Kolom Trias Kuncahyono

Menanti Kabul Baru

Apakah Taliban akan tetap berwajah sama ketika berkuasa dalam Rezim Taliban Jilid 1: menindas kaum perempuan secara brutal, juga kelompok etnik?

Foto AP
Taliban delegation from the peace talks between the US and Taliban. Mullah Abdul Ghani Baradar (right). 

Selain itu, mereka juga akan menghadapi perlawanan bersenjata dari kelompok lain, seperti sekarang ini, yang menolak ideologi Taliban dan berbeda haluan politik.

Kelompok bersenjata—di luar Taliban—sekarang lebih terorganisasi,  tidak hanya terorganisir, diperlengkapi, dan dilatih dengan lebih baik daripada tahun 2001, dan memiliki jaringan yang lebih erat dengan pendukung internasional.

Rakyat Afghanistan pun, yang sekarang sudah terbiasa dengan internet dan terhubung dengan dunia luar, akan jauh lebih sulit dikendalikan.

II

Mawlawi Hibatullah Akhundzada, pemimpin tertinggi Taliban (foto: istimewa)

Akan seperti apakah Rezim Taliban Jilid Dua nanti?

Itu akan sangat tergantung pada tokoh sentral mereka. Yakni pemimpin tertinggi Taliban Mawlawi Hibatullah Akhundzada, yang hingga kini masih “misterius”, belum tampil.

Tokoh generasi pertama Taliban ini—ikut mendirikan Taliban pada tahun 1994 bersama Omar Mullah di Kandahar—adalah pemimpin tertinggi Taliban yang ketiga.

Pemimpin pertama Taliban Omar Mullah meninggal tahun 2013, tetapi baru diumumkan tahun 2015; yang kedua adalah Mullah Akhtar Mansour (yang tewas dalam serangan udara AS dengan menggunakan drone, dalam perjalanan dari Iran menuju Taftan, kota perbatasan Pakistan, pada tanggal 21 Mei 2016).

Akhundzada mulai memimpin tahun 2016, ketika Taliban menghadapi krisis perpecahan.

Ia seperti para dua pendahulunya—sesuai dengan tradisi Taliban yang “menyembunyikan” pemimpinnya—tak pernah tampil.

Dahulu, Mullah Omar jarang pergi ke Kabul, ketika Taliban berkuasa. Ia tetap tinggal di  Kandahar, tempat kelahiran Taliban

Walau tidak tinggal di Kabul, kata-katanya yang dikeluarkan di Kandahar adalah hukum yang harus ditaati.

Ada pendapat bahwa ketidak-munculan Akhundzada karena alasan keamanan. Ini berangkat dari pengalaman pendahulunya, Mullah Mansour yang tewas dalam serangan udara.

Setelah Mullah Mansour tewas, terjadi pertarungan kekuasaan untuk memperebutkan posisi puncak itu.

Saat itulah, terungkap bahwa ternyata Mullah Omar sudah meninggal.

Sumber: WartaKota
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved