Berita Nasional

Penghafal Quran Tutup Telinga Dicap Radikal hingga ISIS, Tifatul Minta Buzzer Hormati Firman Tuhan

Beragam tanggapan dituliskan masyarakat terkait alasan para santri menutup kuping yang diduga karena tak ingin mendengarkan musik

Editor: Feryanto Hadi
Twitter @David_Wijaya03
Para santri terlihat menutup telinga ketika menunggu giliran vaksinasi covid-19. 

Sementara itu, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Tifatul Sembiring menyayangkan adanya bullying terhadap para santri dalam video itu.

Baca juga: Prasojo Tercengang Heran Saksikan Ratusan Burung Pipit Berjatuhan dan Mati secara Misterius

Ia menjelaskan, dalam menghafal Alquran, seorang santri membutuhkan konsentrasi tinggi.

Bahkan, dia tidak memungkiri, guru melarang santri mendengarkan musik atau menonton film agar santri bisa berkonsentrasi menghafal Alquran.

"Seorang penghafal Al-Qur'an (hafidz) cerita, pernah sekali nonton film Kungfu, akibatnya hafalannya hilang 1 juz. Menghafal Al-Qur'an itu butuh perhatian dan konsentrasi tinggi," tulisnya di Twitter, Rabu (15/9/2021).

Tifatul meminta kepada pihak yang disebutnya buzzer, agar minimal menghormati firman Tuhan meskipun mereka tidak mengerti apa tujuan santri penghafal Alquran itu menutup telinga.

"Meski buzzeRp nggak ngerti, paling tdk hormati pemelihara Firman Allah swt," imbuhnya

Tanggapan Gus Nadir

Dosen Fakultas Hukum Universitas Monash itu pun mengingatkan agar netizen tidak serta merta menyebut para santri serupa dengan Taliban, ISIS, Al Qaeda dan Wahabi Takfiri.

Baca juga: Cara Duduk Ustaz Abdul Somad Bikin Salah Fokus, Satu Kakinya Diangkat Ketika Duduk di Atas Kursi

Baca juga: Kekayaan Naik Rp8,9 Miliar, Roy Suryo Minta Jokowi Bagikan Kiat Sukses: Ekonomi Kita Meroket Beneran

Hal tersebut disampaikan pria yang akrab disapa Gus Nadir itu lewat status Twitternya @na_dirs; pada Selasa (14/9/2021).

"Gak harus buru2 dianggap kayak Taliban. Hukumnya mendengarkan musik itu ada ulama yg blg haram, dan ada yg bolehin. Kita hormati saja. Bagi yg bilang boleh, alasannya ada di gambar: Syekh Yusuf Qaradhawi, Kitab Nailul Awthar dan al-Fiqhul Islami Syekh Wahbah," tulis Gus Nadir.

Dirinya memaparkan, ulama yang berbeda pendapat tentang mendengarkan musik latanya memiliki dasar rujukan.

Bagi mereka yang menyebut mendengarkan musik adalah harap karena musik dinilai dapat membuat hilang hafalan Al Quran. 

"Ulama yg bilang haram juga punya dasar rujukan. Pada titik ini ya kita saling hormat saja thd pilihan yg berbeda," tulis Gus Nadir.

"Bagi yg bilang haram, mendengarkannya dianggap berdosa & bisa membuat hafalan Quran menjadi lupa. Bagi yg blg boleh, mendengarkan musik dapat melalaikan utk murajaah," jelasnya.

Oleh karena itu, sikap yang ditunjukkan para santri menurutnya sangat bagus.

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved