Kolom Trias Kuncahyono
Trias Kredensial: Ganjar dan Papua
Selama berada di Papua mendampingi para atlet Jawa Tengah mengikuti PON XX, Ganjar benar-benar merasakan semangat persaudaraan, keindonesiaan.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Papua, Indonesia tulen. Bahasa Indonesia menjadi bahasa pemersatu provinsi yang memiliki 270 bahasa daerah ini.
Itu cerita Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, mengutip pernyataan para pakar di Universitas Cendrawasih, Jayapura.
Selama berada di Papua mendampingi para atlet Jawa Tengah mengikuti PON XX, Ganjar benar-benar merasakan semangat persaudaraan, keindonesiaan yang begitu indah.
Masyarakat Papua di mata Ganjar sangat ramah. Anak muda Papua juga sangat potensial.
Banyak potensi Papua yang bisa dipromosikan ke seluruh dunia yang akan berdampak pada kemajuan provinsi itu.
Masih ada persoalan, memang. Tetapi, dengan semangat kebersamaan, saling percaya sebagai sesama anak bangsa, berbagai persoalan yang ada niscaya akan bisa dipecahkan.
Baca juga: Temu Kangen dengan Ganjar, Warga Papua Akui Punya Kesan Mendalam Saat Tinggal di Semarang
Baca juga: Tiba di Bandara Sentani, Gubernur Ganjar Diminta Foto Bareng Warga
Berikut ini petikan wawancara Trias Kuncahyono dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo:
Pak Ganjar kan baru pulang dari Papua, menghadiri PON XX, mendampingi para atlet asal Jawa Tengah yang sedang berlaga di sana. Sebagai politisi, bagaimana Pak Ganjar memaknai penyelenggaraan PON di tanah Papua?
Oh, itu tidak harus sebagai politisi, Mas. Awal-awal saya jadi Gubernur, saat lagi seneng-senengnya jadi Gubernur, waktu itu yang berpotensi sebagai penyelenggara PON XX itu di Jawa Tengah.
Jangan salah. Saya ikut bidding, tahun 2014 kita mengkonsep bagaimana PON dilaksanakan di Jawa Tengah untuk PON XX ini.
Pada saat itu kita sudah siap. Venuenya, hotelnya, transportasi sampai maskot PON kita sudah buat.
Baca juga: Bocah Papua Ini Malah Dapat Rezeki Nomplok setelah Tarik Tangan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo
Nah, pada saat kita bidding, ternyata ada Bali dan Papua yang juga berminat. Maka pada saat itu kita negosiasi. Kita berembuk. Kami sudah presentasi, dan mendapat sambutan baik. Tak pikir saya (Jateng) yang menang, ternyata tidak.
Ternyata Bali berminat. Papua berminat, maka saya telepon sana, telepon sini. Akhirnya, kita lepas. Semua untuk Papua. Itu sejarahnya. Secara umum seperti itu.
Waktu ikut bidding, lalu melepas untuk Papua saja. Apa alasannya, Pak?
Kalau kita membandingkan hotel dengan hotel, venue dengan venue, transportasi dengan transportasi, Papua tidak akan menang dengan Jawa Tengah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/trias-ganjar-1510.jpg)