PPKM Darurat
Pendapatan Menurun Hingga 90 Persen, Pemilik Warteg 'Kucing-kucingan' dengan Petugas PPKM Darurat
"Tidak boleh makan ditempat, karyawan sekitar sini banyak yang dirumahkan, ya sudah makin abis pelanggan saya," kata Amanda.
Penulis: Gilbert Sem Sandro | Editor: Dedy
WARTAKOTALIVE.COM, TANGERANG --- Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang diterapkan pemerintah membuat banyak pihak harus pandai mencari solusi untuk dapat tetap bekerja.
Seperti dilakukan Amanda, pemilik rumah makan Warteg Kharisma Bahari di Kota Tangerang.
Selama masa PPKM Darurat, penghasilan Amanda dari membuka warteg mengalami penurunan sangat jauh hingga 90 persen.
Penyebabnya Amanda dan pelaku usaha lainnya tidak diizinkan pelanggan makan di tempat dan mewajibkan pedagang seperti dirinya menutup usaha pukul 20.00 WIB.
Padahal sebagian besar pelanggannya yang datang ke rumah makannya adalah driver ojek online (Ojol) yang biasa makan di tempat.
Namun karena peraturan selama PPKM Darurat mengharuskan pelanggan membungkus pesanan banyak dari mereka enggan untuk makan di warteg miliknya.
"Pelanggan saya seperti itu meminta untuk makan ditempat, tidak mau jika dibungkus. Soalnya kan tidak mungkin ojol pesan makan buat dibungkus, mau makan dimana mereka," ujar Amanda saat di wawancarai Wartakotalive.com, Selasa(20/7/2021).
Selain driver ojek oline, pelanggan lain Amanda merupakan karyawan yang bekerja sekitar wartegnya.
Namun, karena banyak perusahaan yang tutup selama PPKM Darurat, lagi-lagi Amanda terkena imbasnya secara tidak langsung, karena pelanggan semakin berkurang.
"Tidak boleh makan ditempat, karyawan sekitar sini banyak yang dirumahkan, ya sudah makin abis pelanggan saya," kata Amanda.
Khawatir pendapatannya semakin berkurang, Amanda mulai mencari cara untuk tetap mendapat pelanggan.
Mau tidak mau Amanda 'kucing-kucingan' atau diam-diam melayani pelanggan makan di tempat sambil memastikan situasi.
Karena menurutnya, Amanda sudah mulai menghafal jadwal patroli petugas, yaitu saat jam makan pagi, siang atau pun malam.
"Kalau ada orang yang ingin makan di tempat, saya pastikan dulu ini jam berapa, apabila situasi aman saya kasih makan di tempat. Tapi jika pagi atau malam hari, saya tidak melayani makan ditempat, karena sudah pasti ada petugas yang berkeliling, saya jadi nggak berani," jelas Amanda.
Jika kedapatan petugas warung Amanda melayani pelanggan makan di tempat, ia hanya berdalih karena satu atau dua pelanggan saja yang berada di dalam ruangan, sehingga tidak mungkin menimbulkan kerumunan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/pemilik-rumah-makan-alami-penurunan-pendapatan.jpg)