasi dan persepsi masyarakat terhadap makna pendidikan dan prestasi.
Riset menunjukkan bahwa 42,15 persen responden menganggap penting bahwa pendidikan merupakan kunci jaminan masa depan yang lebih sejahtera dan tidak terbatas hanya pada pencapaian akademis, sehingga motivator dan inspirasi justru datang dari teman kelas yang mampu menyeimbangkan kesenangan dan tanggung jawab akademis.
Selain itu, riset juga menunjukkan bahwa 49,59 persen responden menyatakan bahwa makna juara bagi mereka adalah saat mereka mampu untuk membuat perubahan yang lebih baik di dalam hidup mereka, sehingga tidak banyak dari responden merasa terinspirasi dengan temannya yang selalu meraih ranking 1 di kelas mereka.
“56,74 persen responden juga menganggap bahwa sistem pendidikan terkadang memiliki keberpihakan kepada pelajar dengan ranking atas, padahal mereka senang dengan pendidik yang dapat merangkul semua pelajar dan mengajarkan materi secara menyenangkan,” ujar VP Marketing Ruangguru Ignatius Untung Surapati saat media gathering kampanye #IniBaruJuara secara virtual pada Selasa (4/1).
Untung menambahkan, bahwa pendidikan harus inklusif. Melalui kampanye #IniBaruJuara, Ruangguru menegaskan bahwa pendidikan berkualitas, tak berjarak, dan fleksibel seharusnya menjadi hak semua siswa.
"Kami mengerti bahwa kesuksesan dan prestasi memiliki keanekaragaman makna, dan senantiasa dijadikan sebagai cerminan atau refleksi nilai diri setiap pribadi. Oleh karena itu, fungsi nilai akademis dan ranking seharusnya hanya sebatas tolok ukur pemahaman materi dan menjadi landasan strategi sistem pendidikan dalam mengatur program studi, dan bukan sebagai patokan penilaian kesuksesan dan standar prestasi siswa yang bersifat final," ujar Untung.
Duta Belajar Ruangguru yang juga seorang aktor, Nicholas Saputra, mengaku merasakan relevansi dengan pesan kampanye #IniBaruJuara.
Dia melihat dan mengalami sendiri, masih banyak pihak mendefinisikan prestasi berdasarkan pengukuran nilai akademis. Sehingga, prestasi akademis menjadi tolok ukur utama dan cerminan nilai diri.
Menurut Nicholas, hal itu membuat semangat pelajar rentan patah ketika mendapatkan nilai yang kurang baik.
"Pesan kampanye ini menegaskan pentingnya pendidikan yang inklusif untuk mencerdaskan anak bangsa. Makna belajar adalah proses pengenyaman ilmu dan keterampilan untuk menjadi versi diri yang lebih baik dari sebelumnya, oleh karena itu, seharusnya setiap pencapaian, baik besar ataupun kecil, patut diakui dan dihargai," tuturnya.
Senada, psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo menjelaskan bahwa orang tua dan pendidik berperan penting menanamkan pola pikir pro-growth sejak dini.
Dengan begitu, anak paham bahwa makna kesuksesan dan prestasi terukur dari setiap pencapaian apapun yang didapat demi kebaikan diri sendiri.
"Orang tua dan pendidik patut menuntun anak-anak sehingga dapat menanamkan pola pikir yang mengakui segala bentuk pencapaian, bukan hanya demi kebaikan diri tetapi juga untuk membangun rasa percaya diri mereka. Sehingga perlahan-lahan, pencapaian signifikan pun memiliki makna yang lebih mendalam," ujar Vera. (dip)