Kamis, 28 Mei 2026

Novel Baswedan: Dewan Pengawas KPK Terlalu Senior, Mudah Dikelabui Pihak Terperiksa

Novel mengaku khawatir para anggota Dewan Pengawas KPK telah dikelabui beberapa orang saat memeriksa aduan pegawai.

Tayang:
TRIBUNNEWS/GITA IRAWAN
Novel Baswedan mengomentari perbedaan temuan antara Dewan Pengawas KPK dan Ombudsman, terkait tes wawasan kebangsaan pegawai KPK. 

WARTAKOTALIVE, JAKARTA - Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mengomentari perbedaan temuan antara Dewan Pengawas KPK dan Ombudsman.

Dewan Pengawas KPK menyatakan tujuh laporan dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan pimpinan KPK dalam pelaksanaan tes wawasan kebangsaan (TWK), tidak terbukti.

Sementara, Ombudsman menyimpulkan terjadi maladministrasi berlapis-lapis dalam perencanaan hingga pelaksanaan TWK.

"Tentunya kita berharap beliau tidak mempermalukan dirinya sendiri dengan hal-hal yang seperti itu."

"Poinnya adalah ketika masalah seperti persekongkolan dan ini tidak direspons dengan sungguh-sungguh."

"Maka kita seperti membiarkan KPK ingin dirusak," ucap Novel dalam jumpa pers virtual, Sabtu (24/7/2021).

Novel mengaku khawatir para anggota Dewan Pengawas KPK telah dikelabui beberapa orang saat memeriksa aduan pegawai.

"Saya juga bisa jadi berpikir kalau beliau-beliau karena terlalu senior, beliau mudah dikelabui oleh pihak-pihak yang terperiksa."

"Saya khawatirnya itu," tuturnya.

Novel berpendapat, saat menyampaikan jawaban atas laporan dugaan pelanggaran kode etik, Dewan Pengawas malah terkesan menjadi pembela pimpinan KPK.

Menurutnya, sikap tersebut bukan kali ini saja terlihat.

Dalam laporan dugaan penerimaan gratifikasi penggunaan helikopter oleh Ketua KPK Firli Bahuri, kata Novel, kejadiannya juga sama dengan laporan mengenai pelaksanaan TWK.

Novel juga menyayangkan pernyataan Dewas KPK, dugaan pelanggaran kode etik dalam pelaksanaan TWK tidak cukup bukti, sehingga tidak bisa dilanjutkan ke sidang etik.

Padahal, perbuatan dan bukti-buktinya sudah jelas.

Ia pun mempertanyakan kompetensi Dewan Pengawas KPK.

“Apakah beliau-beliau tidak punya kompetensi melakukan pemeriksaan atau pendalaman, investigasi?"

"Saya, kok, kurang yakin ya,” ucap Novel.

"Fakta dan bukti yang sama telah kami berikan kepada Dewan Pengawas KPK, tetapi justru tidak direspons sebagaimana seharusnya lembaga pengawasan.""

"Jauh berbeda dengan Ombudsman yang berani dan jujur merespons sebagai masalah yang serius," beber Novel lewat keterangan video, Sabtu (24/7/2021).

Padahal, menurut Novel, hasil kerja Ombudsman atas pemeriksaan terhadap masalah TWK pada alih status pegawai KPK, sudah sangat terang dan jelas.

Ia pun berani mengatakan Ombudsman sangat berintegritas.

Katanya, hasil pemeriksaan Ombudsman telah menemukan banyak perbuatan pelanggaran hukum dan pelanggaran etik yang dilakukan oleh pimpinan dan pejabat di KPK, bersama oknum lainnya.

Yaitu, perbuatan penyalahgunaan kewenangan, pelanggaran prosedur, dan tindakan tidak patut.

Bahkan, dikatakannya, beberapa berpotensi sebagai tindak pidana.

"Dua hal penting yang bisa kita garis bawahi, yaitu terungkapnya persekongkolan untuk menyingkirkan pegawai-pegawai yang bekerja baik atau berintegritas dari KPK."

"Dan bukti bahwa Ombudsman bekerja profesional dengan dasar integritas," ucap Novel.

Ia juga mempertanyakan apakah Ketua KPK Firli Bahuri akan peduli terhadap korektif yang disampaikan Ombudsman, setelah Firli mengabaikan arahan Presiden Jokowi dan putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

"Bila itu pun diabaikan, maka Presiden harus tidak boleh membiarkan, karena pemberantasan korupsi tidak bisa dilakukan oleh orang yang sering melanggar atau tidak taat hukum, dan tidak jujur."

"Ini bukan hanya masalah lembaga KPK, tetapi ini masalah negara," tegas Novel.

Beda Pendapat

Dewas KPK menyatakan tidak cukup bukti adanya pelanggaran etik oleh pimpinan KPK, atas tujuh butir aduan para pegawai KPK, sehingga pengaduan itu tidak dapat dilanjutkan ke tahap sidang etik.

Sedangkan Ombudsman mengatakan pimpinan KPK melakukan malaadministrasi dalam peralihan status pegawai KPK menjadi ASN setidaknya dalam tiga proses.

Pertama, dalam perumusan kebijakan peralihan pegawai KPK menjadi ASN.

Kedua, proses pelaksanaan peralihan pegawai KPK menjadi ASN, dan ketiga penetapan hasil asesmen TWK.

Ketua Dewas KPK Tumpak Hatorangan Panggabean mengatakan, perbedaan tersebut bisa saja terjadi karena ketidaksamaan tugas dan kewenangan Dewas KPK dan Ombudsman.

"Dewas sesuai dengan tugasnya sebagaimana yang diatur dalam pasal 37B UU Nomor 19 Tahun 2019."

"Dalam melakukan pemeriksaan terhadap laporan ini membatasi hanya tentang dugaan pelanggaran kode etik dan pedoman perilaku sebagaimana yang dilaporkan dari sisi etik dan tidak meliputi substansi," ujar Tumpak.

Sedangkan Ombudsman berfungsi mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik yang dilakukan penyelenggara negara dan pemerintahan, baik di pusat maupun di daerah, termasuk BUMN serta badan swasta atau perseorangan yang diberi tugas menyelenggarakan pelayanan publik tertentu.

Perbedaan pertama adalah pendapat mengenai proses pembentukan kebijakan peralihan pegwai KPK menjadi ASN.

Pegawai KPK melaporkan Ketua KPK Firli Bahuri menyisipkan pasal mengenai pelaksanaan TWK dalam rapat pimpinan 25 Januari 2021 untuk dimasukkan ke dalam draf Peraturan Komisi (Perkom) Nomor 01 Tahun 2021.

"Ketentuan mengenai TWK merupakan masukan dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) yang pertama kali disampaikan pada rapat 9 Oktober 2020 serta rapat harmonisiasi Kemenpan RB dan BKN," kata anggota Dewas KPK Harjono.

Menurut Dewas KPK, pihak yang pertama kali mengusulkan TWK adalah Badan Kepegawaian Negara (BKN) pada rapat harmonisasi Oktober 2020.

Dalam rapat tersebut, menurut Dewas, Wakil Kepala BKN telah memberikan tanggapan, di antaranya (1) agar terhadap syarat setia pada Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan pemerintahan yang sah, perlu dipertimbangkan kembali.

Apakah cukup hanya dengan menandatangani pakta integritas dan (2) Kesetiaan pada Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan pemerintahan yang sah terhadap pegawai KPK belum pernah dilakukan pengukuran/seleksi.

Dengan begitu, Dewas menyatakan tidak benar ada dugaan pasal TWK merupakan pasal yang ditambahkan oleh Firli Bahuri dalam rapat 26 Januari 2021 di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

Rapat itu dilakukan Firli bersama Kemenkumham, BKN, LAN, KASN, dan Kemenpan RB.

Saat itu hadir Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron, sementara Sekjen KPK Cahya Hardianto Harefa menunggu di luar ruangan, karena ada pembatasan peserta akibat pandemi Covid-19.

Sedangkan menurut Ombudsman, klausul soal TWK itu baru muncul pada Januari 2021.

Ombudsman mengatakan asesmen berbentuk TWK dilakukan dengan menyisipkan klausul baru pada akhir-akhir harmonisasi.

Merujuk Permenkumham Nomor 23 Tahun 2018, proses harmonisasi cukup dihadiri jabatan pimpinan tinggi (JPT), pejabat administrator, dan perancang.

Artinya, rapat harusnya dipimpin oleh Dirjen Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham yang saat itu dijabat oleh Widodo Ekatjahjana.

Namun pada rapat 26 Januari 2021 atau pada rapat terakhir harmonisasi, rapat dihadiri langsung Ketua KPK Firli Bahuri, Kepala BKN Bima Haria Wibisana, dan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) Adi Suryanto.

Juga, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Tjahjo Kumolo, dan Menkumham Yasonna H Laoly.

Bahkan, lima orang pimpinan lembaga dan kementerian yang hadir itu tidak menandatangani berita acara harmonisasi.

Pihak yang menandatangani berita acara, yaitu Kabiro Hukum KPK dan Direktur Perundangan Kemenkumham, malah tidak hadir.

Selain itu, menurut Dewas, sudah ada sosialisasi TWK kepada para pegawai KPK melalui zoom meeting pada 17 Februari 2021 oleh Firli Bahuri, Nurul Ghufron, Cahya Harefa, Kabiro SDM KPK Chandra Sulistio Reksoprodjo, serta Kabiro Hukum KPK Ahmad Burhanuddin.

Sosialisasi membahas syarat untuk mengikuti TWK bagi seluruh pegawai KPK.

Sedangkan menurut Ombudsman, KPK terakhir kali menyebarluaskan informasi mekanisme alih status pegawai pada 16 November 2020, atau pada awal penyusunan perkom.

Sehingga, informasi mengenai TWK tidak disebarkan lagi, sehingga kanal agar pegawai mengetahui dan menyampaikan aspirasi tidak ada.

Perbedaan kedua adalah mengenai proses pelaksanaan TWK.

Dewas menerangkan bahwa alat ukur yang digunakan dalam TWK adalah Tes IMB - 68 (68 pertanyaan) dan Integritas, dalam pertanyaan tertutup yang dilaksanakan oleh Dinas Psikologi Angkatan Darat (DISPSIAD) dan Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI.

Sebelum IMB 68 diputuskan sebagai salah satu alat ukur dalam TWK, BKN melakukan rapat dengan mengundang BNPT dan Dinas Psikolog AD, untuk membahas lebih lanjut dari seluruh komponen tes dan memastikan tes tersebut tepat untuk digunakan.

Berdasarkan hasil rapat tersebut, Kepala BKN memutuskan IMB 68 kemudian menjadi salah satu alat ukur yang digunakan untuk melakukan TWK.

Sedangkan menurut Ombudsman, BKN tidak memiliki alat ukur, instrumen, dan aseseor untuk melaksanakan asesmen tersebut.

BKN hanya menggunakan instrumen yang dimiliki DISPSIAD, namun tidak memiliki atau menguasai salinan dokumen Keputusan Panglima Nomor Kep/1078/XII/2016 yang mengatur petunjuk pelaksanaan penelitian tersebut.

Apalagi, menurut Ombudsman, Nota Kesepahaman Pengadaan Barang dan Jasa antara Sekjen KPK dan Kepala BKN ditandatangani pada 8 April 2021, sedangkan kontrak Swakelola pada 25 April 2021.

MoU dan kontrak itu dibuat dengan tanggal mundur (back date) menjadi 27 Januari 2021.

Padahal, asesmen TWK dimulai pada 9 Maret 2021, yaitu sebelum adanya penandatanganan nota Kesepahaman dan Kontrak Swakelola.

Perbedaan ketiga adalah dalam proses penetapan hasil.

Dewas KPK berpendapat pimpinan KPK tidak dapat mengusulkan pengangkatan pegawai KPK menjadi ASN kepada BKN untuk memperoleh Nomor Induk Pegawai (NIP), tanpa mendapatkan penetapan formasi dari Kemenpan RB.

Dengan demikian, tidak benar dugaan pimpinan KPK tidak mengindahkan putusan MK Nomor: 70/PUU-XVII/2019 yang menyebut alih status pegawai KPK tidak boleh merugikan hak pegawai KPK.

Karena, pada 1 Juni 2021 tidak ada pegawai yang tidak memenuhi syarat (TMS) yang diberhentikan oleh pimpinan KPK, dan sampai dengan saat ini masih dapat bekerja seperti biasa berdasarkan perintah dari atasan langsung.

Lebih lanjut, pimpinan KPK walau telah memperoleh hasil TWK, menurut Dewas, masih tetap berupaya untuk memperjuangkan agar seluruh pegawai KPK dapat diangkat sebagai ASN.

Hal tersebut dibuktikan dengan dilakukannya rapat koordinasi pada 25 Mei 2021 dengan Kemenpan RB, BKN, Kemenkumham, LAN, dan KASN.

Hasil rapat koodinasi 25 Mei 2021, memutuskan sebanyak 24 pegawai yang dinyatakan tidak memenuhi syarat dapat diangkat sebagai pegawai ASN, setelah mengikuti dan lulus pelatihan bela negara yang diselenggarakan oleh Kemenhan.

Dewas menyebut tidak ada pernyataan dari Sekjen KPK maupun pimpinan, yang mengatakan pegawai yang tercantum dalam SK Nomor 652 Tahun 2021 mengenai pegawai KPK yang tidak memenuhi syarat, dinonaktifkan dari pekerjaannya atau diberhentikan dari KPK.

Padahal, Ombudsman mengatakan penetapan hasil TWK, yaitu melalui Surat Keputusan Ketua KPK Nomor 652 Tahun 2021 yang menetapkan 75 pegawai TMS adalah tindakan malaadministrasi.

Karena, bertentangan dengan putusan MK dan bentuk pengabaian KPK terhadap pernyataan Presiden Joko Widodo.

Bahkan, berita acara penetapan hasil TWK yang memutuskan untuk memberhentikan pegawai KPK ditandatangani oleh Ketua KPK, Menpan RB, Menkumham, Kepala BKN, dan Kepala LAN, meski kelimanya tidak ikut dalam proses asesmen.

Dengan adanya malaadministrasi dalam proses penyusunan Peraturan KPK Nomor 01 tahun 2021, proses pelaksanaan TWK dan penetapan hasil TWK, Ombudsman meminta ada tindakan korektif dari pimpinan KPK.

Yakni, 75 pegawai yang dinyatakan TMS, dialihkan statusnya menjadi ASN sebelum 30 Oktober 2021. (Ilham Rian Pratama)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved