Senin, 20 April 2026

Soal Pelaku Eksibisionis di Sudirman, Ini Penjelasan Pakar Psikologi Forensik

Seperti apakah pelaku eksibisionis ini dan untuk apa ia melakukan aksinya, dilihat dari sdut pandang pskilogi?

warta kota
Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel bicara soal eksibisionisme 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Polsek Metro Tanah Abang berhasil mengungkap kasus eksibisionisme oleh seorang pria di tangga Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Stasiun Sudirman, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Senin (25/10/2021).

Pelaku adalah WYS (23) yang berhasil dibekuk polisi setelah aksinya sempat viral di sosial media pada Sabtu (23/10/2021) lalu. Di mana ia menunjukkan alat kelaminnya ke korban seorang perempuan berinisial MS di dekat JPO Stasiun Sudirma.

Korban ketakutan berlari sambil menangis histeri ketika sadar pelaku beraksi.

Pelaku diketahui belum menikah dan melakukan aksinya dengan sadar. Selain itu pelaku diketahui berprofesi sebagai pengamen yang sering melintas di lokasi kejadian.

Baca juga: Pelaku Eksibisionis di Sudirman Ngaku Cuma Iseng dan Ingin Berfantasi

Baca juga: Viral di Medsos, Polisi Tangkap Pria yang Jegat Karyawati BUMN dan Masturbasi di JPO Sudirman

Seperti apakah pelaku eksibisionis ini dan untuk apa ia melakukan aksinya, dilihat dari sdut pandang pskilogi?

Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel menilai pelaku yakni WYS adalah orang yang sebenarnya merasakan perasaan rendah diri yang amat mendalam.

Orang psikologi kata Reza, mengistilahkannya sebagai inferiority complex. "Ini bukan perasaan rendah diri yang biasa, tapi perasaan rendah diri yang begitu tenggelam, yang begitu berat, begitu berkepanjangan, yang suklit untuk dihindari, yang sulit untuk diatasi pribadi yang bersangkutan," kata Reza kepada Wartakotalive.com, Kamis (28/10/2021).

Nah, kata Reza, salah satu cara bagi orang semacam itu, mengkompensasikan perasaan rendah dirinya agar kemudian dia bergeser dari posisi inferior ke posisi yang superior adalah dengan melakukan tindakan eksibisionisme. Dengan memamerkan atau memperlihatkan alat vitalnya kepada orang lain, dalam hal ini adalah kepada lawan jenis.

"Jadi dengan kata lain, sekian banya studi menunjukkan bahwa perilaku-perilaku cabul semacam ini, tidak sungguh-sungguh dilatarbelakangi oleh motif seksual, tapi justru oleh motif kepribadian yang amat sangat rendah diri alias inferiority complex," kata Reza.

Tapi pertanyaannya mengapa kemudian orang-orang semacam ini mengkompensasikan inferiority complexnya dengan cara mempertontonkan alat vitalnya?

Penjelasannya kata Reza, ada dua alasan. "Yang pertama, karena itulah cara yang-maaf-paling gampang untuk menunjukkan superioritas. Itulah cara yang paling sederhana mempertontonkan dominasi atas orang lain. Sekaligus cara yang seketika bisa membuat kaget, membuat terguncang. membuat ketakutan luar biasa pada sasarannya," papar Reza.

Alasan yang kedua, kata Reza, karena aktifitas seksual dasarnya ketika dilakukan akan memunculkan atau mengalirkan hormon tertentu, termasuk diantaranya adalah hormon endorfin.

"Ketika hormon endorfin mengalir lebih deras sebagai akibat dari aktifitas seksual, maka individu yang bersangkutan akan merasakan sensasi kebahagiaan, perasaan lapang, perasaan ceria, perasaan gembira dan perasaan-perasaan positif lainnya," ujarnya.

"Jadi sempurna sudah. Menggunakan alat viat sebagai cara menunjukkan supremasi, karena itulah cara yang paling sederhana sekaligus cara yang dalam waktu seketika akan bisa mengubah suasana hati dari yang semula kelam menjadi terang benderang. Betapapun dengan cara yang salah, betapapun dengan cara yang jahat," urainya. (bum)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved