Selasa, 19 Mei 2026

Pandemi Virus Corona

BNPB Minta Pemerintah Daerah Koordinasi dengan Kemenkes agar Data Covid-19 Sinkron

BNPB memaparkan cara mengumpulkan data Covid-19, sebab akhir-akhir ini kerap memunculkan perbedaan data dengan daerah.

Tayang:
Editor: Valentino Verry
Istimewa
Ilustrasi - BNPB memaparkan cara mengumpulkan data Covid-19 yang benar agar tak menimbulkan perbedaan dengan daerah. 

"Kita masih protokol kesehatan, kita harus pakai masker yang kadang-kadang sesak kalau kita bicara panjang lebar, karena udara untuk bernapas terasa kurang."

"Juga masih harus jaga jarak. Tapi bisa tidak, kita hidup berdampingan dengan Covid-19? Bisa," tutur Lula, dalam webinar Allianz Life Indonesia bertajuk 'Mungkinkah Kita Hidup Berdampingan dengan Covid-19?' Kamis (21/10/2021).

Kendati masih harus terus menerapkan protokol kesehatan, perkembangan ilmu pengetahuan dan farmasi kini tidak hanya menghasilkan vaksin untuk virus tersebut.

Namun, juga mulai menemukan obat yang diklaim bisa membuat Covid-19 menjadi penyakit yang tidak terlalu mengkhawatirkan.

Bahkan, Lula menyebut penyakit ini nantinya kemungkinan akan mirip seperti tifus, mereka yang mengalaminya bisa kembali pulih setelah mengonsumsi obat.

"Paling jelas seperti sakit tifus, kita kasih obatnya, selesai dan sembuh, ada antibiotiknya untuk menyelesaikan," papar dr Lula.

Obat yang diklaim dapat mengurangi jumlah kasus rawat inap dan kematian di Amerika Serikat (AS) dan sedang diperbincangkan secara global itu disebut Molnupiravir, yang dikembangkan perusahaan farmasi AS, Merck.

"Kalau Covid-19 ada antivirusnya, yakni Molnupiravir untuk menyelesaikan, obatnya ketemu, maka selesai (pandemi ini), itu harapan kita semua," harap dr Lula.

Indonesia Rencanakan Uji Klinis

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pihaknya terus bekerja sama dengan BPOM dan berbagai rumah sakit vertikal, untuk melakukan review dan uji klinis obat-obatan dalam penanganan Covid-19 di tanah air.

Baik yang bersifat monoclonal antibodies (protein buatan yang meniru kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk melawan patogen berbahaya), seperti obat-obatan besutan produsen Ely lili, Renegeron, maupun celltrion.

Juga, obat-obatan yang bersifat antivirus seperti Molnupiravir buatan perusahaan Amerika Serikat Merck.

"Jadi obat-obatan tersebut sudah kita approach pabrikannya," ujar Budi dalam konferensi pers virtual Perpanjangan PPKM, Senin (4/10/2021).

Budi melanjutkan, Indonesia juga merencanakan memulai uji klinis sejumlah obat-obat itu.

"Diharapkan di akhir tahun ini kita sudah bisa mengetahui obat-obat mana kira-kira cocok untuk kondisi masyarakat kita," imbuh mantan Dirut Bank Mandiri ini.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved