Muhammad Kece Dianiaya, PBHM: Karena Napoleon Dibiarkan Miliki HP di Dalam Rutan Bareskrim

"Terbukti bahwa Napoleon selama ini bisa mengakses informasi media sosial berupa YouTube meski di dalam rutan,"

Ist
Youtuber Muhammad Kece 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Pusat Bantuan Hukum Masyarakat (PBHM) menyesalkan terjadinya penganiayaan terhadap Muhammad Kosman alias Muhammad Kece oleh Irjen Pol Napoleon Bonaparte di dalam Rutan Bareskrim Polri.

Penganiayaan sesama tahanan rutan itu, menurut PBHM sedikit banyak karena adanya pembiaraan dan keistimewaan yang diberikan Polri terhadap Napoleon Bonaparte.

Ketua PBHM Ralian Jawalsen meminta agar Kapolri bertanggung jawab atas penganiayaan yang dilakukan Napoleon terhadsl Muhammad Kece.

"Juga Direktorat Tahanan Bareskrim Polri harus bertanggungjawab, karena tidak bisa memberi rasa nyaman dan aman kepada para tahanan di rutan mereka," kata Ralian kepada Wartakotalive.com, Senin (20/9/2021).

"Terbukti bahwa Napoleon selama ini bisa mengakses informasi media sosial berupa YouTube meski di dalam rutan. Ini membuktikan Napoleon tahanan yang sangat diistimewakan karena masuknya telepon seluler ke dalam tahanan tidak diperbolehkan. Faktanya, Napoleon bisa menikmati fasilitas ini," tambah Ralian.

Menurut Ralian, hal itu berdasarkan surat pernyataan Napoleon yang beredar terkait kasus ini.

Dimana poin 4 menyebutkan alasan Napoleon menganiaya Muhammad Keca, karena sangat menyayangkan jika sampai saat ini pemerintah belum juga menghapus semua konten di media sosial, yang telah dibuat dan dipublikasi oleh manusia-manusia tak beradab itu, termasuk Muhammad Kece.

"Bagaimana bisa Napoleon mengeluarkan pernyataan seperti itu, kalau tidak menonton sosial media atau YouTube. Diduga dia memiliki fasilitas minimal berupa HP," ujar Ralian.

Ia menjelaskan Napoleon Bonaparte sudah divonis hukuman empat tahun penjara karena terlibat kasus suap Djoko Tjandra.

Sehingga seharusnya ia sudah dilimpahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Mako Brimob Kelapa Dua Depok Jawa Barat.

"Napoleon seharusnya sudah masuk di Lapas, bukan lagi sel tahanan atau Rutan Polri. Kenapa masih di dalam sel tahanan?," tanya Ralian.

Karenanya hal itu katanya penganiayaan terhadap Muhammad Kece oleh Napoleon terjadi.

"Tidak boleh terjadi penganiayaan di dalam sel tahanan. Karena seharusnya pimpinan dan penjaga tahanan, serius untuk menjaga keselamatan para tahanan, di sana," ujarnya.

Diketahui, Irjen Pol Napoleon Bonaparte adalah Perwira tinggi Polri yang ditahan dalam kasus suap Djoko Tjandra. Napoleon terbukti menerima suap sebanyak 350.000 Dolar Amerika Serikat (RP 5,137 miliar) dan 200.000 Dolar Singapura (Rp 2,1 miliar).

Napoleon sudah divonis empat tahun penjara dengan denda Rp 100.000.000,- dan subsider enam bulan kurungan oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, tertanggal 10 Maret 2021 Nomor 46/PID.SUS-TPK/2020/PM.JKT.PST.

Lalu dikuatkan lagi oleh Pengadilan Tinggi Jakarta pada putusan banding yang diajukan oleh Napoleon, dan banding ditolak.

Majelis hakim menyatakan terdakwa Irjen Pol Napoleon Bonaparte terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagai yang tercantum dalam Pasal 5 ayat 2 jo pasal 5 ayat 1 huruf a UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi junto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.(bum)

Sumber: Warta Kota
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved