Breaking News:

Identifikasi Jenazah WNA Nigeria Korban Lapas Tangerang, Tunggu Data Pembanding

Data pembanding yang dimaksud adalah sampel DNA antemortem dari warga negara asing (WNA) asal Nigeria tersebut.

Penulis: Ramadhan L Q | Editor: Budi Sam Law Malau
Warta Kota
Jenazah korban kebakaran Lapas Kelas I Tangerang, Banten bermama Sumatri Jaya Prana diambil pihak keluarga di RS Polri Kramat Jati Selasa (14/9/2021). 

WARTAKOTALIVE.COM, KRAMAT JATI - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri masih menunggu data pembanding dari keluarga jenazah Samuel Machado Nhavene, yang menjadi korban kebakaran Lapas Kelas 1 Tangerang.

Hal tersebut disampaikan Komandan Operasi DVI Kebakaran Lapas Kelas 1 Tangerang, Kombes Hery Wijatmoko, Jumat (17/9/2021).

Data pembanding yang dimaksud adalah sampel DNA antemortem dari warga negara asing (WNA) asal Nigeria tersebut.

“Masih menunggu data (DNA) dari keluarga WNA,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (17/9/2021).

Pihak keluarga Samuel katanya berencana untuk menyerahkan data DNA antemortem yang dicocokkan dengan data DNA postmortem ke Tim DVI melalui Kedutaan Besar Nigeria untuk Indonesia.

“Ditjen Pas Kemenkumham sudah bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri untuk berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Nigeria untuk dapat data pembanding DNA antemortem Samuel,” kata Hery.

Seperti diketahui, jenazah Samuel saat ini masih berada di ruang instalasi kedokteran forensik RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

Tempat tersebut merupakan Posko Postmortem operasi DVI Kebakaran Lapas Kelas 1 Tangerang.

Sementara itu, proses identifikasi terhadap satu jenazah WNI atas nama Bambang Guntara Wibisana yang proses identifikasinya sempat belum rampung telah menunjukkan hasil.

Hery mengatakan, jenazah Bambang sudah dinyatakan teridentifikasi, lalu kini jasadnya dapat diambil oleh pihak keluarga.

"Penyerahan jenazahnya tergantung pihak keluarga," katanya.

Sebelumnya sejak Rabu (15/9/2021), Tim DVI memang menyatakan bahwa jenazah Samuel dapat dikenali berdasar pemeriksaan medis di Posko Postmortem, tapi belum dinyatakan 100 persen teridentifikasi.

Alasannya dalam metode DVI terdapat tiga parameter primer identifikasi, yakni sidik jari, gigi, dan DNA yang pada ketiganya terdapat karakter khusus penunjuk identitas seseorang.

Sementara pemeriksaan medis bersifat data sekunder atau penunjang sehingga Tim DVI hingga kini belum menyatakan jenazah teridentifikasi secara penuh dan bisa diambil pihak keluarga. (m31)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved