Sabtu, 11 April 2026

Olimpiade Tokyo

Denir: Apriyani Rahayu Ditinggal Ibunya Saat Bertanding di Kejuaraan Dunia Junior BWF 2015 di Peru

Baginya, kejuaraan yang paling berkesan yang ia banggakan dari Apriyani bukan hanya medali emas Olimpiade Tokyo, melainkan kejuaraan dunia 2015 lalu

Penulis: RafzanjaniSimanjorang |
Warta Kota/Rafsanzani Simanjorang
Denir, tante dari Apriyani Rahayu ceritakan Apriyani Rahayu ditinggal Ibunya saat bertanding di Kota Lima, Peru tahun 2015 

Laporan Reporter WARTAKOTALIVE.COM, Rafsanzani Simanjorang

WARTAKOTALIVE.COM, AKARTA - Apriyani Rahayu, atlet bulu tangkis ganda putri asal dusun Lawulo, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara baru saja meraih medali emas Olimpiade Tokyo.

Bagi seorang atlet, meraih medali emas Olimpiade merupakan prestasi yang tertinggi yang bisa diberikan untuk negara.

Tak heran jika negara Indonesia memberikan apresiasi setinggi-tingginya bagi pahlawan olahraga tersebut.

Namun, sudut pandang berbeda diberikan oleh sosok Denir, tante dari Apriyani Rahayu.

Baginya, kejuaraan yang paling berkesan yang ia banggakan dari Apriyani bukan hanya medali emas Olimpiade Tokyo, melainkan kejuaraan dunia junior 2015 di Kota Lima, Peru.

Apriyani Rahayu saat itu bermain di nomor ganda campuran berpasangan dengan Fachryza Abimanyu yang menjadi unggulan kelima. 

Pasangan ganda putri Indonesia Greysia Polii/Apriyani Rahayu usai menerima medali emas diatas podium kehormatan di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Jepang, Senin (2/8/2021)
Pasangan ganda putri Indonesia Greysia Polii/Apriyani Rahayu usai menerima medali emas diatas podium kehormatan di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Jepang, Senin (2/8/2021) (NOC Indonesia)

Apriyani/Fachryza masuk ke babak semifinal tapi kalah dari wakil China, He Ji Ting/Du Ye dua gim langsung 13-21, 10-21 dalam waktu 23 menit. 

Apriyani akhirnya meraih medali perunggu di kejuaraan dunia junior di Kota Lima, Peru, saat itu pula ia kehilangan ibunya untuk selama-lamanya.

Denir mengisahkan Siti Djauhar ibu dari Apriyani Rahayu menghembuskan nafas terakhir saat anak bontotnya itu tengah menjalankan pertandingan.

Bahkan, menurut Denir, Apriyani sengaja tidak diberitahu langsung karena khawatir mengganggu konsentrasi saat pertandingannya.

"Saat itu saya kebetulan ada di kampung. Pas Apri tiba, dia sedihnya tak bisa diomongin. Pas dia tahu ibunya meninggal dan dia turun dari mobil langsung menangis ditengah keluarga besarnya," ujar Denir.

Apriyani Rahayu selalu menyempatkan berziarah ke makam Ibunya Siti Djauhar yang wafat pada tahun 2015, sebelum berangkat ke Olimpiade Jepang Apriyani juga hadir dan mohon doa restu ke makam ibunya
Apriyani Rahayu selalu menyempatkan berziarah ke makam Ibunya Siti Djauhar yang wafat pada tahun 2015, sebelum berangkat ke Olimpiade Jepang Apriyani juga hadir dan mohon doa restu ke makam ibunya (Instagram)

Bahkan Apriyani pun tidak sempat melihat ibunya untuk terakhir kalinya, karena saat Apriyani tiba, almarhum ibunya telah dimakamkan.

Kehilangan sosok ibu, Apriyani Rahayu tetap mampu bangkit, seakan membuat almarhum ibunya bangga.

Empat tahun berikutnya Apriyani yang turun di nomor ganda putri berhasil menjuarai India Open 2019 bersama Greysia Polii.

Di final Greysia/Apriyani mengalahkan pasangan Malaysia Chow Mei Kuan/Lee Meng Yean dalam dua gim 21-11, 25-23 dalam waktu 51 menit di K.D. Jadhav Indoor, New Delhi, India.

Hal itu pula yang membuat Denir bangga, dimana Apriyani mampu bangkit dan membuktikan tekadnya tampil sebagai juara setelah empat tahun kehilangan sosok Ibunya.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved