Pendakian Gunung
Dinginnya Hujan Bulan November di Gunung Sumbing
Mendaki Gunung Sumbing di musim hujan menghadirkan banyak kejutan, mulai dari ojek spesialis gunung sampai dinginnya hujan di bulan November.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Jangan pernah meremehkan pendakian ke puncak gunung apapun.
Setiap saat cuaca dapat berubah dan kita harus siap dengan peralatan yang memadai atau alam yang akan merengkuhmu.
Dalam kekerdilan dan kesendirian di alam bebas, setiap jejak langkah yang kita ambil membawa konsekuensi yang ditanggung secara personal.
Pendakian pada musim hujan yang semula berlangsung lancar tanpa kesulitan nyaris berubah menjadi petaka saat sekelompok pendaki diterpa badai seturun dari puncak Gunung Sumbing (3.371m) di Jawa Tengah.
Mantan wartawan Kontan Christiantoko yang ikut dalam pendakian tersebut bersama lima temannya, mengisahkan pengalamannya kepada Warta Kota.
TANAH basah bekas hujan masih terasa saat kami tiba di Nepal van Java -nama yang sedang viral di media sosial untuk Dusun Butuh, di Kaliangkrik, Magelang- pada Kamis (11/11/21) pukul 17.10 WIB.
Mendung tebal masih menggelayut, kabut mulai turun, dan hawa dingin mulai terasa menusuk kulit.
Kami dijemput ojek di gapura Desa Butuh dan diantar ke rumah Pak Suheri, salah satu warga Dusun Butuh yang letaknya tak jauh dari basecamp, untuk menginap.
Dengan kontur yang naik-turun, suara ojek motor meraung-raung, lincah menyelap-nyelip di jalan-jalan kecil perkampungan dan sesekali lewat depan rumah warga di pinggiran gang sempit.
Kami, enam ABG –Anak Baru Gocap, karena hampir semuanya telah melewati usia 50 tahun—yang pernah tinggal bersama di sebuah asrama Wacana Bhakti angkatan pertama puluhan tahun silam, kali ini mendaki Gunung Sumbing (3.371m) lewat jalur Butuh, Magelang.
Kami berenam adalah Putut, anggota rombongan yang paling gaek, berusia 57 tahun, Rocky 53 tahun, Encis, Untoro, Triyanto tahun ini berusia 50 tahun dan satu-satunya yang paling muda adalah Agung 48 tahun.
Dalam pendakian kali ini, kami ditemani @bumiadv, penyelenggara perjalanan outdoor yang sudah beberapa kali membantu.
Gunung unik
Gunung Sumbing ini terbilang unik karena memiliki dua puncak gunung dari arah yang berbeda.
Bila mendaki via Kledung, maka puncak yang dicapai adalah Puncak Rajawali.
Sementara bila mendaki via Butuh, Adipura dan Mangli, maka akan mencapai Puncak Sejati.
Ada juga jalan lain melalui Banaran, tapi akan muncul di kawah, yang membelah puncak Rajawali dan Puncak Sejati.
Adapun untuk menuju puncak Rajawali dari Puncak Sejati, atau sebaliknya, kita butuh sekitar 2 jam karena harus turun ke kawah dan kemudian naik lagi ke puncak yang dituju.
Malam itu, kami terkagum dengan keindahan Dusun Butuh, baik konstruksi rumah-rumah yang bertingkat mengikuti kontur tanah maupun pemandangan alam yang mengitarinya.
Berdiri di teras rumah Pak Suheri, kami seolah bersandar pada kemegahan G Sumbing di belakang, sementara terhampar pemandangan kota Magelang di depan mata.
G Merapi dan G Merbabu serta Ungaran berdiri di sebelah kiri, serta Bukit Manoreh di sebelah kanan.
Jauh di belakang G Merapi, tampak juga perbukitan Gunung Kidul dan Laut Selatan.
Sebelum tidur, kami sempat bercengkerama dengan beberapa penduduk lokal.
Mereka bercerita tentang hujan, hasil panen dan wisatawan yang berdatangan ke Desa Butuh setelah melihat foto dan video di media sosial.
Wahana horror
Jumat (12/11/21) pagi-pagi pukul 06.00 WIB, kami sudah bersiap untuk mendaki.
Agaknya kami beruntung karena udara cukup cerah.
Beberapa ojek gunung sudah berkumpul di depan rumah, siap mengantarkan kami ke bawah Pos 1.
Menurut pemandu, kami bisa menghemat waktu sekitar 1,5 jam bila naik ojek gunung.
Namun kami cukup terperanjat ketika harus duduk di depan pengemudi ojek saat akan berangkat.
Kemiringan jalan yang ekstrem, dengan gradient di atas 25% di beberapa titik serta medan berbatu dengan kelokan-kelokan tajam, benar-benar membuat jantung serasa akan copot.
Seorang teman bahkan sempat meminta ojek berhenti dan turun dari motor, sekadar untuk menenangkan diri.
Bila Anda pernah ke Dunia Fantasi atau Disneyland di negara manapun, saya jamin, ojek gunung di Desa Butuh adalah salah satu wahana horror karena mampu membuat jantung kita berdegup kencang saat berada di atasnya.
Belakangan saya baru tahu bahwa motor-motor yang dipakai untuk ojek gunung ini sudah diganti gear depan atau belakangnya.
Biasanya, mereka memakai gear depan 11t/12t dan gear belakang diperbesar hingga 50t.
Dengan demikian, maka motor dapat terus melaju di jalan dengan kemiringan ekstrem.
Selain itu, penumpang wajib duduk di depan pengemudi karena di jalan curam, ban depan motor berpotensi terangkat apabila berat gravitasi tertumpu di jok belakang.
Hari pertama kami awali dengan canda-tawa di pagi hari setelah semua anggota rombongan turun dari ojek.
Kami membahas bagaimana khawatirnya di atas ojek dengan jalan yang berbatu dan menanjak.
Maklum, kaki penumpang dilarang turun apabila berbelok atau motor sedikit pelan karena akan mengganggu manuver pengemudi ojek.
Setelah berjalan sekitar 25 menit, kami tiba di Pos 1 yang berada di ketinggian 2.127 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Setelah dari Pos 1, kami dihadapkan dengan tangga bertingkat yang seolah tiada habisnya.
Rombongan mulai terpecah dan suasana mulai hening karena masing-masing sibuk mengatur nafas di tanjakan berundak ini.
Sesekali kami masih re-grouping dan melepas tawa, saling mengomentari teman yang berjalan di belakang.
Tapi tanpa diduga, hujan rintik mulai turun.
Ada teman yang mulai memakai raincoat, tapi ada juga yang masih mengadu peruntungan, berharap awan pembawa hujan segera berlalu tersapu angin.
Walau sempat mereda sebentar, hujan yang lebih deras datang sehingga anggota rombongan yang belum sempat mengenakan raincoat segera memakainya untuk menjaga tubuh tetap kering.
Suasana semakin hening.
Hujan yang lebat, dibarengi dengan turunnya kabut sehingga jarak pandang jadi terbatas.
Pos 2 yang berada di ketinggian 2.458 mdpl kami lewati tanpa berhenti untuk berisitirahat.
Berjalan di tengah hujan deras memang membuat kami tak merasa haus.
Sebaliknya, air yang mulai merembes membasahi pakaian serta menembus sepatu, membuat kaki kami basah dan mulai terasa dingin.
Kami harus melewati beberapa sungai kecil yang sebagian di antaranya kering, sebelum akhirnya tiba di Pos 3.
Malam sebelumnya, kami sudah diwanti-wanti oleh petugas di base camp bahwa kami dilarang berhenti dan berfoto-foto di sungai kedua setelah Pos 2.
Sebetulnya kami sempat bertanya dalam hati, mengapa tidak boleh?
Apakah sungai tersebut keramat? Ataukah di sungai ini sering terjadi kecelakaan?
Ataukah pantangan ini merupakan syarat agar kami terhindar dari risiko yang lebih besar?
Berbagai pertanyaan itu batal kami ungkapkan demi menghargai aturan lokal.
Penjelasan dari petugas bahwa batu-batu di sungai tersebut licin sehingga berisiko apabila berhenti di sana, sudah cukup bagi kami.
Bermalam di Pos 3 dirasa sebagai sebuah keberuntungan.
Dengan alasan rombongan kami tergolong pendaki senior (alias sudah tua dan fisiknya lemah), kami sebenarnya sudah mendapatkan izin untuk mendirikan tenda di Pos 4.
Biasanya, pendaki memang bisa bermalam di Pos 4.
Tapi karena sedang dilakukan reboisasi dan area Pos 4 yang berada di ketinggian 3.003 mdpl sudah gundul, maka otoritas melarang pendaki bermalam di Pos 4.
Walau kami sudah mengantongi izin, apa daya hujan deras memaksa kami berhenti di Pos 3 (2.638 mdpl).
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB ketika kami tiba.
Rombongan porter yang berangkat lebih dulu, sudah menyiapkan makan siang buat kami.
Dalam hujan, kami berlindung di bawah flysheet sambil menyantap makan siang dengan lahap.
Usai makan, kami berdiskusi dan memutuskan untuk membuka tenda di Pos 3.
Selain cukup datar, area Pos 3 cukup terlindung dari angin kencang.
Sementara kalau kami memaksakan diri ke Pos 4, selain hujan semakin deras, area di sana akan berbahaya karena berupa savana yang terbuka.
Kami khawatir angin dan hujan-badai dapat membuat tenda porak-poranda.
Agung, anggota rombongan yang paling muda namun paling berpengalaman di dunia pendakian gunung, membantu mendirikan tenda di tengah hujan.
Setelah tenda berdiri, kami masuk dan berganti pakaian kering.
Rintik hujan yang jatuh di atas tenda seolah menjadi musik ritmis yang membantu relaksasi.
Beberapa dari kami bahkan sempat tertidur.
Dari dalam tenda, kami mendengar ada rombongan lain yang datang dan membuka tenda dekat kami.
Menjelang magrib, hujan berhenti.
Kami keluar dari tenda, mengagumi keindahan alam sekitar sambil mendiskusikan rencana berikutnya.
Awan putih menutupi area perumahan dan kota-kota di kaki gunung, sementara puncak gunung Merapi dan Merbabu tampak berdiri tegak.
Sesekali, keluar hembusan awan dan lahar panas dari puncak gunung Merapi. Indah!
Diserbu badai
Sore itu, hujan hanya berhenti sebentar.
Setelah kami selesai makan, rintik hujan kembali turun.
Namun sebelum itu kami sudah sepakat, akan bangun pukul 04.00 WIB, melakukan persiapan dan memulai perjalanan ke puncak.
Kami bukan lagi pendaki yang mengejar sunrise di puncak gunung.
Itu sudah sering kami lakukan dulu, puluhan tahun silam.
Sekarang kami lebih menikmati proses perjalanan dan bercengkerama bersama sahabat lama. Kami pun kembali ke tenda masing-masing.
Dalam tenda kami berdoa, semoga esok hari cerah sehingga kami dapat menikmati perjalanan.
Dan benar, keesokan hari cuaca sangat bersahabat.
Semburat mentari di ufuk timur membuat kami bersemangat menapaki jalan ke puncak.
Setelah menyantap roti yang ditaburi keju dan saus spaghetti bolognaise, rombongan pun berangkat.
Kaki kami dingin karena sepatu basah kehujanan, tapi semangat masih membara untuk mencapai puncak.
Rombongan mulai terbelah dua.
Saya, Agung dan Untoro berada di depan, sementara Rocky, Putut dan Triyanto berjalan lebih pelan.
Beberapa kali kami melakukan re-grouping, sembari berfoto.
Pukul 9.30 WIB, rombongan pertama sampai di Puncak Sejati.
Kami menunggu teman lainnya sembari minum kopi panas dan makan kue-kue kering untuk mengganjal perut sekaligus mengisi bahan bakar.
Tak lama kemudian, datang serombongan anak SMA dari Yogyakarta berjumlah tujuh orang.
Salah satunya mengenakan kostum badut beruang.
Dia bercerita, dirinya biasa mengamen di Jalan Malioboro, Yogyakarta menggunakan kostum tersebut.
Kapan lagi berfoto di puncak gunung bersama badut beruang?
Tak mau kehilangan moment langka tersebut, kami pun berfoto bergantian bersama sang badut.
Rocky, Putut dan Triyanto akhirnya datang bergantian di saat kami sebetulnya sudah memutuskan untuk turun.
Rombongan anak SMA turun lebih dulu, sementara kami menunggu teman yang datang belakangan beristirahat sejenak.
Setelah dirasa cukup, kami pun turun.
Tak dinyana, cuaca yang semula cerah, tanpa aba-aba berubah gelap dan turun hujan, hanya 50 meter setelah kami turun dari puncak.
Kami mempercepat langkah.
Tapi alam tak mengenal kompromi.
Hujan semakin deras.
Kami pun harus mengenakan raincoat seperti hari sebelumnya.
Namun kali ini hujan lebih deras, bahkan disertai angin dan petir.
Dan kami masih berada di atas ketinggian 3.000 mdpl, di tengah savana tanpa ada penghalang pohon apapun.
Hari itu, di atas gunung, di tengah hujan-badai dan petir, saya merasa sendirian dan tak berdaya.
Memang ada pemandu dan teman yang berjalan cukup dekat, tapi bekas jejak mereka segera tersapu air.
Setiap orang harus memilih jalannya sendiri di jalan yang curam.
Tak jarang kami terpeleset karena jalan licin.
Jalur terputus
Setiap langkah harus sangat berhati-hati.
Salah menjejakkan kaki dapat membuat kami tergelincir.
Dan hal itu bisa sangat berbahaya karena kemiringan yang ekstrem akan membuat siapa saja meluncur ke bawah tanpa ada penghalang.
Jalur menyusuri punggungan gunung ini sangat menegangkan.
Saat hujan deras, lereng terjal itu menciptakan sejumlah air terjun yang indah sekaligus mengerikan saking derasnya.
Kembali rombongan terbelah. Agung, saya dan pemandu berada di depan, Untoro dan Putut di tengah, Rocky dan Triyanto di belakang.
Semua berhati-hati menuruni tanah yang miring.
Lewat dari Pos 4, Agung berteriak, “Air terjun di mana-mana!….”
Saya melihat ke sekeliling.
Derasnya hujan membuat garis-garis putih di sekeliling gunung.
Garis-garis itu adalah kumpulan air yang menyatu dan menjadi air terjun di sekeliling kami.
Antara menikmati keindahannya sambil khawatir air semakin membesar, kami terus berjalan.
Benar saja, tak lama kemudian kami mendapati rombongan anak SMA yang sudah lebih dulu turun, berhenti.
Derasnya air sungai telah membuat jalur turun terputus.
Sewaktu kami berangkat, aliran air di sela lereng berbatu besar-besar itu cuma kecil saja.
Tapi begitu mendapat curahan hujan sangat deras, air berubah menjadi sungai besar yang bergejolak liar menuruni batu.
Air yang besar ini mengalir sangat deras.
Dan tepat di bawah titik penyeberangan sungai, ada tebing batu yang sangat besar sehingga akan sangat fatal apabila jatuh dan terseret arus saat menyeberang.
Dapat dipastikan kita akan terbentur batu-batu dan terjun bebas ke dasar jurang.
Dari jauh saya melihat anak-anak SMA ini berkumpul membentuk lingkaran dan berdoa.
Agung turun mendekati mereka di pinggir sungai.
Sementara saya dan Sholeh, pemandu kepala rombongan kami, memilih berteduh di lereng, menghindari udara terbuka karena takut akan petir.
“Saya tak akan menyeberang sebelum teman-teman di belakang datang, “ ujar saya karena mengkhawatirkan teman-teman lain di belakang.
Beruntung salah satu dari kami membawa tali webbing.
Agung bekerja sama dengan porter, membantu menyeberangkan rombongan anak-anak SMA tadi.
Tak terbayang, bagaimana mereka akan melewati sungai itu seandainya tidak mendapat pertolongan.
Agung memberi isyarat agar saya mendekat.
Hujan dan angin kencang dengan cepat dapat menurunkan suhu tubuh bila kami hanya diam saja.
Kami harus terus bergerak agar tak kedinginan.
Nyaris petaka
Keputusan cepat harus diambil.
Dengan pertimbangan mencari pertolongan lebih baik daripada menunggu teman-teman di belakang dan berpotensi kena hypothermia, akhirnya kami putuskan untuk menyeberang.
Proses menyeberang sungai ini sangat menegangkan.
Semua orang fokus sambil berdoa dalam hati.
Di tengah sungai ada batu besar yang cukup menonjol dan dapat dijadikan pijakan antara dua sisi sungai.
Sambil berpegang pada tali webbing, kami harus meloncat ke atas batu itu, baru kemudian meloncat lagi ke seberang sungai.
Dan giliran saya pun tiba.
Trekking pole yang saya bawa saya lemparkan ke seberang sungai agar tak mengganggu pegangan pada tali.
Agung memegang ujung tali di sebelah saya.
Sementara ujung tali satunya diikatkan pada sebuah pohon.
Tiga porter berdiri di seberang saling berpegangan tangan untuk berjaga-jaga.
Saya agak nervous karena berat badan membuat gerakan tak selincah dulu lagi.
Kami semua tegang.
Setelah semua siap, saya pun meloncat ke batu di tengah sambil berpegangan tali.
Dan, hooppsss…..byurrrr!
Saya tergelincir dan jatuh ke sungai yang deras.
Agung dan salah seorang pemandu ikut melompat ke sungai memegang badan saya agar tak terseret arus.
Mereka berhasil, saya lolos dari petaka.
Di seberang sungai, salah satu anggota rombongan anak SMA terduduk menggigil kedinginan.
Suhu tubuhnya menurun drastis.
Ia tak mau melanjutkan perjalanan turun karena tak kuat lagi berjalan.
Dari hidung dan mulutnya keluar busa.
Matanya nanar.
Omongannya mulai ngaco.
Terindikasi kuat, ia terkena hypothermia.
Tanpa berpikir panjang Sholeh menggendongnya turun.
Tapi karena otot yang mulai lelah dan kedinginan, tak jauh berjalan, kaki Sholeh kram.
Agung mengambil alih, menggendong anak itu turun.
Hujan mulai mereda.
Sebagian dari kami kembali ke sungai untuk menjemput teman-teman yang masih ada di belakang.
Situasi agak kacau, tapi terkendali.
Sebagian rombongan anak SMA turun ke tenda mereka di Pos 3 mengambil thermal blanket sambil mencari bantuan.
Kami mulai kehabisan tenaga dan perlu makanan agar panas tubuh tetap terjaga.
Agung dan saya turun secepat mungkin ke tenda mengambil makanan untuk dibawa naik lagi dan memberikannya kepada rombongan belakang.
Untunglah hujan semakin reda, hanya tersisa gerimis kecil.
Air yang bergolak liar di sungai sudah melunak.
Teman-teman di belakang bisa menyeberang tanpa kesulitan berarti.
Saat melihat mereka muncul satu per satu di Pos 3, rasanya lega sekali.
Kami berkumpul lagi di tenda, berbasah-basah.
Makan siang sayur asam, ayam goreng, ikan asin dan nasi panas sudah menanti.
Kami makan lahap sekali karena kelaparan sejak tadi.
Selepas makan, kami bersiap melanjutkan perjalanan untuk turun.
Di jalan, kami bertemu dengan beberapa rombongan yang terpaksa membuka tenda di Pos 2 karena jalan ke Pos 3 terputus.
Rupanya kejadian yang mirip kami alami, terjadi juga di sungai bawah sehingga mereka tak bisa menyeberang.
Hujan rintik-rintik terus menemani kami menyusuri jalan turun berupa tangga berundak hingga ke Pos 1.
Di sana kami mendapati tiga pengemudi ojek tengah menghangatkan diri dengan api unggun.
Warung kecil di Pos 1 masih buka.
Tak ada makanan yang lebih nikmat menemani perut keroncongan, badan yang mulai lelah dan kedinginan, selain Indomie.
Hari mulai gelap.
Setelah menyantap indomie telor, kami harus mengeluarkan senter menuju ojek motor yang telah menunggu sejak siang hari.
Dari jauh, kelap-kelip lampu senter menandakan anggota rombongan kami mulai menyusul turun.
Membonceng ojek gunung turun melewati bebatuan yang basah, sebenarnya tak kalah bikin deg-degan dengan saat naik.
Tapi tubuh yang lelah mengalahkan rasa khawatir sehingga kami diam saja membonceng hingga kembali ke base camp.
Setelah membersihkan diri dan berisitrahat, satu per satu rombongan tiba.
Kendati kami sudah berkali-kali mendaki gunung sejak usia belasan tahun, pengalaman kali ini sungguh dahsyat.
Jangan pernah menganggap remeh pendakian, apapun gunungnya.
Hari itu, kami mendapat pelajaran berharga dari kegagahan Gunung Sumbing.
Perubahan cuaca yang normal terjadi membawa dampak besar pada kami.
Kami bersyukur hari itu kami semua selamat sampai di base camp.
Kami berterima kasih pada Yang Di Atas, tak ada satu pun anggota rombongan yang cedera.
Hari itu kami semakin sadar, kalau Tuhan sudah berkehendak, apapun dapat terjadi dalam sekejap.
Sebelum terlelap tidur, kami membayangkan pengalaman hari itu yang tak bakal bisa terlupa.
Keesokan harinya, kami pulang dengan sudah memiliki rencana petualangan berikutnya. (Christiantoko, mantan wartawan Kontan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/sumbing18.jpg)